Sabtu, 11 November 2017

Kehidupan I



Kehidupan I

Dari yang tak terhingga di ketel kehidupanku 
direbus dengan air asam garam lautan
cinta yang mendidih sepanjang siang
menguapkan ke udara panas hingga hangat senja
menjelang malam berkeciak menyuling
dengan tiupan kelam yang panjang dan dingin
kembali cair menggantung di ujung fajar 
hijau kuncup daun-daun membulir bening mata ikan
ditiup semilir nafas, menyapu jatuh ke tanah subur gembur. 
Hujan turun membasuh basahi suciku tumbuh 
ditabur sinar mentari pada bebijian yang dibawa
burung terbang dan hinggap di dahan-dahan pepohonan. 
Dari pagi mencari makan dan senja bersangkar
memberi cinta pada mulut yang menganga lapar
mendulangnya dengan paruh kokoh sendiri dan perkasa
dengan lembut mendidik kumencicit manja 
memberi tanda belajar terbang bebas 
mendewasa dilepas pergi mencari 
makan dan membuat sangkar sendiri. 

Mayoe
Yogyakarta, 11/11/17

Related Posts:

  • Diam Merapi, Leleh Menoreh Diam Merapi, Leleh Menoreh Diamku merapi,  lalu meleleh hingga menoreh hati dengan tinta mendidih lahar pedih, kabutkan mata jalanan. K… Read More
  • Antara Ada dan Tiada Pribumi p { margin-bottom: 0.1in; line-height: 120%; }Oleh: Mayoe Hari ini saya senang sekali, membaca timeline begitu ramai dengan kata “Pribumi”… Read More
  • Tidur dan Bangun Sadarku Tidur dan Bangun Sadarku Datanglah kepada malam yang kelam, dan beristirah dalam jenak wajah pepohonan di kaki gunung-gunung yang temaram … Read More
  • Terbakar Masa Terbakar Masa *mayoe wahai pemilik cahaya dan cinta betapa sakit tak terkira mendapati diri tersiksa oleh gelap, sorot mata sendu&n… Read More
  • Kehidupan I Kehidupan I Dari yang tak terhingga di ketel kehidupanku  direbus dengan air asam garam lautan cinta yang mendidih sepanjang siang … Read More

0 Komentar:

Posting Komentar