Selasa, 21 November 2017

Sudah Minum Kopi Kan? Sini Kubisiki Kau

Sudah minum kopi kan? Sini ku bisiki kau:

Tahu kau, mengapa lelaki hobi sekali potong rambut. Ada yang tiga Bulan sekali, dua bulan sekali, sebulan, dua minggu, bahkan ada yang hanya hitungan hari saja sudah gatal mau potong lagi. Rambut itu daya tahan. Boleh dikata; kesetiaan. Atau lebih syar'i lagi; ialah puasa. Dalam semua itu butuh dan memang merupakan komitmen, kekuatan, pengorbanan juga kesabaran. Bukan main-main pula, semua itu bertujuan. Pasti atau tidak pasti, jelas atau tidak, mengerti atau sama sekali, juga paham atau kekeliruan saja. Dan satu lagi, walau tak sepenuhnya mesti: tentang rindu, atau memang ialah kerinduan. Jadi, lelaki memang hobi bahkan sekali, ingin segera memotong rindunya, kerinduannya. Walau setelahnya banyak juga yang menggerutu, sampai menyesali; kependekan lah, potongannya kurang pas lah, modelnya gak sesuai lah. Lalu ingin lekas panjang lagi dengan kemudian ingin segera momotongnya lagi. Terus begitu, berkali-kali dan telah mentradisi jaman ini.

Lain hal dengan perempuan. Daya tahan, kesetiaan, dan betah berpuasa adalah rambut kepalanya sendiri. Mahkotanya, yang dirawat dengan teliti. Disisir setiap hari, dikramasi, sampai diberi nutrisi. Memang, ini hanya untuk perempuan yang masih menggunakan naluri. Bukan hanyut dibawa tradisi apalagi modernisasi yang belum tentu diketahuinya pasti. Apa lagi yang sejati. Tapi di kedalaman hati, walau kecil sekali, masih lah ada itu naluri. Juga tentang kerinduannya, yang entah teruntuk siapa. Tentu dipeliharanya sedemikian teliti.

Dan aku sendiri, tak terlalu mengerti dengan panjang rambut ini. Jelasnya, belum ada keinginan untuk memotong, terlebih menggunduli. Masih senang tergerai panjang seperti ini. Mungkin juga dengan rindu ini. Masih senang tergerai dikirai sepoi angin. Angin yang entah bertiup dari mana. Barat atau Timur, Utara atau Selatan atau justru dari mata arah pengira hati. Dengan diam-diam menelusup dan berbisik: rindukan aku pagi petang, siang malam yang panjang. Hingga kau memohon-mohon kasih sayang. Dan aku datang dengan berlarian berlipat-lipat panjang, hingga kau mabuk biji kepayang.


Mayoe,  2017

Related Posts:

  • Derik Daun Pintu Menganga Gambar diambil dari situs web pixabay.com Derik Daun Pintu Menganga Betapa ngiri mendengar rintihan  orang-orang tua mengkhawatirkan… Read More
  • [Muridku yang Menggemaskan] Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar “Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!” Aku bukan lagi m… Read More
  • [Tetap Bayi yang Menangis] Baru kusadari; saat seorang bayi yang baru terjaga dari tidur, mendapati diri tak ada seorang pun yang menemaninya, lantas menangis begitu keras… Read More
  • [Guru SD Negeri Amboniki] Photo with SDN Amboniki teachers when our student performs storytelling at a cafe in the district capital  to raise funds to take part in a na… Read More
  • [Keruarga Piara] Mengenal istilah keluarga piara pertama kali adalah saat mengikuti program @pemudapenggerakdesa di Halmahera Selatan. Ke-dua kalinya tentu saat … Read More

0 Komentar:

Posting Komentar