Kamis, 14 September 2017

Mencari Takdir


Mencari Takdir

Sayang,
pernahkah melintas dalam benakmu
suatu kejadian yang kau sangkakan itu takdir?

Bukankah hari masih terlalu pagi
untuk secepat itu berpasrah diri,

kita engkau dan aku masih terus berjalan
menumpang di sebuah kereta waktu
yang kecepatannya penuh dalam kendali rasa dan pikiran
dan sesekali dari jendela menyapa resah sepoi haru.

Apa kita telah kehabisan daya
untuk sekedar menelusuri kembali
jejak-jejak sebelum takdir menyapa
suatu akibat dari suatu sebab hingga hakiki?

Tak mengapa, jikapun persangkaanmu benar,
takdir tak 'kan datang sendiri,  sayang
gelisah, semilir, belaian, sejuk hingga dada, ialah pengantar
kabar yang semua hanya cinta kasih dan sayang.

Namun, mata jiwa kita lebih kerap memejam
ditangkup kelopak nafsu gelap gulita dan kelam
hingga bertambah lagi
dan tak tersentuh lagi

semerbak cinta yang dikandung kalam
ditebar ke segala penjuru
dari atas kapas awan yang melayang-layang hitam
diantara anggun dan tenang gemunung biru

dan damainya alam raya
tunduknya semesta jiwa
tak mampu lagi
mengguncang hati

yang beku
membujur kaku

Mayoe
Yogyakarta, 14 September 2017

0 Komentar:

Posting Komentar