![]() |
Foto diambil dari IG @ardinarasti6 |
Tadi saat perjalanan mengantar
kopi @maxlare.co di salah satu outlet ekspedisi pengiriman, kulewati gang rumah
seorang yang dulu pernah kutaksir, dan sempat PDKT. Sudah tentu seorang
gadis ya, dan jangan meragukan daya taksirku!
Saat melintas jalan yang dipotong
gang arah rumah gadis itu, di dalam dada semacam ada yang berdesir. Bahasa kerennya;
tratapan.
Sepanjang jalan jadi kepikiran.
Seiring handle gas motor semakin
kutarik ke belakang, demikian juga pertanyaan yang muncul di kepalaku, mirip letupan
yang terjadi di knalpot. Di manakah dia sekarang, sudah menikah atau belum, apa
sudah punya anak, tinggal di rumah suaminya atau masih di gang itu, dan sederet
pertanyaan lain yang ingin mengungkapkan; kangen.
Sedang asik memanjakan
pertanyaan-pertanyaan dalam lamunan dan belum sempat mencari jawaban, sebuah kesialan mengagetkanku; sepersekian detik
motor yang kutunggangi menabrak polisi tidur cukup tinggi dengan kecepatan
lumayan laju. Ini sebuah peringatan, kalau nyetir tidak boleh melamuni mantan, apa lagi kenangan manisnya! Selain sial, itu menguras energi untuk mencari cara agar bisa balikan.
Namun dasar sistem kerja isi kepalaku
memang kurang ajar, sehabis mengumpat, justru menimbulkan pertanyaan lain yang
lebih menjerumuskan pada jurang kenangan. Apa si yang membuat tertarik pada gadis itu, sampai mau-maunya melakukan PDKT?
Bahkan sampai saat ini aku sendiri
menentang pertanyaan itu. Karena, jawaban apa yang akan diberikan oleh seorang
anak SMP kelas 3, masih cukup polos, dari udik, dan bercita-cita masuk STM yang tidak suka dan tidak akan tawuran, kecuali saat terdesak. Tapi jadi menyesal, setelah melihat STM demo dengan gagah berani dan tak gentar melawan barisan polisi di Senayan, kemarin. Kenapa juga dulu
tidak suka ikut tawuran, dasar cupu!
Lamunanku terputus, saat sampai
di outlet ekspedisi pengiriman yang dikelola beberapa santri, dan pondok pesantrennya persis ada di belakang outlet. Terlebih saat kutuliskan alamat di tubuh paketan bertujuan
Salatiga. Cepat-cepat kuselesaikan pekerjaan itu, agar bisa segera melanjutkan lamunan. Namun santri yang sedang berjaga justru membeberkan beberapa paketan yang
kukirim kemarin lusa; satu sudah transit di Jakarta dan satu lagi baru sampai
Bandar Lampung.
“Suwun mas, yang penting sudah terkirim.”
Jawabku dengan berusaha seramah mungkin.
Setelah kubayar dengan uang pas
tiga pulu dua ribu rupiah, langsung ngacir dengan berpamitan “Suwun mas, Assalamualaikum” dan
kulanjutkan melamun.
Setelah kupikir-pikir lagi, ternyata
dulu menyukainya karena sering nonton sinetron yang dibintangi mbak Ardina
Rasti. Tapi bukan karena alur cerita atau kata-kata romantis dalam sinetron
yang bikin remaja malu-malu kucing saat tahu Ia menonton tidak sendirian, melainkan
ada ibunya siap menerkam dari belakang.
Pada waktu itu aku sudah benar-benar
mengagumi mbak Ardina Rasti, kalau tidak bisa dikatakan menyukai, karena beliau
artis terkenal dan terpelajar, dan aku hanya pringas-pringis sambil belajar. Maafkan
saya mbak Ardina Rasti.
Tapi itulah risiko menjadi
bintang peran atau apapun yang berada di bawah lampu sorot media. Harus merelakan
segala respon, baik yang terungkap atau yang hanya tersimpan atau sekedar terlintas
di benak penontonnya.
Sekarang saya begitu kagum dan bertambah
setelah tahu mbak Ardina Rasti adalah seorang yang aktif membela korban kekerasan
pada perempuan, dan ternyata cucu dari bapak pers nasional; Raden Mas Djokomono
Tirto Adhi Soerjo. Bertambah satu lagi, sangat menyayangi anaknya yang lucu dan menggemaskan. Serta ter-update di akun Instagram miliknya menampilkan pesona kecantikan yang alami, tanpa polesan kosmetik keartisan. sehingga membuat aura kecantikannya semakin terasa. Duh duh ...
Saat PDKT, lha kok terbayang gadis cantik yang kutaksir itu mirip mbak Ardina Rasti. Oooo memang kebangetan, kok ya sempat pede banget, dulu itu!
Tapi sungguh, senyumnya, lirikannya,
caranya menunduk, saat Ia menoleh ke belakang, bahkan saat sebuah
kata terucap dari bibirnya, lha kok yang terbayang adegan-adegan dalam sinetron
atau iklan atau sebuah wawancara infotaiment yang fokusnya adalah wajah mbak
Ardina Rasti. Begitu juga sebaliknya, saat menonton infotaiment, iklan dan adegan-adegan
sinetron yang dibintangi mbak Ardina Rasti selalu membuat teringat dia; gadis
taksiran itu.
Lha ini suka, kagum, atau jatuh cinta jenis
apa?
Tapi mungkin beginilah cara kerja
perasaan, yang sering kita sebut cinta atau sejenisnya. Semoga yang kulakukan
dalam fikiran atas objek cerita ini, bukan bentuk upaya perusakan atau bahkan pengingkaran
terhadap sesuatu yang sedang mengikat kesetiaan.
Pantes aja dulu pas PDKT, lewat
sms hp poliponik, jawaban yang ke luar; nggih
mas, pripun mas, onten nopo mas, sampun mas, mboten mas ...
Mas-mes mas-mes tok. Lha pantes, sing tak
sir ki bakno njobo njero ayune artis je. Bedhes, kok yo pede mbiyen kae!
0 Komentar:
Posting Komentar