![]() |
Foto Oleh Mabrur M Yusup Diambil pagi di lereng gunung Sumbing di tepi jalan di antara persawahan dan ladang-ladang tembakau pada triwulan pertama 2015. |
Perjodohan ‘Mas―(ih)'
Sendiri: Pakaian Malaikat
Oleh: Mayoe
Perkenalkan saya seorang ‘Mas’ yang selalu dalam perkenalan―terutama dengan lawan jenis―memperkenalkan diri dengan ‘Mas―(ih)
Sendri’.
Kenapa ‘Mas―(ih) Sendiri’? Karena saya seorang Pendekar yang ke mana-mana harus
sendiri. Kalau bertemu di jalan cukup panggil saja ‘Mas’, kepanjangannya
kewajiban sekaligus hak saya.
Dengan itu tak banyak saya memiliki teman. Hanya beberapa
kerap datang untuk berbagi cerita atau sekedar berkelakar. Mereka golongan
teman yang cukup mengerti saya―yang ‘Mas―(ih)
Sendiri’.
Selain sekedar berkelakar, cerita kosong, kami juga sering berdiskusi
kecil-kecilan.
Bejo yang pendiam tapi frontal kerap diam-diam datang
menginginkan diskusi. Walaupun pada jalannya diskusi ia banyak diam dan
terkesan pasif. Boleh dikata ia sorang yang bertipe jika menginginkan sesuatu
keturutannya jangan melalaui maunya. Aneh memang, tapi itu lah Bejo. Pernah ia
menyukai seorang gadis di kampus lain. Mereka sudah saling kenal. Tetapi si
gadis tidak sadar disukai si Bejo. Bejo benar-benar jatuh cinta. Sampai-sampai
ia sulit tidur dari malam ke malam bulan ke bulan. Sedikit saja matanya
terpejam, hanya mata bening dan senyum malu gadis pujaan hati yang muncul di
pelupuk.
Jiwanya uring-uringan karena jatuh cinta. Bejo tidak pernah
sungguh-sungguh mengobati uring-uringannya. Tak terhitung ia telah berencana
untuk menemui saja gadis itu. Minimal untuk berobat. Tapi bukan Bejo namanya
kalau merencanakan sesuatu keinginannya tidak satu paket dengan rencana
pembatalannya sekaligus. Padahal ia bukan seorang pengecut atau lemah mental
dan juga bukan seorang yang kurang menarik hati gadis-gadis. Sebaliknya ia
pemberani, romantis, puitis dan sangat maskulin. Bahkan di kampusnya sendiri
banyak Mahasiswi-mahasiswi baik junior, senior maupun satu angkatan yang
berebut mencari perhatian Bejo. Tapi bergitulah ekstrim dan frontalnya Bejo.
“Kalau bisa, di mana pun lah ada dia (gadis pujaan hatinya), jangan sampai aku
yang lihat. Soal dia yang lihat itu bukan soal.” Ungkapnya penuh percaya diri
pada suatu malam. Dasar BEJO!!!
Seorang lagi adalah patner diskusi yang cukup alot dan
gigih. Ripin, ia biasa kami panggil. Logikanya kuat, detil dan tahan lama.
Pokoknya kalau dengar atau lihat iklan obat kuat pria, ya begitu lah Ripin.
Dengan itu pacarnya bertebaran di mana-mana. Tapi jiwanya lembut, perasaannya
halus dan setia orangnya.
“Lho, kok setia? Lha pacarnya di mana-mana e!”
“lha ya biar to. Pacar-pacar dia dan diantara mereka gak ada
yang protes. Ripin pun aman dengan kesetiaannya. Kok ribut.”
“lha itu kan bertentangan. Pacar di mana-mana kok distempeli
setia.”
“Terserah dong. Yang ngasih stempel aku dan ini cerita,
ceritaku. Repot.”
“Oke, memang ini cerita, ceritamu. Tapi kamu punya
tanggungjawab atas cerita ini. Mana tanggungjawab mu?”
“Halha ya nanti. Orang aku ‘Mas―(ih) Sendiri―’ sudah dituntut tanggungjawab. Mbok ya sabar, jangan gampang
nuntut. Malah jadi fitnah nanti.”
Bejo dan Ripin. Mereka seperti dua kutub yang berseberangan
tarik-menarik menjaga keseimbangan. Yang merupakan manifestasi Pendekar Kapak
Naga Geni 212 Wirosableng masa kini: yang berlainan namun merupakan pasangan.
Nama Bejo dan Ripin sungguh bukan yang sebenarnya. Ini
merupakan kesepakatan diantara kami untuk tidak menyulitkan panggilan. Bejo
sendiri kependekan dari Benedict Jhosep. Ripin kependekan Richard Pinckle. Dan
saya tetap Mas dari Mas(ih) Sendiri.
“Jo, punya uang lipuluh? Belum makan gak ada kopi gak ada
rokok pula.” Ripin membuka obrolan setelah memasukan bidak catur ke dalam
kotaknya.
“Ada ada, ini.” Tanpa panjang lebar Bejo mengelurkan
lembaran lima puluh ribu rupiah dari dompetnya.
Aku diam seolah tidak mendengarnya dengan menunduk menatap
fokus gawaiku. Di sana sedang berlangsung pertandingan catur antara aku dengan
CPU level 9. Ripin melangkah cari makan, kopi dan rokok ketengan. Tertinggal
aku dan Bejo.
“Bagaimana KKN mu Jo.” Tanyaku memecah kebekuan diantara
kami.
“Ya gitu. Malah diperpanjang sampai pertengahan bulan
depan.” Jawab Bejo bernada malas.
“lho kok gitu?”
“Entah, kerja mereka ya begitu lah. Padahal di kalender
akademik akhir bulan sudah selesai.”
“Dua bulan lebih jadinya Jo?”
“Ya gitu.”
“Ya sabar.”
“Aku mah sabar terus. Mana, aku pernah gak sabar.”
Aku tidak punya pilihan kata untuk menaggapi ungkapan
Bejo. Tawa kecil tanpa nada remeh sudah cukup memberi arti kepada Bejo. Begitu
berat ia menjalani hari-hari di kampusnya. Teman satu angkatan sudah lebih
banyak yang lulus dari yang belum. Terlebih teman-teman dekatnya. Sisa seorang
pun sudah menuju meja sidang Skripsi. Sedang Bejo janganpun menggarap Skripsi,
proposalnya saja selalu terbentur meja pembimbing akademik. Dan KKN yang sedang
ia jalani merupakan langkah sulit dari dua tahun sebelumnya.
Memang kuliah itu tidak mudah, tapi juga tidak terlalu
sulit. Tidak remeh, tapi tidak juga terlalu serius. Dan Bejo, ia terlalu serius
dengan remeh temeh perkuliahannya. Parahnya lagi ia mempersulit kemudahan yang
sudah ada. Bejo yang naas, dipersulit oleh kemudahan.
“Kalau si Marto mah enak. Bukan dia yang nyari dosen tapi
malah dosen yang nyari dia. Bejo dia itu.” Cerocos Bejo dengan nada dongkolnya.
Tawaku meledak mendengar akhir ungkapan Bejo. “Kebalik. Kamu
yang Bejo baukan Marto.” Tawaku berlanjut sampai tidak tertahan hingga perut
minta dipegang. Tawa ku hentikan pakasa saat sadar khawatir perasaan Bejo
tersinggung. Sambil menyeka sisa tawa di sudut mata, di seberang meja Bejo
menyambung dengan lega dan ria.
“Baru tadi, Marto selesai sidang.”
“Wah, kok cepet gitu dia?” Tanyaku antusias.
“Sudah ku bilang, dia yang Bejo.”
“Ah kamu Jo, bisa aja.”
Ripin datang dengan membawa kantong plastik hitam berisi
gula setengah kilo, kopi dua saset dan empat batang rokok ketengan. Ripin tidak
membawa pulang makanannya. Sebelum pergi ia sempat menawarkan kepada kami
berdua yang tinggal. Tapi Bejo bilang sudah makan, begitu juga dengan ku.
Sehingga Ripin makan di tempat. Sebenarnya aku belum makan juga sudah lapar.
Dan aku yakin demikian halnya dengan Bejo. Hal seperti ini sering terjadi
diantara kami. Tapi kami belum pernah membahasnya. Dan memang tidak perlu untuk
dibahas. Bagi kami sudah cukup untuk saling mengerti. Dan kadang kami lakukan
bersama-sama terhadap orang lain. Cara ini sama sekali bukan penolakan apalagi
pelecehan. Karena penawaran tidaklah terlalu penting. Tetapi apa yang sudah
dihadapkan itu wajib dipertanggungjawabkan.
Ripin menyalin gula dan kopi ke dalam mog masing-masing.
Lalu ia sibuk menyiapkan mini ricecooker untuk merebus air.
Tak berapa lama sambil ku nyalakan sebatang rokok, dua gelas kopi mengepul
disaji Ripin hadap-menghadap diantara kami bertiga.
“Aih, siregar kali. Hujan-hujan ada kopi ada rokok. Kurang
apa lagi coba.” Ripin mencair dalam obrolan dengan logat Batak yang dibuat-buat.
Kami tertawa kecil bersama-sama dengan pencairan Ripin yang
sudah biasa di setiap obrolan.
“Apa, bahas apa tadi?” Tanya Ripin masuk ke dalam obrolan.
“Itu si Marto. Baru selesai sidang skripsi rupanya dia.”
Jawabku dengan logat Batak yang juga kubuat-buat.
“Bah. Iya Jo?” Ripin meminta konfirmasi Bejo.
“Siang tadi selesai.” Bejo menjawab datar. “Ya... wajar lah
dia selesai. Orang dosen yang nyari dia kok. Kalau aku... baru gak wajar.”
Lanjutnya bernada mengejek.
“E... udah ada kopi, rokok, perut kenyang, malam, hujan
pula. Apa lagi yang mau dirisaukan kalau sudah ngumpul begini?” aku mencoba mengalihkan
pembahasan.
“Ya betul. Ngumpul. Ini yang perlu kita bahas sekarang.”
Ripin paham dan segera mengalihkan pembahasan. “Makan gak makan, yang penting
kumpul.” Celetupnya sambil beralih pandang.
Sebagai ‘Mas’―(ih)
Sendiri―’sejati,
orisinil, asli dan otentik―ungkapan
pribahasa Ripin itu, nenek moyangku sendiri yang bikin―aku hanya mengangguk-angguk setengah remeh. Sama sekali aku
tak berpaling dari Sterku yang diancam menteri hitam milik CPU level 9.
Sementara jauh di belakang, menteri hitam ku bertengger dengan kudanya samping
menyamping. Kehilangan Ster sama dengan kehilangan separuh dari seluruh
pasukan. Aku tidak mau itu. Gugurlah menteri hitamku tanpa balas.
“Makan gak makan kumpul. Kalau kita maknai mendalam, ia
bukan sekedar ungkapan penghibur seperti yang selama ini terjadi.” Ripin mulai
menggoda dan merayu saraf-saraf otak kami untuk terhubung pada pembahasannya.
“Orang yang benar-benar berpegang pada ‘makan gak makan kumpul’ bisa dipastikan
kumpulnya itu bukan dan tidak membahas soal makan. Karena makan tidak makan itu
bukan suatu perkara yang pokok lagi.” Tambahnya.
Bejo mengangguk-angguk antara mengerti dan tidak. Tidak ada
respon lain selain mengangguk dan menyimak serius penjelasan Ripin. Seperti
lancar-lancar saja logika yang menjalar ke saraf otaknya. Aku juga mengangguk
dan tetap tidak berpaling dari papan catur dalam gawaiku. Tapi otakku sama
sekali tidak bisa berfikir serius pada dua hal yang tertangkap indera secara
bersamaan. Ia harus bergantian. Sehingga keduanya saling mengganggu. Dan
anggukanku terhenti saat ster CPU level 9 benar-benar mematikan rajaku melalui
persekongkolan benteng dan menteri hitamnya yang keparat itu.
“Kalau makan sudah bukan perkara yang pokok. Dan kumpulnya
sudah bisa dipastikan bukan membahas dan mengagung-agungkan perkara makan.
Kira-kira perkara apa yang dibahas dan dilakukan atas kumpul itu?” Ripin
memberi tekanan khusus diujung kalimatnya.
“Hah! Duoboooooool.” Pekikku.
“Sebentar... sebentar... bagus ini... apek... elok elok
elok. Jenius kamu Mas.” Ekspresi Ripin seperti orang bingung yang tiba-tiba
mendapat ide di dalam toilet.
“Apa to? Ini lho, skak lagi, mati lagi.” Ku tunjukan
kematian rajaku di atas meja.
Ripin tertawa. Bejo sekedar senyum.
“Gimana tadi. Kok sampai bilang aku Jenius. Baru tahu apa?”
Aku mulai masuk lebih serius dalam pembahasan Ripin.
“Kalau beneran Jenius, itu game catur mu perlu diupdate.
Kalau nggak tersedia updetannya, kirim email ke developernya. Minta tambah
level yang setiap levelnya sepuluh kali lipat lebih sulit dari yang ada
sekarang.” Ripin membrondong habis kepercayaan-diriku yang kadang terlanjur
bersisa-sisa begini.
“Iya... iya... besok lah ku update. Entar tak WA aja
developernya. Biar cepet.” Sebatang rokok yang sempat mati ku nyalakan kembali
sambil menata kaki bersila di atas kursi. Sementara Bejo mengangkat gelas kopi
di hadapannya dan setelahnya berganti aku yang mengangkat.
“Sepertinya yang paling mendekati ya perkara nduobol. Apa
coba? Makan sudah bukan perkara yang repot dan merepotkan.” Ripin kembali pada
pembahasan.
“Ya mungkin saja. Tapi ya yang subtansial lah yang
dilakukan. Perkara ndobol kan masih dekat dengan urusan makan memakan. Jadi
belum sesuai dengan tesismu tentang ‘makan gak makan kumpul’ itu.” Sahutku
serius.
“Iya ya. Nah ini kerja kita. Mencari maksud ngumpul itu.”
Ripin mengangguk setuju.
“Begini. Aku kan ‘Mas―(ih)
Sendiri―’to?” Godaku kepada Ripin dan Bejo. Yang
kemudian mereka tampak berfikir keras. “Dan pribahasa yang kita bahas ini bikinan nenek moyangku
asli. Kemudian dinasionalisasikan. Sehinga semua orang bisa memakainya. Tetapi
mereka memakainya hanya sekedar untuk penghibur dari kesempitan-kesempitan dan
kesulitan-kesulitan yang dialami. Ya semacam obat penenang gitu lah.”
“Itu yang ku maksud di awal tadi.” Ripin menyela.
“Betul. Makanya ku ulangi sekalian ku tambahi. Begini Pin
Jo. Untuk memahami itu kita tidak bisa secara langsung, kita butuh mengaitkan
dengan hal lain yang lebih mudah untuk kita pahami dan tentu yang sudah mantep di
hati kita. Gampanganya itu seperti berjodoh, kita menemukannya dengan dan/atau
untuk kemantapan hati.”
“Maksudnya apa to ini. Kok ruwet. Sampai jodoh-jodohan
pula.” Ripin tidak sabar menunggu penjelasanku.
“Maksudku, itu pribahasa kan dari nenek moyang ku, nenek
moyang kita. Nah, bagaimana kalau kita mempelajarinya memlaui jalan perjodohan
antara maksud pribahasa itu dengan ajaran Keyakinan yang kita peluk.”
“Maksudnya menjodohkan antara Jawa denga Islam?” Ripin mulai
menebak-nebak.
“Begitu juga boleh. Hal lain pun bisa Pin. Asalkan konsepnya
menjodohkan untuk berjodoh.”
“Lha kalau kita menjodohkan dan hasilnya tidak berjodoh
gimana?” Tanya Ripin menguji.
“Kalau tidak berjodoh ya sudah, gak usah dipaksakan. Malah
merusak nanti.” Jawabku santai. “Sebenarnya ada dua kemungkinan: tidak
berjodoh atau belum berjodoh. Kalau tidak, memang sama sekali tidak bisa. Tapi
kalau belum, barangkali ada sesuatu yang masih kurang. Mungkin pengetahuan
kita, wawasan kita, ilmu kita, rasa kita dan apapun yang mungkin menjadi
kekurangan itu. Makanya sabar kalau belum berjodoh Pin, barangkali masih ada
yang kurang.” Sambil kulirik Ripin setengah mengejek.
“Gitu aja tersinggung Pin. Kalau aku lho udah jelas ‘Mas―(ih) Sendiri’, lha kamu itu lho! Pacarmu di mana-mana tapi satu pun belum
ada yang berjodoh. Ya wajar lah kalau aku nyuruh bersabar. Daripada aku nyuruh
untuk nambah pacar lagi atau mutusin semua kan perlu modal dan repot.” Ku
habisi Ripin sambil tertawa puas.
“Udah ah. Tadi ‘makan gak makan kumpul’ mau dijodohkan sama
siapa, eh sama apa?” Ripin mengembalikan fokus pembahasan.
Aku dan Bejo tertawa kecil mengejek Ripin yang keceplosan.
“Kita coba jodohkan denga ‘rukun’. Sepertinya itu yang lebih
pas dan dekat daripada ndobol.” Ungkapku menyambung pembahasan. Ripin
mengangguk tersambung, disusul kemudian Bejo turut mengangguk. “Kalau sudah
‘kumpul’ dan tidak mempersoalkan perkara ‘makan tidak makan ‘, yang menjadi
pokok dari ‘kumpul’ itu ya ‘rukun’. Kalau sudah kumpul ya rukun. Ya rukun diri,
rukun rumahtangga, rukun, tetangga...”
“Rukun Iman sekaligus rukun Islam serta rukun-rukun di
dalamnya.” Ripin menyambung kalimatku.
“Ini baru jenius. Memang Ripin.” Sahutku memuji.
“Kalau jenius sekedar jenius, setan pun lebih jenius.
Lanjutkan rukunnya!” Ripin membela diri.
Aku mengangguk setuju. Sementara Bejo hanya melihatku
mengangguk.
“Jenius dan setannya kita bahas lain waktu saja, gak selesai
nanti ‘rukun’ kita. Iya to Jo.” Sambil ku mainkan alisku ke arah Bejo.
“Lanjut-lanjut.” Jawab Bejo sambil mengangguk.
“Terus prosesi perjodohan antara ‘makan gak makan kumpul’
dengan rukun iman dan rukun islam gimana?” Ripin semakin tidak sabar.
“Kalau ‘makan gak makan kumpul’ kita jodohkan denga dua hal
sekaligus, nanti jadinya poligami Pin. Apa bisa? Atau, apa mau mereka?” Aku
mencoba memberi analisis terhadap perjodohan yang Ripin pertanyakan.
“Maksudnya gimana? Kok sampai ke poligami segala. Tambah
ruwet.” Ripin berfikir keras.
“Masing-masing punya jodohnya Pin. Kalau memungkinkan ia
tidak berpoligami, ya kenapa harus poligami. Dan sebaliknya. Kalau memungkinkan
ia berpoligami, kenapa tidak.”
Ripin bertambah pusing berkerut kening. Dagunya ditarik
mendekat leher sambil melihatku tajam setengah memicing.
“Menurutku ‘makan gak makan kumpul’ berjodohnya dengan salah
satu antara rukun iman atau rukun islam. Jika kedua-duanya dipaksa berjodoh,
aku belum sanggup Pin. Belum kuat.” Sambil ku gelengkan kepalaku.
“Maksudmu ‘makan gak makan kumpul’ berjodohnya dengan rukun
iman saja atau rukun islam saja.” Ripin memperjelas tangkapannya.
“Iya, betul Pin. Tapi kasihan kalau yang kita jodohkan hanya
salah satu ‘rukun’ saja. Masa iya ‘rukun’ yang satunya mau seperti ku yang ‘Mas―(ih) Sendiri’. Jadi kita harus mencarikan jodoh untuk ‘rukun’ yang nantinya belum berjodoh dengan ‘makan gak makan kumpul’.”
“Terus apa? Kamu ada pilihan calon Jo?” Ripin beralih
pandang menanya Bejo.
“Mana aku tahu.” Jawab bejo singkat sambil mengangkat dua
bahunya.
“Begini. Ada satu lagi yang asli dari nenek moyang ku, nenek
moyang kita.” Jawabku menyela Ripin dan Bejo.
“Oh ya...! Apa... apa...?” Ripin penasaran.
“Dia masih bersaudara dengan ‘makan gak makan kumpul’.
Saudara dekat sekali malahan.”
“Iya... Apa?” Ripin semakin penasaran.
“Aku pun baru terfikir barusan ini. Ia sangat urgen dalam
kehidupan nenek moyang kita. Dan sudah menjadi nafas turun temurun.”
“Iya... Apa? Lama-lama ku teguk habis kopi ini.” Ripin
sambil mengangkat gelas.
“Tenang-tenang Pin. Itu kopi bukan air mineral. Sewajarnya
saja, dikit-dikit. Jangan seperti orang kehausan.” Aku tidak rela kopi habis
seketika, karena pembahasan masih panjang. “Baik, ia adalah ‘Sandang, Pangan,
Papan’. Ia kakak kandung dari ‘makan gak makan kumpul’. Jadi sebelum
menjodohkan ‘makan gak makan kumpul’ dengan salah satu ‘rukun’, terlebih dahulu
kita jodohkan ‘sandang, pangan, papan’ dengan salah satu ‘rukun’ yang pas,
cocok, dan satu leting lah.” Paparku lebih lanjut kepada Ripin dan Bejo.
“Lho... mereka dua bersaudara?” Tangkap Ripin.
“Minimal seperti itu. Tapi bisa lebih.” Jawabku lebih lanjut.
“Tiga, empat, lima?” Ripin memburuku.
“Aku juga belum tahu pasti. Tapi naluri ‘Mas―(ih) Sendiri―’ku begitu kuat terhubung dengan nenek moyang, nenek moyang
kita. Dengan itu aku yakin dan mantep ada soudara yang lain lagi. Dan nantinya
barangkali dapat juga menemukan jodohnya.” Ungkapku melayani buruan Ripin
dengan meraba naluri ke-‘Mas―(ih)
Sendiri’-anku.
“Terlalu mantep dengan ke-‘Mas―(ih) Sendiri’-anmu. Tapi belum juga menemukan yang pasti. Yang namanya mantep mestinya ya pasti, gimana si.” Ripin memprotes rabaan
naluriku.
“Sebentar Pin. Mantep mestinya pasti?”
Tanyaku pada protes Ripin.
“Lha ya iya. Kalau udah mantep mestinya udah pasti.” Ripin
mempertegas.
“Yap. Ketemu.” Aku memetik jari, menemukan jalan terang.
“Ketemu apa? Jodoh?” Sela Ripin di tengah jalan terang yang
sedang ku telusuri.
“Mantep mestinya pasti. ‘Madep, Marep, Mantep’.
Ini saudara dari kakak-beradik tadi.” Ungkapku cepat dengan wajah cerah.
“Kalau gitu sementara tiga bersaudara. ‘Makan gak makan
kumpul’; ‘sandang, pangan, papan; dan ‘madep, marep, mantep’. Gitu?” Ripin
merangkum penelusuran sementara kami.
“Betul Pin. Tapi harus berurutan dari yang paling tua:
‘Sandang, pangan, papan’; ‘makan gak makan kumpul’; baru ‘madep, marep,
mantep’. Supaya mudah menjodohkannya kita harus tahu lebih dulu urutan itu.”
“Iya.. iya... sekarang sudah tahu. Dari tadi cuma kakak,
adik, saudara. Perjodohannya kapan? Ijabqobulnya, resepsinya itu lho!” Ripin
mengejar.
Mendengar ujung kalimat Ripin, Bejo tertawa kecil dan aku
mengikutinya. Sementara Ripin melihat tingkah kami, Ia gerakan dagunya ke depan
sambil mengangkat kedua alisnya.
“Sabar Pin.” jawabku menenangkan Ripin sambil mengambil
sebatang rokok di atas meja lalu membakarnya. “Ini ngrokok dulu, biar segar
fikiran kita.” Ku sodorkan rokok yang baru ku bakar kepada Ripin. Dan aku
mengambil satu yang tersisa di meja. Sebelum ku bakar terlebih dahulu
kutawarkan kepada Bejo. Bejo mengangkat tangan kanannya di depan dada. Sudah
dua bulan Bejo berhenti merokok. Kutawarkan, barangkali ia ingin kembali
merokok. Ternyata tidak. Aku yakin, sebenarnya ingin juga ia merokok. Tapi
inginnya mempertahankan daya menahan tidak merokok lebih besar daripada rasa
ingin merokoknya.
Sementara Ripin menghembuskan asap rokok yang dihisapnya
dalam-dalam ke udara sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Memang siregar bah.” Logat bakat yang dibuat-buatnya keluar
lagi.
Aku menyusul Ripin. Menghisapnya dalam-dalam lalu
menghembuskannya ke udara. Bejo terbatuk dengan dibuat-buat sambil tangannya
mengepal di depan mulutnya yang dimonyong-monyongkan. Sejurus kemudian ia
angkat gelas kopi di depannya. Kami tertawa lepas bersama.
“Dah, lanjut-lanjut.” Bejo memulai.
“Lanujut Pin?” Pandangku mengarah Ripin.
“Mari, lanjut sudah.” Ripin berganti logat timur yang
dibuat-buat.
“Perjodohan pertama. ‘Sandang, Pangan, Papan’. Ayo, siapa
jodohnya?” Tanyaku memancing.
“E..., pakai siapa lagi. Pakai apa lah!” Protes Ripin.
“Sekarang konteksnya kan sudah jelan Pin. Jadi sudah boleh
pakai siapa.” Bantahku kepada Ripin.
“Iya.. iya.. sudah jelas sekarang konteksnya. Siapa
jodohnya? Rukun yang mana?” Kejar Ripin.
“Kita urutkan dulu. Rukun mana yang menjadi kakak dan adik.
Supaya perjodohannya pas. Seperti tadi, kita sudah tahu urutan silsilah dari
nenek moyang kita.”
“Kali ini aku sabar. Ayo kita urutkan dulu.”tambahnya
mengejar.
“Mana yang lebih dahulu antara tindakan dengan kepercayaan
atau keyakinan?” Ku lontarkan tanya untuk memulai penelusuran.
“Mbok langsung aja. ‘Rukun’ mana yang menjadi adik, mana
yang menjadi kakak.”
“Gak bisa gitu lah Pin. Harus ada sebab-akibatnya untuk
mengambil keputusan.”
“Lha kok ruwet to?” Ripin mulai kembali tidak sabar.
“Namanya juga kita menelusuri. Ya selangkah demi selangkah,
seteguk demi seteguk, sesuap demi sesuap, setetes demi setetes...”
“Iya udah-udah. Ayo melangkah. Aku masih sabar kok.”
“Duluan mana?” Kejarku.
“Kalau melangkah atau bertindak dulu baru percaya atau
yakin, ya langkahnya jadi bimbang, ragu dan yang jelas gamang. Malah gak jadi
melangkah.” Ungkap Ripin meladeni pertanyaanku.
“Dalam konteks ini jawabanmu pas Pin. Tapi dalam kontesk
lain nanti berlaku sebaliknya. Itulah sebabnya kita harus Empan Papan dengan
berbagai kontesk. Begitu nasihat nenek moyang kita.”
“Jadi, dalam konteks kita sekarang: ‘Rukun Iman’ itu sebagai
kakak atau pendahulu dan ‘Rukun Islam’ itu sebagai adik atau penerusnya. Begitu
maksud keruwetanmu itu?”
“Iya Pin. Kira-kira seperti itu.” Jawabku sambil mengangguk
yang diikuti oleh Bejo.
“Berarti sudah bisa dijodohkan sekarang.” Lanjut Ripin
semangat. “Kalau tadi kita sudah sepakat bahwa ‘sandang, pangan, papan’ sebagai
kakak atau pendahulu yang sama kedudukannya dengan ‘rukun iman’, artinya mereka
berjodoh.”
“Belum.” Jawabku singkat.
“Lho... gimana to? Kedudukan mereka sudah sama, satu leting,
sama-sama kakak pendahulu. Layak dong kalau mereka berjodoh.”
“Belum berjodoh. Baru mau kita jodohkan.” Dengan tempo
lambat bertekanan khusus ku jawab kegelisahan Ripin.
“Sama saja, sami mawon!” Sewot Ripin bernada
kesal.
“Beda to! Kalau sudah berjodoh artinya sudah bertemu, sudah
bersatu, nyawiji gitu lho Pin. Kalau baru mau dijodohkan,...”
“Baru mau ditemukan, disatukan, di-sawiji-kan.” Sela
Ripin memotong kalimatku.
“Betul. Itu namanya proses, langkah, tumindhak, laku.”
“Makanya cepat dijodohkan.” Ripin mengahiri hisapan rokoknya
yang sudah memuntung.
“Baik. Kita mulai perjodohannya. Siap Pin?” Tantangku.
“Siapa takut.” Ripin mengambil kotak tembakau linting.
“Pertama kita harus menyediakan wali untuk mengijabqobulkan
dua hal itu. Aku belum tahu pihak ‘Sandang, Pangan, Papan’ berwalikan apa dan
siapa. Tapi aku yakin pasti bahwa “Rukun Iman” berwalikan yang Tunggal. Jadi
yang akan menjadi wali dalam perjodohan mereka adalah yang Tunggal itu.”
“Oke sepakat.” Ripin menjawab mantap. Bejo tetap dengan
anggukannya.
“Karena yang Tunggal sudah menjadi wali, maka yang akan
dijodohkan adalah urutan dalam ‘rukun iman’ berikutnya. Haram hukumnya jika
Walinya turut dijodohkan.”
“Benar itu. Haram!” Ripin berangguk mengerti.
“Dari ‘sandang, pangan, papan’ terdiri dari tiga bagian.
Jadi tidak mungkin juga sisa urut-berurut ‘rukun iman’ semua dijodohkan dengan
‘sandang, pangan, papan’. Maka akan ada dua yang bersisa. Dan dua sisa
itu yang menjadi saksi perjodohan.”
“Betul. Kalau tidak ada saksi ijabqobul tidak akan sah.”
“Maka secara spesifik yang akan dijodohkan dengan ‘sandang,
pangan, papan’ adalah ‘walmalaikatihi, wakutubihi, warusullihi’.”
“Cocok. Karena dua selanjutnya sudah menjadi saksi. Jadi
tidak boleh ikut dijodohkan. Lagian kalau bisa, mau dijodohkan dengan siapa?
Lha udah pas gitu, tiga dengan tiga. Cocok to.”
“Iya Pin, kira-kira begitu.”
“Terus, udah? Gitu saja perjodohannya?”
“Kita baru sampai pada syarat sah perjodohan. Tentu masih
panjang.”
“Oke, lanjut-lanjut ‘Mas―(ih)
Sendiri’.” Bejo menampakan ketertarikannya.
“Kita urai satu persatu dari tiga dengan tiga. Pertama
‘Sandang’ dengan ‘Malaikatihi’. ‘Sandang’ merupakan hal pokok yang harus
terpenuhi sebelum ‘Pangan’. Artinya tidak mungkin kita makan tanpa mengenakan
pakaian, alias telanjang. Kalau itu terjadi, maka kriminalitas akan selalu
terjadi.”
“Ya mesti lah. Kayak binatang saja makan sambil telanjang.”
Ripin menyambung.
“Kalau orang yang mengerti, lebih baik memilih lapar
daripada telanjang.” Ungkapku mendukung Ripin.
“Tapi yang terjadi sekarang sebaliknya. Orang telanjang
untuk makan.” Cibir Ripin dengan kekritisannya.
“Benar. Ini memang zaman yang serba terbalik Pin, Jo.”
Ripin merekatkan kertas gulungan tembakaunya dengan sedikit
air liur. Sambil meraih korek api “Kalau gitu... sekarang kita sedang...
membalik zaman yang terbalik!” Kalimat Ripin terputus-putus dengan asap putih
kental mengepul dari dalam mulutnya.
“Begitu kira-kira.” Sahutku sambil juga meraih kotak
tembakau linting.
“Terus uraian ‘sandang’ udah selesai atau belum.” Bejo
mengembalikan fokus.
“Sedikit lagi Jo. ‘sandang’ atau pakaian merupakan sesuatu
yang kita gunakan untuk menutupi urat-urat di tubuh kita. Baik urat keperkasaan
maupun urat kelembutan. Walaupun semua orang tahu kita memiliki urat-urat itu,
tidak selayaknya kita menunjukannya. Justru sebaliknya, kita harus menutupinya.
Konsekwensi bagi yang tidak berpegang pada prinsip ‘Sandang’ ini adalah seperti
yang diungkapkan Ripin: tidak ada beda dengan binatang. Dan bersiaplah untuk
mendapat berbagai kriminalitas dari apapun.”
“Artinya ‘sandang’ ini mengajak kita untuk tidak mudah
menunjukan apa-apa yang menjadi miliki kita. Walaupun sebenarnya orang lain
juga tahu apa yang kita miliki.” Ripin coba menjeneralkan.
“Sekalipun, belum atau tidak tahu ya harus ditutup dengan ‘sandang’
itu.” Jawabku melengkapi jeneralisasi Ripin.
“Tapi banyak juga yang ‘Nyandang’, berpakaian bukan
pada kesadaran itu. Justru ‘Sandang’ yang mereka kenakan itu untuk menarik
perhatian yang lain. Walaupun beda-beda juga kadarnya.” Sambung ripin dengan
jiwa kritisnya.
“Betul juga Pin.” Aku menyetujui kritiknya.
“Kalau begitu belum ‘nyandang’ namanya.” Bejo nyeplos
di tengah kebingunganku atas kritik Ripin.
“Betul itu Jo.” Ripin menyetujuinya.
“Iya... iya... iya... Artinya ‘Nyandang’ itu harus
mendalam..., tidak dangkal. ... Bukan begitu Jo?” Sambil ku bakar lintingan
tembakau yang sudah terapit bibir.
Bejo mengangguk setuju. Sementara Ripin senyum-senyum
sendiri.
“Gimana Pin, ada tambahan uraian tentang ‘sandang’? sebelum
kita mengurai ‘Walmalaikatihi’ yang siap untuk kita jodohkan.” Tanyaku pada
Ripin yang masih senyum-senyum sendiri, tanpa tahu maksudnya.
“Derajad Martabat! ‘Sandang’ itu soal derajat martabat. Itu
saja.” Dihisapnya dalam asap gulungan tembakau di mulutnya.
“Itu kunci dari ‘Sandang’. Nanti akan kita temukan lubang
kuncinya setelah menelusuri uraian ‘walmalaikatihi’.”
“Harus. Kunci harus menemukan lubang kuncinya. Kalau tidak,
ya tidak berjodoh. Dan ini tantangannya: menemukan lubang kunci.” Tantang Ripin.
“Semoga Walinya setuju Pin.” Jawabku mengalih pandang kosong
ke langit.
“Amiin. Lanjut-lanjut.” Bejo menarik pandang kosongku dari
langit.
“Semoga berhasil. ‘Walmalaikatihi’, Malaikat.” Ungkapku
pelan. “Ia makhluk yang diciptakan dengan kedinamisan hati dan kesetatisan
akalnya. Hatinya bisa sangat lembut dan bisa saja sangat kasar. Tapi akalnya
sangat permanen, dari awal penciptaannya ya segitu-gitu saja. Tidak pernah
berubah. Kebalikannya adalah Iblis, Setan. Statis hatinya, dinamis akalnya.
Makanya ia begitu Jenius. Dari itu ia selalu berinovasi dan meng-upgrade akalnya.
...”
“Iblis, setannya nanti. Gak selesai-selesai malahan!” Sela
Ripin memprotes.
“Baik Pin. Maaf maaf. Dengan kelembutan dan kehalusan
hatinya, malaikat begitu peka dan perasa. Ia bisa sangat mudah berbelas kasih,
meratap begitu sedih, mudah bersimpati dan empati. Dari golongan manusia hanya
beberapa saja yang dapat mengungguli kelembutan dan kehalusan hatinya. Ia juga
bisa sangat kasar dan keras hatinya. Ia bisa mendo’akan celaka atau memohon
laknat dan kutukan kepada Walinya untuk sesuatu yang layak diperlakukan
demikian.”
“Wah... masa Malaikat berkeras hati kasar. Apalagi itu
mendoakan celaka dan memohon laknat kutukan?” Bejo merasa kurang nyaman
mendengar kalimat terakhirku.
“Bisa saja to Jo. Malaikat itu kan suci dan selalu menjaga
kesucian. Dengan kesuciannya itu, jika ada yang mengusik kesucian semesta tidak
akan segan Ia meratap memohonkan celaka atau laknat kutukan kepada Walinya.”
Respon Ripin secara radikal kepada Bejo.
“Nah... itu perjodohan yang terjadi antara ‘Sandang’ dengan
‘Malaikat’.” Celetupku menemukan jalan terang sambil mengepulkan hisapan
tembakau linting ke udara.
“Di mana letak perjoodohannya? Kan kunci dari ‘Sandang’
tadi: Derajat Martabat!” Ripin menyelidik penasaran.
“Lha itu ‘Suci Kesucian’, Ia klop, pas dan sebanding dengan
‘Derajad Martabat’. Sesuatu yang menjada ‘Derajad Martabat’ sudah bisa
dipastikan juga menjaga ‘Suci Kesucian’. Itu kan namanya berjodoh.” Tandasku
melayani penasaran Ripin.
“Iya ya... tidak mungkin Malaikat itu berdoa, kalau hatinya
tidak suci. Yang ada hanya menghujat protes saja. Tidak mungkin berdoa.” Respon
bejo mengakui.
“Jadi sudah sah ni perjodohan ‘Sandang’ dengan
‘Walmalaikatihi’?” Aku menyambung Bejo.
“Tunggu... tunggu... Aku belum puas mengurai Malaikat.”
Sanggah Ripin sambil mematikan puntung tembakau lintingnya.
Aku dan Bejo sempat terkejut dengan sanggahan Ripin. Aku terbengong
menatap Ripin yang diikuti Bejo. Ada kekhawatiran dalam hati jika terjadi
kegagalan perjodohan.
“Terus...” Antara fokus dan bengong ku sampaikan ke hadapan
Ripin.
“Ingat...! Bahwa Malaikat tidak telanjang! Ini mendukung
lubang kunci dari ‘Sandang’ yang mengutamakan pakaian dari pada makan. Karena
tidak mungkin sesuatu yang suci dan menjaga kesucian itu telanjang. Gimana?”
Ripin memetik jarinya.
Aku tambah terbengong dengan temuan Ripin. Dan Bejo
mengangkat sebuah ibu jari ke hadapan Ripin sambil mengangguk-anggukan
kepalanya.
“Duobol sekali memang kamu Pin. Ku kira ...” Teriakku girang
sambil menggeleng-gelengkan kepala ke arah Ripin.
“Kira apa?” Ripin menantang.
“Enggak Pin. Aku bocahmu pokoknya Pin.”
“Kalau Malaikat menjaga suci kesuciannya, tentu menjaga juga
pakaiannya, derajad martabatnya.” Ripin menyambung penjelasannya.
“Iya iya... betul itu. ‘Menjaga’ juga bagian dari kunci
perjodohan ini Pin, Jo. Sesuatu yang selalu ‘Menjaga’ sama maksudnya dengan
sesuatu yang selalu ‘Mempertahankan’. Dan sebaik-baik pakaian ya yang dijaga
dipertahankan suci kesuciannya, derajad martabatnya.” Tambahku mendukung Ripin.
“Kalau mau kita telusuri lebih lanjut, Malaikat itu sangat
malu jika tidak menjaga sekaligus mempertahankan suci kesuciannya. Jadi betul,
Malaikat itu makhluk yang paling pandai ‘menahan’ dan memang paling ‘tahan’.”
“Maksudmu Pin?” Bejo penasaran.
“Begini lho Jo ...” Aku mendahului mulut Ripin yang sudah
terbuka hendak memperjelas maksudnya. “Malaikat itu diciptakan tidak dengan
nafsu melainkan dengan hati. Makanya ia begitu perasa, halus, lembut, suci,
murni dan seterusnya yang berkaitan dengan hati. Tapi Ia juga tidak diberikan
sediktipun keleluasaan, kekuasaan, kemerdekaan bahkan atas dirinya sendiri.
Kalaupun ada, sangat terbatas dan itupun di bawah ketundukannya atas kuasa
Walinya. Dengan penciptaan yang seperti ini, maka Malaikat ya bisanya hanya
bertahan, menahan, dan tahan dari ketidakuasaannya terhadap apapun, bahkan
dirinya sendiri. Untuk itu yang hanya bisa dilakukannya ya merasa tidak kuasa
lalu berdoa memohon kepada Walinya. Itu yang dimaksud Ripin bahwa Malaikat itu
makhluk yang paling pandai ‘menahan’ dan memang paling ‘tahan’. Bukan begitu
Pin?”
“Ya gak sebertele-tele itu juga. Gampangannya Malaikat itu
makhluk yang sangat ‘berpuasa’ di bawah kuasa Walinya. Simpel, Wis!” Ripin
mengejekku dengan menjulurkan setengah lidahnya.
“Oke-oke, dong.” Bejo mengangguk paham.
“Doubol Pin Pin. Kering ludahku menjelaskan hanya kau
lecehkan dengan jawaban ‘Puasa’. Dasar Buoll Pin Pin.” Umpatku kepada Ripin.
Ripin mengakak puas. Sementara Bejo masih dengan anggukannya
sambil sedikit tertawa juga karena lucu melihat ekspresi kepuasan Ripin.
Setelah puas, sambil mengusap sisa tawa di sudut-sudut matanya Ripin
membrondong lagi.
“Karena Malaikat berpuasa, maka Ia memilih lapar dari pada
tidak berpakaian. Dari itu, Ijabqobul perjodohan menjadi sah. Karena nenek
moyang kita pun sudah merestuinya dengan menempatkan posisi ‘sandang’ lebih
pokok daripada ‘pangan’. Gimana? Sah?”
“Sah. Sekarang sudah sah. ‘Sandang’ dan ‘Walmalaikatihi’
berjodoh. Pimpin doa Jo.”
“Sebagai do’a, kita amiinkan saja do’a rumput, baik yang
mengering di tepian jalan maupun yang tumbuh subur di lereng Merapi.” Bejo
menjawab dengan kepercayaan diri berpuisi yang tinggi.
“Bejo sang penyair memasrahkan do’anya kepada rumput di
jalanan dan lereng Merapi.” Ripin menggeleng kagum.
“Kenapa kepada rumput Jo?” Jiwa puitikku terusik menuntut
penjelasan.
“Saat kalian berisik dan ribut membahas perjodohan ‘Sandang’
dengan ‘Walmalaikatihi’, jiwaku mengembara meresapi rerumputan, pepohonan,
dedaunan yang hidup maupun yang sudah tidak.”
“Sebentar Jo. Kok kamu malah jadi ikut-ikutan nduobol seperti
Ripin to?” Tanyaku semakin keheranan melihat ekresi Bejo yang datar.
“Boll tenan.” Sahut Ripin. “Kita ini memang remeh Jo, cuma
Doboll. Tapi tak masalah, toh Boll kita selalu berpakaian. Hanya sesekali saja
pakaiannya kita lepas, itupun untuk urgensi tertentu bukan untuk pamer
memamerkan Boll apalagi untuk disalah-gunakan. Na’udobollah!” Ripin begidik
jijik. “Lanjut Jo penjelasanmu!”
Sebelum melanjutkan, Bejo tertawa agak lebar mendengar keluh
syukur Ripin atas penerimaan diri apa adanya. Sedang aku anatara mau
tertawa dan tidak.
“Bukankah ‘Sandang’ dan “Walmalaikatihi’ sudah berjodoh
dengan adanya tetumbuhan yang dibondong-bondong untuk membuat bahan dasar
pakaian? Sedangkan tetumbuhan adalah bentuk kasat mata Malaikat! Jadi ‘Sandang’
atau ‘pakaian’ itu memang berbahan dasar ‘Malaikat’.”
Bejo beralih-alih pandang, sebentar padaku sebentar pada
Ripin. Sementara Aku dan Ripin fokus terbengong menangkap kejut dari Bejo yang
pendiam.
“Dari itu kita akan bisa melihat kadar ke-Malaikatan
seseorang dari pakaiannya.” Lanjut Bejo di tengah fokus kami. “Seseorang yang
berpakaian minim, sudah tentu kadar ke-Malaikatannya juga minim. Sejalan dengan
orang yang terlalu berlebihan dalam berpakaian, kadar ke-Malaikatannya tinggi
atau juga berlebih. Tetapi berpotensi sombong pada kelebihan pakaiannya itu.
Maka yang paling tepat, seseorang berpakaian ya yang sesuai dengan
kebutuhan tubuhnya. Seperti tumbuhan, yang begitu tahu persis akan dirinya.
Kapan ia perlu menggugurkan dedaunannya dan kapan ia perlu untuk kembali tumbuh
dengan lebatnya. Bukankah memang mereka berjodoh?”
Akau tertegun dengan kependiaman Bejo yang diam-diam
mengembara begitu liar.
“Ini juga berjodoh sekali dengan pegangan nenek moyang
kita: ajining rogo ono ing busono. Jos, sangat menarik Jo.” Ripin
berangguk-angguk dengan responnya. “Terutama sekali pada bagian: tumbuhan itu
bentuk kasat mata Malaikat.” Ia terus mengangguk-angguk sambil menatap beberapa
tanaman dalam pot bunga di sekitar kami duduk.
“Tolong Jo!” Aku masih tertegun menerawang.
“Coba kita pelajari sifat tumbuhan!” Ungkap Bejo coba
menolongku. “Ia memiliki sifat yang sama dengan ‘Malaikat’ yang kalian
berisikan dan ributkan tadi.”
Hening. Bejo memberi jeda untuk menyambung kami.
“Tumbuhan selalu menahan, bertahan, dan tahan ... terhadap
apapun, segala situasi maupun kondisi. Ia selalu menjaga baik diri maupun
lingkungannya bahkan mahkluk lain di sekitarnya. Ia pun begitu pemalu, pemurung
sekaligus begitu periang. Beberapa tumbuhan sangat jelas memperlihatkan sifat
pemalunya, pemurungnya, dan periangnya. Sebagian besar lainnya tidak terlalu
diperlihatkan dan lebih banyak lagi yang tidak diperlihatkan. Sejenis putri
malu, ia akan merunduk memingkupkan sebagian dedaunan dan rerantingnya saat
tersentuh sesuatu. Begitu juga saat malam menjelang, semua bagian dedaunan dan
rerantingnya akan menunduk murung sepanjang malam. Tapi coba lihat saat pagi
menjelang, ia akan begitu riang gembira menyambutnya. Menegakkan semua ranting
dan dedaunannya menengadah penuh pengharapan.”
Bejo menghentikan aliran puisinya.
“Penyair super douboll kamu Jo.” Pekikku keheranan seperti
bukan sedang mendengarkan Bejo.
“Betul... betul... ini memang doboll. Lanjutkan Jo!” Ripin
menyela tenang, seolah ia tidak heran mendengarkan Bejo yang sedemikin aneh.
“Hidupnya tumbuhan bukan untuk buah berbuah.” Bejo
menyanyikan kembali syair-syair kesunyiannya. “Tidak penting baginya buah
berbuah. Ia hanya mengejar cahaya, yang merupakan jati dirinya. Demi cahaya itu
maka ia tumbuh dan tumbuh. Tak perduli batas dan ruang, ia terus mencari dan
mengejar, hingga tiba waktunya ia kembali rubuh ke tanah dan menjadi tanah.”
“Memang Malaikat!” Ungkapku pelan sesaat dari berhentinya
aliran puisi sunyi Bejo.
“Iya Mas, tidak lain. Itu Malaikat!” Kali ini Ripin
benar-benar menunjukan keheranannya.
“Coba kalian sayat kupas itu kulit pohon, tebas patahkan
ujung rantingnya, atau lukai saja bagian manapun pohon itu!” Bejo seakan
memerintahkannya pada kami berdua sambil menunjuk pohon nangka yang rindang
milik tetangga. “Ia hanya akan bisa mengeluarkan getah. Demikian Malaikat. Saat
ada sesuatu melukai, Ia hanya akan bisa menangis. Tanpa memiliki keleluasaan,
kemerdekaan, kekuasaan untuk menghindar terlebih membalas. Ia hanya akan bisa
merapat tangis memohon doa.”
“Itu sebabnya kau memilih meng-amiin-kan do’a rumput, baik
yang sudah kering maupun yang masih subur, atas sahnya perjodohan ‘Sandang’
dengan ‘Malaikat’?” Tanyaku meraba perasaan Bejo sambil menerawang langit.
“Kalau gitu mari kita Amiin-kan doa semua rerumputan, pepohonan
dan semua jenis tetumbuhan, baik yang sudah kering bahkan membusuk sekalian,
maupun yang baru tumbuh subur bahkan yang susah dan kesulitan tumbuh sekalian.
Amiin ya Robbal’alamiin!” Ripin memimpin menengadah tangan.
“Tapi soal buah Jo?” Selaku setelah hening beberapa saat
diantara kami.
“Sudah ku bilang: hidupnya bukan soal apalagi untuk buah
berbuah. Sebenarnya kasihan aku melihat kalian.” Bejo bersimpul senyum meraut
wajah penuh kasihan kepada kami berdua.
“Maksudmu Jo?” Celetup Rupin penuh penasaran dengan
teka-teki Bejo.
“Kasihan... sungguh kasihan... Tingkat bertingkat bangku
sekolahan telah berhasil mendangkalkan fikiran kalian. Persis sedangkal
kaki-kaki bangkunya. Parahnya kalian rayakan kedangkalan itu dengan mengenakan
topi tempurung kedangkalan disertai kuncit serabut yang menjulai-julai
bangga!”
“Tolong Jo!!! Tolong!!! tolong hentikan teka-tekimu!” Ucapku
penuh tekanan berpandang tajam menikam bola-bola matanya.
Bejo semakin tersenyum simpul antara memberi belas-kasihan
dengan mengejek.
“Jubah kesia-siaan; selendang-selendang setan; kalung-kalung
medali prestasi iblis; karangan-karangan bunga kemusrikan;
dokumentasi-dokumentasi kemunafikan; upacara-upacara perayaan kematian hati;
pesta pora neraka; ijazah-ijazah bergelar surga kesesatan; transkirip-transkrip
nilai berindeks prestasi birahi; Setifikat-sertifikat akreditasi kepalsuan;
legalisir-legalisir kesesatan, kebirahian, dan kepalsuan, ...”
“Hentikan Jo!!!!!” Teriakku menggebrak meja diskusi kami.
“Hoi!!!!!!!” Ripin membentak menggenggam menarik lubang
leher kaos oblong yang ku kenakan.
Bejo tetap datar pada duduknya. Ripin menggenggam kendali ku
tepat di leher hingga beberapa saat. Begitu reda ketegangan di leherku, Ripin
mengendur berangsur melepas perlahan genggamannya. Menjelang benar-benar lepas
dari genggamannya, dadaku didorong sedikit menyentak hingga aku jatuh terduduk
di kursi semula.
Keheningan terjadi beberapa lama. Aku menata kembali nafas
hingga teratur sedemikian halus, lembut dan tenang. Tepi tetap dalam
kewaspadaan Ripin. Sementara Bejo jauh lebih tenang dalam kedatarannya.
Pada situasi dan kondisi yang berangsur aman, Ripin memberikan gulungan
tembakau linting yang telah menyala ujungnya kepadaku. Kuraih dengan senyum
yang masih agak terganjal. Kuhisap dalam-dalam lalu ku hembuskan perlahan.
Demikian kuulangi hingga tiga kali beturut-turut. Pada puncak kelegaan, aku
tertawa keras dengan bahaknya menutup rasa malu. Ripin maupun Bejo, tak satupun
mengikuti tawaku. Seketika beberapa bulir dari mataku jatuh. Lalu tertunduk
malu yang teramat sangat.
“Sudah-sudah, mari kita lanjutkan. Tidak akan ada teka-teki
lagi.” Bejo memulai, memecah kebekuan.
Mendengar Bejo, aku bangkit menuju kran tak jauh dari tempat
duduk kami. Kubasuh wajah mengharap sejuk kesegaran jiwa. Menadah meraup ari
yang teralir ke seluruh wajah. Berulang hingga beberapa kali. Lalu ku tuju kain
kering yang tersampir pada sebuah tali penjemur. Menyeka sisa air yang meresap
menetes berjatuhan.
“Maaf Jo, Pin.” Ungkapku lirih penuh malu sambil melangkah
kembali duku. “Lanjut Jo, lanjut.” Lanjutku antusias dengan senyum tersipu
sambil ku raih tembakau linting yang ku taruh di sudut meja.
“Bunga berbunga, buah berbuah tetumbuhan itu hanya akibat
dari tumbuh pertumbuhanya mencari dan menangkap cahaya. Jadi, bunga berbunga
buah berbuah sama sekali bukan tujuan dari hidupnya.” Ungkap Bejo halus meraih
gulungan tembakau yang baru saja ku hisap dari pegangan.
“Maksudmu tadi, teori biologi yang diajarkan ke kita selama
di sekolah bertahun-tahun: bahwa tumbuhan hidup untuk berbunga berbuah lalu
mati, itu kurang tepat?” Ripin masuk menatap Bejo yang sedang menghisap
tembakau linting.
“Perkara matinya setelah berbunga berbuah, tepatnya setelah
menggugurkan bunga-bunga buah-buah, lalu ia lepas hidupnya. Itu karena sudah
mewariskan, mempercayakan kelanjutan hudup kepada benih-benih dari buah yang
telah jatuh tadi. Tapi sebagian tumbuhan lain, ada yang mempercayakan kelanjutan
hidupnya kepada daun-daun yang juga digugurkannya. Sebagian lagi kepada batang
dan tunas-tunasnya. Dan perlu diketahui, bahwa bunga buah yang mereka hasilkan
sama sekali bukan untuk kepentingan dan keperluan dirinya.” Bejo mengalir
tenang.
“Bunganya untuk kumbang lebah, lalat, aneka serangga, burung
juga manusia. Buahnya lebih banyak lagi. Ada yang untuk ular, monyet,
burung-burung, dan tentu juga manusia.” Cerocos Ripin meneruskan Bejo.
“Sebagian daun-daunnya juga untuk dimakan ulat, ikan, binatang
ternak juga manusia. Dan yang paling urgen, hasil dari pengohalan cahaya yang
ia tangkap adalah untuk alam. Tanpa itu alam mati.” Aku menambahi sambil
mengambil kembali gulungan tembakau dari tangan Bejo yang tinggal tiga kali
hisapan lagi.
“Ya... udara yang kita hurup sekang adalah proses hidupnya.
Ia hidup dengan segenap perjuangannya tapi sama sekali bukan untuk dirinya.
Maka amiinkan lah doa-doa seluruh tumbuhan itu.” Bejo menarik hikmah memberi
amanah.
“Ku kira, upaya paling minimal untuk hidup selamat, ya
dengan menjadikan diri seperti tumbuhan, seperti malaikat. Kalau boleh meminjam
kepenyairan Bejo, dengan kata lain hidup selamat itu ya ‘me-mohon’. Berlaku
diri menyifati pohon. Dan artinya harus selalu ‘Nyandang’.” Ripin turut
menyambung Bejo.
“Semoga kita dan apapun di sekitar kita dapat hidup dan
selalu tumbuh seperti tumbuhan.”
Ripin dan Bejo mengaminkan harapanku yang juga harapan kami
setelah cukup panjang berdiskusi.
Dua gelas kopi telah tandas. Bejo harus pamit pulang, dan
langsung ke tempat KKN. Sementara Ripin bergegas mandi bersiap berangkat kerja,
karena sebelum subuh ia harus sudah sampai di tempat kerja. Aku sendiri
berberes meja, lalu tidur. Hari masih cukup dini, hujan masih menyisakan
gerimis.
***
Catatan:
Mohon maaf yang sebesar-besarnya, seluas-luasnya,
sedalam-dalamnya apabila ada kesamaan nama tokoh, karakter atau peristiwa yang
membuat pembaca atau siapapun tidak berkenan. Sungguh karya ini hanya fiktif
belaka, yang penulis sarikan dari pikiran dan imajinasi sendiri. Dan tentu juga
tidak lepas dari pengaruh pengetahuan dan pengalaman penulis dan lingkungan.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
0 Komentar:
Posting Komentar