Senin, 21 Oktober 2019

Negara, Saya dan yang Keluarga Pelihara



Sebuah judul, selain untuk daya tarik, ekspresi seni dan pantes-pantes, salah satunya merupakan representasi dari penjelasan yang ada di bawahnya, di dalamnya atau yang dilingkupinya. Namun jangan berburu prasangka dahulu dengan judul di atas.

Walau tersebut kata; Negara, namun di sini tidak akan ada penjelasan tentangnya. Pembaca tentu lebih terpelajar untuk menjelaskannya sendiri.

Di bawah ini akan lebih banyak kenarsisan saya dalam keluarga. Narsis karena cerita ini sepenuhnya hanya dalam persepektif saya sendiri.

Dalam keluarga saya, walau tidak banyak tapi ada beberapa yang dipelihara. Diantaranya ada ayam, itik, kambing, kucing, anjing, juga burung.

Selain hewan piaraan, keluarga juga memelihara beberapa tanaman. Ada yang di kebun, pekarangan, taman, dan ruang-ruang lain yang layak untuk tanaman tumbuh. Mulai dari tanaman yang diambil untuk sayur,  buah, sampai untuk hiasan juga ada.

Sebuah keluarga memerlukan peliharaan, apapun yang dipelihara, karena beberapa hal. Di sini akan saya jelaskan melalui peliharaan yang ada dalam keluarga saya.

Paling pokok yang harus dipelihara adalah ayam, itik atau sejenisnya dan tanaman. Hal ini diperlukan bahkan kami haruskan karena ayam dan beberapa tanaman sayur dan buah merupakan yang harus terpenuhi untuk kebutuhan kami sehari-hari. Yakni kebutuhan akan perut yang, jangan sampai kelaparan.

Kami menanam padi, kopi, singkong, lada, cengkih, pala dan jenis komoditas pertanian lain, tidak lain untuk konsumsi pokok sehari-hari. Untuk menu utama di dalam piring kami. Juga dengan ayam, dan sejenisnya, dan tanaman sayur, walau bukan untuk pemenuhan menu utama dalam piring kami, tapi keberadaannya menunjang, menjadi manu utama kelas dua dalam piring kami. Karena, tanpa menu kelas dua ini, menu utama agak susah tertelan ke dalam perut kami yang belum cukup kelaparan.

Dari ayam, itik dan sejenisnya, hingga tanaman komoditas pertanian, yang kami pelihara adalah bentuk dari sumber perekonomian yang, keluarga kami upayakan.

Kami juga memelihara kambing. Sesuai dengan filosofi dalam pemeliharaan kambing, yang sering digunakan sebagai simbol pendidikan bagi beberapa agama (sejauh ini saya menemukan agama Nasrani dan Islam yang menggunakan filosofi ini), begitu juga dalam keluarga kami. Memelihara kambing adalah bentuk tabungan untuk biaya pendidikan generasi mudanya. Di mana proses pengasuhannya dilakukan langsung oleh yang sedang menempuh pendidikan. Sewaktu SMP saya memelihara dua ekor kambing untuk biaya SPP, Seragam dan biaya transportasi serta jajan di sekolah.

Biaya pacaran, termasuk di dalam anggaran pemeliharaan kambing ini. Karena dulu, jika itu bisa dianggap pacaran, saya atur sedemikian rupa untuk digabungkan dengan biaya transportasi dan jajan. Saya lupa detil pembagiannya, dulu bagaimana.

Dari memelihara kambing, kami menjadi memiliki jaminan untuk pendidikan bagi generasi kami. Artinya, memelihara kambing di sini adalah untuk sumber ekonomi khusus yang tidak boleh diganggu gugat untuk keperluan lain, kecuali sangat mendesak. Itu pun harus dengan catatan; diganti senilai harga pendidikan jika sudah jatuh tempo.

Dengan beberapa peliharaan ini, penghuni rumah sudah cukup riuh mengurusnya. Ada ayam yang harus diberi makan, tanaman yang harus selalu diperhatikan; kapan disiangi, kapan disirami, kapan disulami dan tentu kapan untuk dipanen. Ditambah dengan kambing yang setiap pagi dan sore menuntut untuk kami berikan rumput segar.

Waktu kami untuk mengurus peliharaan yang ada, membuat tenaga cukup terkuras. Sehingga ada beberapa hal, atas keriuhan ini, tidak dapat kami tangani sendiri. Dengan sadar kami mengetahui itu. Yakni adanya tikus di dalam rumah yang sering makan sembarangan. Padi, kopi dan hasil tani kami sering dilahapnya dengan tidak sopan. Kadang dilubangi sudut-sudut penyimpanannya, kadang diambilnya sedikit-sedikit dan tercecer di jalanan menuju sarangnya, kadang juga dikencingi yang membuat simpanan kami menjadi tidak layak untuk dikonsumsi.

Atas hal itu, maka kami merekrut seekor kucing untuk menangani kasus-kasus dan kerusuhan yang membuat penghuni rumah jengkel. Memang untuk memberantas tikus-tikus ini, ada obat mujarab, berupa racun tikus mati kering, yang tidak menimbulkan bau bangkai saat mati di sembarang tempat. Namun ada kekhawatiran, nanti tikus-tikus yang terkena racun ini, bangkainya akan dipatuk-patuk ayam kami. Ini akan merugikan sekali, jika ayam-ayam kami mati satu persatu hanya karena tikus yang makannnya tidak seberapa. Lebih baik kami berbagi dengan tikus, daripada harus kehilangan ayam.

Kami memelihara kucing, selain untuk mengurus kerusuhan dalam rumah, walau kerusuhan tidak benar-benar padam, setidaknya agak terkendali, Ia adalah binatang yang menggemaskan, bisa untuk menghibur kelelahan kami sepulang dari ladang atau sawah. Sifatnya yang manja, wajahnya yang imut dan menggemaskan nmembuat kami cukup memiliki alasan untuk memelihara dan tentu menyayanginya.

Kerusuhan-kerusuhan kecil di dalam rumah sudah cukup terkendali dengan kami memelihara kucing. Namun ada ancaman kerusuhan datang dari luar rumah. Yakni tercipta atas bekerjanya kejeniusan manusia yang berelaborasi dengan keterdesakan hati; pencurian hasil tani kami dengan risiko kami kehilangan dengan sekala besar. Jika kerusuhan oleh tikus di dalam rumah, walau tidak kami kendalikan, dapat kami maklumi dan maafkan, kerena salah satu yang menyebabkannya adalah kejorokan dan ketidak-pedulian isi rumah, kerusuhan dari luar ini mengancam kami kehilangan separuh atau seluruh hasil tani kami. Jika hasil tani kami hilang, lantas menu utama dalam piring kami apa? Kami sekeluarga makan apa?

Maka ancama ini menduduki status serius, dan urgen. Kalau dibiarkan, tahu sendiri, kami akan mati kelaparan, walau semelimpah apapun hasil taninya, kami tidak bisa makan jika ancaman ini dibiarkan. Ini kalau ancaman benar-benar terjadi. Jika tidak pun, ini akan membuat kami selalu merasa was-was. Rasa was-was ini, yang membuat pikiran kami tidak tenang. Hasilnya; fokus dan keseriusan kami menggarap lahan pertanian menjadi berkurang. Akibat kekurangan ini, dasar hatinya menjadi resah, menu makan yang masuk ke perut kami membuat badan kurus tidak sehat. Ini mengancam kematian yang tidak khusnul khotimah.

Adanya ancaman yang mulai terfikir ini, kami perlu menciptakan rasa aman untuk menjamin kehidupan, dan saat kematian datang, kami mendapat kematian yang khusnul khotimah. Maka secara praktis dan subyektif, kami merekrut seekor anjing untuk menjadi benteng pertahanan kami. Atau setidaknya untuk memberi ancaman balasan kepada pengancam melalui kerusuhan dan pencurian dari luar rumah.

Kami memilih memelihara anjing, karena tidak mampu untuk membuat benteng kokoh seperti tembok besar China. Kami juga tidak mampu membayar militer sekuat Korea Utara atau USA.

Kalaupun anjing kami tidak bisa melumpuhkan ancaman yang mencoba masuk rumah kami, dengan memburu dan menggigit, setidaknya Ia bisa menggonggong cukup keras untuk memberi isyarat kepada penghuni rumah yang menunjukan adanya ancaman datang. Dengan itu kami dapat segera merespon dengan siaga.

Oleh karena anjing bukan manusia, Ia tidak bisa membedakan mana  ancaman dan mana tamu, maka kami selalu menyiapkan respon untuk keduanya. Jika tamu yang datang, maka kami segera meredamkan suara anjing, dan memintanya untuk kembali ke kandang. Jika yang digonggongi adalah pencuri, maka kami sudah siap untuk berkelahi.

Namun jika yang datang adalah tamu yang akan mencuri atau pencuri yang bertamu, bagaimana?

Ya kami siapkan pula untuk keduanya. Padamkan gongongan anjing, dan siapkan anjing untuk membantu kami berkelahi.

Untuk itu jangan larang kami memelihara anjing. Selain untuk mejaga keamanan, anjing adalah binatang yang cukup setia, selagi Ia kita beri makan rutin. Minimal pagi dan sore. Tidak perlu muluk-muluk juga memberikan makanan khusus atau vitamin tertentu, cukup apa yang kita makan, itulah yang harus anjing piaraan kita makan.

Rasa aman sudah kami miliki dengan memelihara anjing di halaman rumah. Namun kurang lengkap rasanya, jika rasa aman saja untuk berada di rumah. Sebagai manusia, untuk hidup secara layak, membutuhkan sumber inspirasi. Setidaknya inspirasi untuk pencaharian hidup.

Adanya kebutuhan ini, cukup memberi kami alasan untuk memelihara seekor burung dalam sangkar bambu. Kami memilih jenis burung kutilang. Walaupun hanya burung kutilang, kami tidak sembarangan memutuskan untuk mengambil dan memeliharanya. Pertama kami tidak mampu membeli burung perkutut atau burung-burung mahal lainnya.

Kedua, burung kutilang adalah burung yang cukup merakyat. Ia begitu dekat dengan kehidupan kami. Jenis burung ini selalu membuat sarang di pohon-pohon yang kami bisa jangkau. Kadang di pohon kopi, kadang di pohon gamal, kadang di pohon yang dirambati tanaman lada, kadang di pohon cengkih dan pohon-pohon lain yang sering kami tandangi. Dari segi makanan pun, burung ini tidak terlalu pilih-pilih. Makanan utamanya adalah buah pisang atau pepaya, yang merupakan buah konsumsi kami hari-hari. Namun Ia juga mau memakan, jika kita berikan nasi, konsentrat, jagung rebus dan makanan lain yang teksturnya lunak.

Lantas apa yang membuat inspirasi dari seekor burung kutilang?

Jawabannya tentu bukan hanya karena ocehannya yang merdu atau kehidupannya yang merakyat, yang sudah saya ceritakan barusan. Walaupun dua hal tersebut bisa menjadi pemicu untuk menimbulkan inspirasi. Paling utama adalah adanya kecintaan secara khusus tanpa adanya embel-embel fungsi tertentu seperti pada ayam, kambing, kucing dan anjing, kecuali dari sisi keindahan saja.

Inilah perlunya seni dalam kehidupan seorang manusia, setidak-tidaknya untuk pribadi dalam rumahnya, melalui burung yang Ia piara dalam sangkar. Singkatnya begitu kata orang-orang yang memelihara burung, bukan untuk komoditas ekonomi, tapi harus ada walau seekor di rumahnya.

Cukup panjang juga pejelasan persepktif pribadi saya; tentang peliharaan mendasar yang ada dalam rumah tangga. Mulai dari kebutuhan perut, ketentraman dalam rumah, jaminan rasa aman atas ancaman dari luar serta kebutuhan akan inspirasi untuk pencaharian.

Walaupun saya belum bisa sepenuhnya memenuhi semua itu, setidaknya saya sudah membaca (menggunakan perspektif pribadi saya yang sangat subjektif) dari yang dipelihara di rumah kami.

Di akhir tulisan ini saya ucapkan selamat atas pelantikan Bapak Joko Widodo dan KH. Ma’uf Amin menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024. Semoga bapak berdua dapat merepresentasikan kebutuhan Rakyat Indonesia dalam lima tahun ke depan.

Sabtu, 12 Oktober 2019

[Cinta Pertama]

Foto PM XVIII Konawe.
Diambil dari WA Group; KONAWE . PM XVI - PM XVIII, dikirim oleh Roidanana

Catatan ini berawal dari permintaan salah satu Pengajar Muda Indonesia Mengajar angkatan 18 yang sedang bertugas di Konawe. Di tengah kesibukan mereka bikin berantakan rumah Ibu Dwi (orang tua angkat PM Konawe), tengah malam melalui Butet, mereka minta disemangatin.

Terang saja, saya bingung, dan bertanya balik, apa yang bisa membuat semangat?

Sajak, puisi, kata Butet.

Adede... masih ada ya jaman sekarang orang baca puisi jadi semangat bertambah. Padahal sudah lama kukuburkan asumsi bahwa puisi bisa kasih semangat.

Mengapa kukubur?

Karena telah mati terbunuh oleh semangat ekonomi.

Mau tidak mau, malam itu kubangkitkan kembali asumsi yang telah terbunuh dari dalam kuburnya. Malam-malam, saat tetangga tidur pulas, saya harus bakar kemenyan dan dupa, mencari bunga-bunga di taman depan rumah, yang tumbuh liar, lebih tepatnya semak yang serupa taman, atau boleh dibolak-balik, suka-suka yang mana.

Walau berhasil kubangkitkan, itu arwah gentayangan, sempat kupertanyakan ke diri sendiri; lho puisi, sajak kok dipesan, diminta. Bukannya Ia tumbuh liar serupa hutan tropis, atau tumbuhan kaktus di tengah gurun, atau ikan-ikan kali yang mulai jarang kujumpai sekarang. Tapi ya udah, tak apa, toh keliaran itu bisa dibikin, bisa dipesan, bahkan bisa diantar dengan fasilitas free ongkir.

Maka jadilah tulisan di bawah ini, dengan membangkitkan arwah dari kubur untuk bergentayangan dan bekeliaran sampai ke Konawe. Semoga mereka bisa menikamati liarnya hutan, kaktus di tengah gurun, ikan-ikan yang mulai punah, dan syukur mereka bisa menghidupi keliaran itu.

Bahasa LSM Lingkungan Hidup; Pelestarian.

Tapi kalau saya lebih nyaman pakai; Peliaran.

Selamat menikmati, syukur bisa buat kontemplasi.

[Cinta Pertama]

Siapa yang lahir pertama?
Bukan!
Bukan Adam atau Malaikat
dan jelas bukan iblis yang sok senior itu.

Lalu siapa?
Cintalah yang lahir pertama,

Ia menjelma menjadi
sesuatu yang begitu jenius, perkasa dan tak kenal lelah
merupa diri sebagai iblis

lalu Ia menjelma menjadi
sesuatu yang begitu lembut, tajam dan sensitif
merupa diri sebagai malaikat

Cinta tak menemui kepuasan
pada jelmaan yang telah Ia lalui
justru membuatnya serba terbatas

pada suatu keadaan Ia begitu resah
mengejar impian-impiannya segenap jiwa raga
pada satu keadaan lagi, Ia merasa lekas berputus asa.
Cinta lelah, selalu berada pada keadaan seperti ini.

Lantas dilihatnya sesuatu tak berdaya;
rendah, pasrah, dan sangat lemah
hingga tak kuasa menahan keharuannya
air mata cinta jatuh
membasahi tanah di bawahnya.

Bukan cinta, jika terlalu cepat menyerah
hati dan pikirannya kacau betentangan
saling menahan, saling mewalan
dan tanah basah di bawahnya
menjadi korban pertentangan

direnggut, digenggam, ditekan

akulah manusia
hasil dari pertentangan
akal dan perasaan

akulah yang memimpin kalian
untuk menyelaraskan pertentangan
demi cinta yang kalian bawa
dan tidak ada yang lain, selain hanya cinta
yang harus terpancar ke seluruh alam

Mayoe
5/10/19

Selasa, 01 Oktober 2019

Ekspedisi MaxLare Coffee

Foto diambil dari IG @ardinarasti6

Tadi saat perjalanan mengantar kopi @maxlare.co di salah satu outlet ekspedisi pengiriman, kulewati gang rumah seorang yang dulu pernah kutaksir, dan sempat PDKT. Sudah tentu seorang gadis ya, dan jangan meragukan daya taksirku!

Saat melintas jalan yang dipotong gang arah rumah gadis itu, di dalam dada semacam ada yang berdesir. Bahasa kerennya; tratapan.

Sepanjang jalan jadi kepikiran. Seiring handle gas motor semakin kutarik ke belakang, demikian juga pertanyaan yang muncul di kepalaku, mirip letupan yang terjadi di knalpot. Di manakah dia sekarang, sudah menikah atau belum, apa sudah punya anak, tinggal di rumah suaminya atau masih di gang itu, dan sederet pertanyaan lain yang ingin mengungkapkan; kangen.

Sedang asik memanjakan pertanyaan-pertanyaan dalam lamunan dan belum sempat mencari jawaban, sebuah kesialan mengagetkanku; sepersekian detik motor yang kutunggangi menabrak polisi tidur cukup tinggi dengan kecepatan lumayan laju. Ini sebuah peringatan, kalau nyetir tidak boleh melamuni mantan, apa lagi kenangan manisnya! Selain sial, itu menguras energi untuk mencari cara agar bisa balikan.

Namun dasar sistem kerja isi kepalaku memang kurang ajar, sehabis mengumpat, justru menimbulkan pertanyaan lain yang lebih menjerumuskan pada jurang kenangan. Apa si yang membuat tertarik pada gadis itu, sampai mau-maunya melakukan PDKT?

Bahkan sampai saat ini aku sendiri menentang pertanyaan itu. Karena, jawaban apa yang akan diberikan oleh seorang anak SMP kelas 3, masih cukup polos, dari udik, dan bercita-cita masuk STM yang tidak suka dan tidak akan tawuran, kecuali saat terdesak. Tapi jadi menyesal, setelah melihat STM demo dengan gagah berani dan tak gentar melawan barisan polisi di Senayan, kemarin. Kenapa juga dulu tidak suka ikut tawuran, dasar cupu!

Lamunanku terputus, saat sampai di outlet ekspedisi pengiriman yang dikelola beberapa santri, dan pondok pesantrennya persis ada di belakang outlet. Terlebih saat kutuliskan alamat di tubuh paketan bertujuan Salatiga. Cepat-cepat kuselesaikan pekerjaan itu, agar bisa segera melanjutkan lamunan. Namun santri yang sedang berjaga justru membeberkan beberapa paketan yang kukirim kemarin lusa; satu sudah transit di Jakarta dan satu lagi baru sampai Bandar Lampung.

“Suwun mas, yang penting sudah terkirim.” Jawabku dengan berusaha seramah mungkin.

Setelah kubayar dengan uang pas tiga pulu dua ribu rupiah, langsung ngacir dengan berpamitan “Suwun mas, Assalamualaikum” dan kulanjutkan melamun.

Setelah kupikir-pikir lagi, ternyata dulu menyukainya karena sering nonton sinetron yang dibintangi mbak Ardina Rasti. Tapi bukan karena alur cerita atau kata-kata romantis dalam sinetron yang bikin remaja malu-malu kucing saat tahu Ia menonton tidak sendirian, melainkan ada ibunya siap menerkam dari belakang.

Pada waktu itu aku sudah benar-benar mengagumi mbak Ardina Rasti, kalau tidak bisa dikatakan menyukai, karena beliau artis terkenal dan terpelajar, dan aku hanya pringas-pringis sambil belajar. Maafkan saya mbak Ardina Rasti.

Tapi itulah risiko menjadi bintang peran atau apapun yang berada di bawah lampu sorot media. Harus merelakan segala respon, baik yang terungkap atau yang hanya tersimpan atau sekedar terlintas di benak penontonnya.

Sekarang saya begitu kagum dan bertambah setelah tahu mbak Ardina Rasti adalah seorang yang aktif membela korban kekerasan pada perempuan, dan ternyata cucu dari bapak pers nasional; Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo. Bertambah satu lagi, sangat menyayangi anaknya yang lucu dan menggemaskan. Serta ter-update di akun Instagram miliknya menampilkan pesona kecantikan yang alami, tanpa polesan kosmetik keartisan. sehingga membuat aura kecantikannya semakin terasa. Duh duh ...

Saat PDKT, lha kok terbayang gadis cantik yang kutaksir itu mirip mbak Ardina Rasti. Oooo memang kebangetan, kok ya sempat pede banget, dulu itu!

Tapi sungguh, senyumnya, lirikannya, caranya menunduk, saat Ia menoleh ke belakang, bahkan saat sebuah kata terucap dari bibirnya, lha kok yang terbayang adegan-adegan dalam sinetron atau iklan atau sebuah wawancara infotaiment yang fokusnya adalah wajah mbak Ardina Rasti. Begitu juga sebaliknya, saat menonton infotaiment, iklan dan adegan-adegan sinetron yang dibintangi mbak Ardina Rasti selalu membuat teringat dia; gadis taksiran itu.

Lha ini suka, kagum, atau jatuh cinta jenis apa?

Tapi mungkin beginilah cara kerja perasaan, yang sering kita sebut cinta atau sejenisnya. Semoga yang kulakukan dalam fikiran atas objek cerita ini, bukan bentuk upaya perusakan atau bahkan pengingkaran terhadap sesuatu yang sedang mengikat kesetiaan.

Pantes aja dulu pas PDKT, lewat sms hp poliponik, jawaban yang ke luar; nggih mas, pripun mas, onten nopo mas, sampun mas, mboten mas ...

Mas-mes mas-mes tok. Lha pantes, sing tak sir ki bakno njobo njero ayune artis je. Bedhes, kok yo pede mbiyen kae!

Rabu, 18 September 2019

[Tetap Bayi yang Menangis]


Baru kusadari; saat seorang bayi yang baru terjaga dari tidur, mendapati diri tak ada seorang pun yang menemaninya, lantas menangis begitu keras.

Juga saat seorang bayi baru lahir, dengan sekuat tenaga menangis. Mungkin begitu takut, dalam hidupnya; di dunia yang riuh ini, tak benar-benar ada orang, yang akan menemaninya sampai mati.

Lantas, apa yang membuat orang-orang dewasa mampu bertahan dengan tidak lagi menangis dalam menjalani hidupnya?

Kira-kira, seiring dengan usianya, mereka telah pandai menghibur diri. Atau setidaknya telah cukup terampil menyembunyikan semua jenis tangis. Karena jelas, diantara mereka akan saling mengejek untuk sebuah kecengengan. Bahkan diri sendiri. Ini benar-benar lucu jika para bayi tahu, tentu menjadi hiburan tersendiri. 

Orang dewasa, juga ingin selalu merasa kuat dan mampu. Untuk itu, semua perlu diupayakan, mulai dari manipulasi sampai tipu muslihat diri.

Padahal, tak ada diantara mereka yang benar-benar bersama, walau mereka sering duduk bersama, jalan bersama, tidur bersama, makan bersama dan hal-hal bersama lainnya.

Bagaimana tidak? 

Mereka duduk, jalan, bercinta, tidur, makan bersama, dalam waktu dan tempat yang sama tapi, apa rasa mereka sama, tujuan mereka sama, kesan mereka sama, lamunan mereka sama, perselingkuhan fikirian mereka sama?

Tidak, mereka benar-benar sendiri. Sama seperti seorang bayi yang baru saja terjaga dari tidur mendapati diri tak ada seseorang di sisinya. Juga seperti seorang bayi baru lahir, yang begitu takut, mendapati diri, tak seorang pun menemani sampai habis usianya. Untuk itu mereka perlu beraktifitas sebagai bentuk manipulasi dan tipu muslihat diri dengan ketabahan yang luar biasa.

tlb
17/9/19
Mayoe

Minggu, 16 Juni 2019

[Muridku yang Menggemaskan]



Jikalau aku melihat wajah anak-anak
di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia

Puisi Bung Karno di atas sudah tersebar luas di dunia maya. Berjudul; Aku Melihat Indonesia, dari buku; Bung Karno dan Pemuda.

Sengaja saya awali cerita ini dengan kutipan puisinya Bung Karno. Harapannya; hati yang membaca tersambar gelora Bung Karno yang hidup di setiap halaman-halaman revolusi Indonesia, hingga berlipat-lipat dari usianya. Kalau tidak tersambar, juga tidak apa-apa. Setidaknya saya sedang belajar menyampaikan, walau hanya sesajak.

Dari puisi di atas, setiap melihat anak-anak di mana pun berada, terlihatlah Indonesia. Di desa, di kota, di gunung, di pasar, di tempat penyewaan game, di sumber-sumber Wi-Fi, di sungai, di pantai, di kebun dan terlebih di bangku-bangku sekolah.

Sekian banyak itu, dengan mata yang bersina-sinar dan berteriak; "Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!” mereka memamggil harapan yang menggemaskan sekaligus tantangan yang mencemaskan.

Anak muridku di SDN Amboniki sungguh menggemaskan dengan bakat--yang pernah kukatakan--tak habis-habis. Ada Frisa yang cakap mendongeng; Rehan dan Alsat yang pintar dan merdu sekali bersenandung; Andra yang pandai menggambar; Naila yang lincah menggemulai tari-tarian; Alfrida dan Augnisa yang lekas fasih berbahasa; Arga, Asma dan Afdal yang tangkas memainkan aneka permainan. Dan lainnya yang tidak akan cukup untuk dituliskan di sini.

Rehan satu diantara sekian muridku yang menggemaskan itu. Ia duduk di kelas IV bersama tiga temannya; Asma dan Augnisa. Ia belum cukup lancar membaca dibanding dua teman sekelasnya. Namun dalam ilmu hitung, Ia yang cukup cepat menangkap dan mudah mengingat kembali apa yang sudah dipahaminya. Terlebih mengingat lirik-lirik dan nada pada setiap lagu dan musik yang pernah didengarnya.

Bakat dan kemampuannya ini mendapat tempat saat Rehan mengikuti lomba lagu solo daerah pada rangkaian acara Latoma Fun Camp. Ia berhasil menjuarai lomba tersebut.

Kesempatan berikutnya bukan mengikuti lomba, namun tampil di sebuah kafe mengisi acara penggalangan dana untuk memberangkatkan adik tingkatnya (Frisa) mengikuti lomba dongeng tingkat nasional di UGM, Yogyakarta. Saat itu Rehan menampilkan suara merdunya. Ia membawakan beberapa lagu yang Ia pilih sendiri dan beberapa yang direques para pengunjung kafe.

Selain itu, Rehan juga mendeklamasikan puisi WS. Rendra yang fenomenal itu; Makna Sebuah Titipan (sajak ini sering dideklamasikan oleh pejabat-pejabat, tapi tidak tahu bagaimana penghayatan dalam hidup mereka). Mengetahui daya tangkap Rehan yang cemerlang, ekspresi yang penuh penghayatan dan tegas serta kepercayaan diri yang tak diragukan, sebenarnya sudah kusiapkan Sajak Sebatang Lisong-nya WS. Rendra untuk dideklamasikannya juga. Tapi ada kekhawatiran, nanti disangka mendikte anak yang sedang tumbuh dengan sesuatu yang belum waktunya diterima anak seusianya.

Untuk melihat bagaimana penampilan Rehan mendeklamasikan Makna Sebuah Titipan-nya WS. Rendra, bisa klik link https://youtu.be/nlkBm5CDWqY

Saya merasa terwakili dan nyaman sekali saat menyaksikan Rehan tampil percaya diri, penuh penghayatan dan berimprovisasi dengan bahasa tubuh yang begitu luwes. Bangga sekali, bahkan kebanggaanku cukup berlebihan melihat penampilan Rehan. Hal ini karena, ketika seusia Rehan, aku adalah anak yang gampang rendah diri dan tak bisa apa-apa (Tidak tahu apa bakatnya). Selain itu, karena aku melihat karakter Rendra--setidaknya kutangkap dari penuturan para sahabat beliau yang masih sehat, di beberapa ceramah--ada pada diri Rehan. Diantaranya yang paling menonjol adalah pemberani dan kritis.

Rasa senang, bangga, kagum bercampur gemas menjadi bertambah saat menyaksikan penampilan Rehan membawakan lagu-lagu India. Sunn Raha Hai, adalah judul yang Ia ajukan saat kami sedang latihan deklamasi puisi. Sebelum kucari di salah satu Platform Video Online ternama, Rehan memberi keterangan, bahwa lagu tersebut baginya cukup sulit dinyanyikan ketimbang lagu-lagu India lainnya.

Bahkan saat gladi bersama relawan pemain keyboard, kakaknya cukup kerja keras memahami musiknya. Tapi bukan murni karena lagunya yang sulit, si. Lebih karena memahami Rehan yang belum terbiasa diiringi dengan alat musik modern seperti keyboard. Sehingga membuat Rehan perlu beradaptasi dengan apa yang ada di hadapannya. Juga telah tersusun meja kursi kafe yang siap dipenuhi pengunjung. Semua itu membuat Rehan begitu tertantang. Namun saya yakin dia mampu melampaui tantangannya.

Rehan menyukai tantangan.

Senin, 03 Juni 2019

[Keruarga Piara]


Mengenal istilah keluarga piara pertama kali adalah saat mengikuti program @pemudapenggerakdesa di Halmahera Selatan. Ke-dua kalinya tentu saat menjadi @pengajarmuda yang ditempatkan di Kabupaten Konawe. 

Kebetulan dua kali tugas di daerah selalu mendapat wilayan Indonesia bagian Timur. Sehingga budaya dan karakter masyarakatnya pun masih saling berkaitan. 

Begitu juga dengan kebiasaan mengangkat keluarga piara. Sejauh yang saya jumpai dan rasakan sendiri, menjadi anak piara atau saudara piara selalu menjadi perhatian khusus. Apa-apa selalu menjadi keutamaan keluarga. Sampai-sampai masyarakat setempat menganggap bahwa rasa sayang terhadap anak dan saudara piara jauh lebih utama ketimbang anak atau saudara sendiri.

Soal makanan misalnya; selalu mendapatkan bagian paling enak, paling banyak, dan paling pertama. Begitu juga terkai tempat istirahat selalu mendapat bagian yang paling nyaman di tengah rumah. Dan banyak lagi yang diberikan demi anak dan saudara piara secara berlebih. 

Gambaran ini bukan sebagai citra yang dibuat-buat. Melainkan sebuah karakter budaya yang sudah sejak nenek moyang dahulu diturunkan.

Di Konawe saya menjadi anak piara dari keluarga bapak Hikas dan Ibu Masnia atau lebih akrab dipanggil papanya dan mamanya Reski. Keluarga ini begitu baik menerima saya. Juga menerima dua orang @pengajarmuda sebelum saya.

Ada hal unik yang cukup menarik dari keluarga piara saya ini. Di mana setiap orang yang menjadi anak piara mamanya Reski, harus bisa Molulo--tari kaki khas masyarakat Tolaki. Setiap ada pesta dan membuka acara Molulo, mamanya Reski selalu mengajak, bahkan memaksa kami untuk ikut pergi pesta dan masuk dalam lingkaran Lulo. 

Padahal saya termasuk pribadi yang kecerdasan kinestetiknya kurang. Sejak kecil saya kurang suka kegiatan yang berkaitan dengan gerak tubuh, seperti olahraga, tari dll. Namun sejak menjadi anak piara mamanya Reski, daya tangkap saya akan gerak menjadi meningkat. Hanya hitungan minggu saya sudah mempu menguasai berbagai gaya tari Lulo. Dari gerak kaki sederhana sampai yang rumit. 

Bagaimana tidak, saya selalu ditarik, digandeng dan tidak dilepas lagi dari lingkaran Lulo. Hanya boleh berhenti kalau pakaian yang melekat di tubuh sudah basah kuyub oleh keringat. Untuk itu setiap pergi pesta, diharuskan mamanya Reski untuk selalu membawa pakaian ganti. Setelah berganti pakaian dan istirahat sebentar, sudah pasti digandeng lagi. 

Perlu diketahui, acara Molulo ini dimulai dari ba'dha Isya sampai menjelang subuh. Dan mama Reski adalah Rajanya Lulo se-kecamatan Latoma. Sehingga mama Reski akan malu jika ada anak piaranya yang tidak bisa Molulo. Jadi mau tidak mau, harus bisa. 

Demi itu, pertama mencoba saya hanya terseret ke kanan dan ke kiri dengan kaki bolak-balik terinjak dan terkilir. Tapi jangan bilang mama Reski Raja Molulo kalau tidak berhasil memaksa saya bertahan sampai 10 kali putaran Lulo dengan diameter lingakaran 20 meter saat awal mencoba. 

Namun hasilnya masyarakat sampai heran "paguru sudah seperti orang asli di sini." Saya pun dengan puas menyambut dengan tawa gembira. 

#19ceritaPM 
#Beran19abung 
#Beran16eda 
#PMXVI #PMXIX

#Beran19abung 
Daftarkan dirimu di bit.ly/DAFTARPM19

Sabtu, 01 Juni 2019

[Hari Pertama--Bertabur Bunga--di Desa]


Siapa yang tak terharu disambut dengan cara seperti dalam video ini. Sangat sederhana, tapi kesannya tak akan hilang. 

Video ini diambil dan disusun oleh Buguru ketjeh @_diyans yang sejak 2017 s.d 2018 bertugas di desa Amboniki, Konawe. Kemudian saya yang melanjutkan tugasnya pada satu tahun berikutnya. 

Dalam video ini adalah siswa-siswi SDN Amboniki. Jumlah mereka memang tak banyak, namun bakat, kreatifitas dan inisiatif mereka tak habis-habis. 

Adanya ceremony penyambutan dengan tabur bunga ini sebenarnya tanpa rencana dan tanpa sengaja. Setidaknya begitu penuturan @_diyans. 

Pagi itu saya dan diyan baru sampai di desa. Saya diantar sama diyan dong--khawatir nyasar kalau dibiarkan sendiri, katanya. Haha ini beneran ngarang. 

Sebenarnya kami berangkat dari Ibukota Kabupaten sudah sejak satu hari sebelumnya. Namun kami harus bermalam di tengah perjalanan. Menginap di desa tempat tugas Buguru @keziapuspitaa yang dilanjutkan Paguru @legi_oktaputra desa Wowalatoma. 

Faktor jalanan berlumpur dan musim hujan membuat mobil pickup yang mengangkut kami tidak lancar berjalan. Beberapa kali harus tertanam di lumpur. 

Untungnya ada utusan orang tua asuh @keziapuspitaa & @legi_oktaputra yang datang menjemput saat mobil sudah sama sekali tak mau bergerak dari pelukan lumpur Latoma. Itu pun kami sampai di Wowalatoma sudah jam 11an malam. 

Memang benar kata pepatah; berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Setelah bersakit-sakit gulat dengan lumpur dan puasa lagi, paginya bersenag-senang dengan anak-anak desa Amboniki di halaman sekolah menabur bunga dan main bola lagi. 

------------------------------------------------------------

Cerita selamanya meninggalkan kesan. Ini adalah kesan tak terlupakanku saat awal menginjakkan kaki di desa penempatan. 

Rasakan kesan-kesan indah dalam balutan kesederhanaan dengan #Beran19abung menjadi @pengajarmuda angkatan XIX di @ind_mengajar.

#19ceritaPM 
#Beran16eda 
#Bera19abung 
#Indonesiamengajar
#Pengajarmuda
#PMXVI #PMXIX 

Jumat, 31 Mei 2019

[Gondrong Semasa Pelatihan Intensif CPMXVI]


Tagline pendaftatan Pengajar Muda angkatan 16 adalah #Beran16eda. Sebagaimana pada cerita sebelumnya; tentang kenapa menjadi Pengajar Muda--karena menjadi Pengajar Muda itu cita-cita saya. Maka dengan tagline #Beran16eda saya masuk prlatihan dengan kondisi rambut dan jenggot gondrong.

Hari pertama kumpul untuk pelatihan, saya termasuk yang datang di awal waktu.  Saat itu baru ada beberapa CPM16 yang sudah datang dan duduk di depan pendopo kantor Indonesia Mengajar (Senbaw). Kira-kira lima orang kusalami dengan tas punggung masih dalam gendonganku. Sambil berjabat tangan tentu saling sapa, dan sebutan 'Bang' selalu teriring menyapa.

Usut demi usut--selain karena tampangku yang memang mengundang untuk dipanggil bang (udah tua)--ternyata ada juga seorang dari officer yang juga gondrong. Kiranya mereka menyangka saya adalah officer itu. Walau sama sekali tak mirip--dan tentu lebih ganteng dia-- tapi mereka menyangka saya adalah bang @bung_ucok.

Lalu saat sudah berhari-hari di dalam camp pelatihan--waktu itu di Indosat Training Centre Jatiluhur--dan sering dijenguk oleh para officer IM, selalu di berondong; "brur, kakakmu datang, kakakmu datamg tu," aku mah gak apa-apa dan santai. Tapi kan khawatir bang @bung_ucok gak berkenan, hahahaa

Nah dari sini saya berusaha untuk menekankan kata BERANI dari tagline #Beran16eda. Bukan hanya dengan kata yang lantang, tapi juga dengan ekspresi dan tindakan yang tak kalah lantang.

--------------------------------------------------------------------------

Pada pendaftaran @pengajarmuda XIX kali ini @ind_mengajar mengusung tagline masih dengan kata BERANI pada awalannya; #Bera19abung.

Untuk itu, saya mengajak--bagi yang masih memiliki kesempatan dan benar-benar berani--untuk #Beran19abung dengan @ind_mengajar melalui pendaftaran @pengajarmuda XIX.

#19ceritaPM 
#Beran19abung 
#Beran16eda 
#PMXVI #PMXIX

Kamis, 30 Mei 2019

[Menjadi Pengajar Muda itu Cita-cita, Terus Berada dalam Gerakan itu Cinta]


Satu tahun lalu, tepatnya pertengahan bulan Mei saya beserta Pengajar Muda angkatan 16 lainnya dilepas untuk berangkat ke daerah penempatan masing-masing. Ada semacam ritual wajib bagi para PM (Pengajar Muda) seblum dilepas ke daerah, yaitu mendengar wejengan dari para Founder.

Kala itu tim training dari kantor Indonesia Mengajar menyebutkan beberapa motivasi dan perjuangan para Pengajar Muda dalam menyelesaikan proses seleksi dan pelatihan.  Salah satunya; ada PM yang sebelumnya telah mendaftarkan diri sebanyak tiga kali baru berhasil lolos sampai benar-benar menjadi PM. 

Dipandu oleh teman-teman PM, seisi ruangan menoleh dan menunjuk padaku dengan pandangan heran sambil melepas tawa. Itu artinya akulah yang paling berpengalaman mengikuti seleksi menjadi PM--kalau gak bisa dibilang paling 'tua', dan tertawalah kalian melihat orang tua tak tahu malu ini.

Di situ lah saya mulai bingung mengolah rasa. Apakah harus bangga atau haru atau justru malu? Dan sesingkat tolehan mereka, saya hanya bisa membalas dengan sesungging cengiran.

Cengiran itu mengulas tiga tahun ke belakang. Bahwa setiap tahun namaku terpampang di website Indonesia Mengajar dalam pengumuman lolos tahap I dan siap mengikuti tahapan II; Direct Assessment. Dan Februari 2018 adalah akhir dari keikutsertaanku dalam seleksi tahap II.

Pada rangkaian seleksi tahap II, bagiku sudah tak asing lagi, secara keseluruhan hampir sama dari tahun ke tahun. Tiba waktunya interview, saya kebagian berhadapan dengan dua orang lingkaran inti dari Indonesia Mengajar. Satu nama adalah salah satu Founder dan satunya lagi adalah seorang dari bagian Direksi.

Entah ini kesempatan atau ancaman. Tapi di sana justru saya curhat; bahwa saya sudah daftar menjadi PM sebanyak tiga kali, dan tak satupun berhasil lolos. 

Karena saya percaya perjuangan itu berbatas waktu, maka saya ungkapkan juga; bahwa ini kali terakhir saya mengikutsertakan diri dalam segala bentuk proses seleksi menjadi PM. Jika kesempatan terakhir ini juga tak lolos, terpaksa saya harus mencari jalan lain dalam gerakan-gerakan serupa. 

Curhatan itu, memancing banyak pertanyaan lain dan bertubi dari dua orang di hadapanku itu. Hingga seolah tanpa sadar, saya sudah bercerita tentang hal apa saja yang telah kukerjakan selama tiga tahun terakhir selain mendaftar dan ikut seleksi menjadi PM. 

Bincang hangat dengan dua orang assessor itu seperti tidak sedang interview, begitu santai dan tiba-tiba saja selesai. Kami berjabat tangan erat-erat. Entah pertanda apa itu, pikirku kala itu. Jelasnya saya telah pasrah, apapun hasilnya, berada atau tidak dalam lingkungan IM secara langsung saya akan terus bergerak dan tumbuh tanpa bisa ditunda-tunda. 

Seperti makna filosofis dari logo Indonesia Mengajar; rumput muda yang sedang tumbuh, selagi waktu berjalan tak bisa ditunda lagi pertumbuhannya. 

Dari ini, kiranya saya sudah masuk dalam kategori #Beran19abung. Kalian yang masih muda-muda bagaimana? Apa juga #Beran19abung menjadi Pengajar Muda angkatan XIX? Ikut juga menjadi bagian dari #19ceritaPM

Kamis, 18 April 2019

[Guru SD Negeri Amboniki]

Photo with SDN Amboniki teachers when our student performs storytelling at a cafe in the district capital 
to raise funds to take part in a national tale competition in Yogyakarta.

Perkenalkan ini adalah guru-guru yang ada di SD Negeri Amboniki. 

Dari kiri ya; adalah Pak Karmawan. Guru Garis Depan yang direkrut langsung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Pak Karmawan adalah guru Penjas. Di sekolah pak Karmawan rajin sekali mengajak anak-anak olah raga. Saat apel pagi misalnya, anak-anak diajaknya senam.

"Walau sekedar lima menit, yang penting ada gerak fisik sebelum belajar." kata pak Karmawan suatu pagi pada saya. Memang hal ini bisa membangkitkan anak-anak berpartisipasi aktif saat belajar.

Berikutnya adalah Pak Ismansyah. Beliau juga Guru Garis Depan, mengajar sebagai Guru Kelas VI. Beliau cukup aktif melayani setiap perkembangan anak-anak di dalam kelas. Selain itu juga sabar menghadapi anak-anak yang membutuhkan waktu lama untuk memahami suatu pokok materi. 

Selain aktif di sekolah, pak Isman (panggilan akrabnya) juga aktif mengkoordinir teman-teman Guru Garis Depan (GGD) di Kecamatan. Seperti saat mengadakan kegiatan 'Latoma Fun Camp' beliau langsung berinisiatif menggerakkan teman-teman GGD se-Kabupaten untuk terlibat. Berbondong-bondong GGD naik ke Latoma untuk berkemah bersama guru dan siswa se kecamatan Latoma. 

Lalu, seorang Ibu di samping saya adalah Kepala Sekolah kami yang paling keren; Ibu Hadia. Beliau selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang menunjang pendidikan. Mulai dari mendampingi anak-anak berkemah, mengikutkan anak-anak olimpiade sains kuark sampai begitu antusias mendukung dengan semua daya upayanya memberangkatkan Frisa Ramayani (siswinya) mengukuti Final Lomba Cerita Anak di Yogyakarta. 

KS (biasa kami memanggilnya) juga begitu aktif melakukan pembangunan di sekolah, mulai dari perumahan untuk guru sampai toilet bersih untuk warga sekolah. 

Sebelahnya KS adalah Ibu Asniatin. Beliau adalah guru ASN yang begitu sabar dan terampil saat mengajar kelas rendah. Kami, terutama saya pribadi sering meniru metode-metode mengajarnya. Mulai dari memberi sinyal, memberi apresiasi sampai memberi perintah atau permintaan di dalam kelas. 

Kesabarannya juga terbukti, saat berada di desa, di sekolah, Ibu Asniatin selalu membawa dua anaknya yang masih kecil-kecil (3 tahun dan 4 tahun). Sambil mengajar, sambil mengurus anaknya. Luar biasa. 

Selanjutnya adalah Ibu Mintarsih. Beliau adalah guru Agama di sekolah kami. Beliaulah yang selalu mengajari anak-anak tentang rukun iman dan rukun islam. Beliau masih guru hoborer. Tapi dedikasinya menempuh perjalanan jauh dari rumah tinggalnya sampai di desa pengabdiannya lumayan jauh, yakni kisaran 100 KM, dengan jalanan penuh lumpur dan berliku-liku serta turun naik bukit. 

Nah kami semua berkumpul di sebuah kafe di Unaaha (ibu kota kab. Konawe) untuk mengapresiasi penampilan Frisa Ramayani mendongeng. Penampilan ini dalam rangka latihan tampil di hadapan publik yang lebih banyak. 

Kami mengajak berbagai elemen masyarakat untuk mendorong bakat Frisa Ramayani dan teman-temannya. Ada yang menampilkan pembacaan puisi, dongeng, tari dan menyanyi. 

Bakat-bakat anak di kecamatan Latoma dan Asinua tua tumpah pada malam itu dengan gembira sekaligus meriah di saksikan masyarakat Konawe di Mbakoy Coffe. 

Sabtu, 27 Oktober 2018

[Ada sesuatu yang Lembut Menyentuh-nyentuh Bagian Paling Peka di Balik Dada]



Bagi masyarajat Tolaki tari Mondo Tambe adalah sebuah tari penyambutan bagi tamu agung. Seperti halnya daerah lain, penyambutan dengan tari merupakan kebanggaan tersendiri. Maka sudah menjadi pribadi bagi jiwa Nusantara, menjunjung tamu selayaknya raja. Juga sebuah kesan berharga bagi tuan rumah, saat tari penyambutannya berkesan dan berhasil membuat tamunya merasa terhormat.

Pada kesempatan ini, tari Mondo Tambe menjadi kesan yang berbeda. Berlatar tepi sungai Latoma yang berhias lantai batu-batu alam dengan gemericik alirannya. Air yang jernih, langit yang cerah dengan keceriaan wajah lugu anak-anak desa di musim kemarau panjang. Merekalah siswi SD Negeri Amboniki.

Sejak kecil aku tak cukup tangkas mewujudkan sebuah karya seni. Walau sungguh aku cukup senang bahkan menikmatinya. Tetapi untuk menuangkannya dari lubuk intuisi menjadi gerak-gerak lentik nan estetis, sungguh lebih baik suruh aku mencangkul dua-tiga petak sawah. Ini jauh lebih mudah walau akan banyak juga keluh kesahku. 

Namun saat menjadi Pengajar Muda begini, aku dituntut untuk memutar isi kepala, demi melayani minat, bakat dan semangat anak-anak. Melatih tari Mondo Tambe ini salah satunya. 

Jangankan pernah menarikannya, melihatnya saja baru saat salah satu anak mempraktikkan di depan kelas. Baru kemudian satu anak itu kuminta untuk melatih teman-temannya. 

Bersyukur anak-anak tak perlu bersusah payah belajar dari awal. Karena pada tahun lalu sebagian mereka sudah belajar menari Mondo Tambe kepada pelatih ulungnya; Diyan Purnama. 

Dari itu aku hanya perlu mendampingi dan mengoreksi setiap gerakan dengan acuan salah satu anak yang ternyata cukup berbakat, cukup menguasai dan bahkan kukira cukup menjiwai; Naila Aulia (Kelas Lima). Dalam video ini, Naila berpostur paling tinggi. Tentu cukup nampak keluwesannya menari, bukan? 

Sudah beberapa hari ini, Naila melatih teman-temannya. Mereka berlatih untuk menghadapi lomba tari tradisional yang akan diadakan pada sebuah perjusami; Latoma Fun Camp (LFC), pada 9 s.d 11 November mendatang. Dengan semangat tinggi mereka selalu mendesakku untuk mendampingi setiap latihan. Tidak memandang tempat mereka berlatih; kadang di sela waktu istirahat sekolah atau setelah pulang sekokah sambil bermain di sungai. Seperti pada video ini. 

Satu hal yang membuatku tak henti memutar kembali cuplikan ini--selain latar tepi sungai yang begitu menyatu baik dengan tarian Mondo Tambe itu sendiri, dengan semangat belajar dan berlatihnya, maupun dengan gerak-gerik lentik dan kepolosan wajah anak-anak--yaitu latar lagu dan musik yang tanpa sengaja terputar dari mini sound yang kubawa; mengalun "Apa Saja" yang dinyanyikan Uni Titi Rajo Bintang, berhasil membuat suasana semakin lembut menyentuh-nyentuh bagian paling peka di balik dadaku. 

Jumat, 05 Oktober 2018

[Dalil Pendidikan]


Siang tadi dari sebuah group gerakan mengajar yang pernah aku terlibat di dalamnya (@pemudapenggerakdesa), salah satu teman yang sekarang juga menjadi @pengajarmuda XV penempatan Kabupaten Natuna (@uswatunchasanah08) menanyakan tentang 'Dalil Pendidikan' yang pernah kami pelajari saat Pelatihan Intensif Gerakan Desa Cerdas di Halmahera Selatan  beberapa tahun lalu. Tentu sebagian besar kami dengan mudah mengingat. Karena saat pelatihan dulu setiap ada poin penting yang kami pelajari, selalu ada nada pelafazan dan gerak tubuh yang khas. Sehingga kalau kesulitan mengingat kata-katanya, akan terbantu dari mengingat nada atau gerakkannya. Jawaban yang terkumpul begini:

Lima Dalil Pendidikan
1. Semua Berbicara
2. Semua Bertujuan
3. Pengalaman Sebelum Penjelasan
4. Hargai Setiap Usaha
5. Jika Layak untuk Dipelajari, Maka Layak untuk Dirayakan.

Dari itu, mengingatkan kegiatanku di desa minggu lalu sebelum turun ke Kabupaten. Atau bertepatan sebelum gempa Palu dan Donggala terjadi. 

Rabu pagi aku baru naik dari desa Latoma (desa penempatan @legi_oktaputra) ke desa Amboniki, penempatanku sendiri. Sengaja aku naik dengan santai, karena memang di desa sudah ada dua Guru Garis Depan yang tengah mengisi kelas. Maka kusengaja untuk mampir ke sekolah yang terlintasi sebelum sampai di desa. 

Selain ada perlu untuk konfirmasi pengunduran kegiatan Belajar dan Bermain yang seharusnya kami lakukan di sekolah tersebut pada minggu itu, karena ada suatu aral melintang, sekalian saja untuk bersenang-senang dengan para siswanya. 

Oh iya, sekolahnya bernama SD N Waworaha. Alhasil, kami bermain dengan daun pisng kering, yang kami sulap untuk menjadi peta Indonesia. 

Sebagai pertanyaan awal pada siswa saat perkenalan, kutanyakan tentang peta Indonesia, mulai dari jumlah pulau--minimal pulau-pulau besarnya--sampai nama-nama pulau yang mereka ketahui. Hanya beberapa yang menjawab, dan rata-rata meleset; Sulawesi Tenggara mereka sebut sebagi salah satu pulau. Tentu mereka tak salah, hanya perlu jawaban yang presisi. 

Maka kutantang mereka untuk membuat gambaran umum Indonesia melalui peta kecil sederhana. Dengan drama keluh kesah menyatakan tak sanggup, mereka merespon tantangan dariku. 

Namun kemudian, kuberikan klu dan fasilitas kepada mereka untuk membuatnya. Yakni mereka hanya tinggal menjiplak puzzle peta yang sudah kubuat ke atas daun pisang kering yang banyak tersedia di halaman sekolah. Tantangan serupa juga pernah kulakukan kepada anak-anak di desa penempatanku sendiri. Nah, karena hasilnya cukup menggembirakan (memberi dampak baik bagi pengetahuan dan proses belajar siswa), maka ada baiknya jikalau ini juga kubagikan ke sekolah tetangga. 

Lantas kaitannya dengan 'Dalil Pendidikan' bagaimana? 

Baiklah, dengan sederhana kegiatan menjiplak peta ini ada beberapa tujuan yang akan kucapai. Yakni dengan membuat dan langsung menuliskan nama pulau-pulau yang ada di Indonesia, anak-anak tidak kesulitan untuk menyebutkan kembali nama-nama pulau beserta letaknya. Pulau mana bersebelahan dengan pulau mana. Selain itu anak-anak menjadi aktif semua, karena sebelumnya sudah dibagi tugas masing-masing dalam kelompoknya. Di mana satu kelompok terdiri dari dua siswa. 

Nah, ini bukannya dekat dengan 'Dalil Pendidikan': Semua Bertujuan. 

Adanya menjiplak peta pada daun pisang, yang mana anak-anak belum tau itu akan diapakan, karena ada instruksi setiap tahapnya:

Pertama; kita pinjamkan alat berupa gunting atau pisau potong kepada setiap kelompok. Dilanjutkan mencari daun pisang kering di sekitar sekolah. 

Kedua; kita pinjamkan puzzle yang sudah kita buat kepada anak-anak. Kalau puzzle nya perpaket dan banyak, boleh setiap kelompok dapat meminjam satu paket. Namun jika tidak mencukupi, minta anak-anak untuk bergantian menjiplak. Satu kelompok bertukaran puzzle yang sudah dijiplak dengan kelompok lainnya, hingga semua selesai dan lengkap menjiplak. 

Ketiga, kita pajang peta Indonesia utuh di depan kelas, dan minta perwakilan kelompok untuk melihat dengan cermat dan mencocokkan setiap pulau yang telah mereka buat. Sejalan kemudian, setiap kelompok diminta untuk mengambil kertas hvs untuk menempelkan pulau-pulau yang telah dibuat. Tentu menempelkannya sesuai dengan peta yang terpajang di depan. 

Keempat; kita akan memberikan nama setiap pulau, boleh mulai dari wilayah Indonesia Timur atau sebaliknya. Minta ana-anak untuk mengikuti petunjuk dari kita yang sudah terlebih dahulu menempelkan potongan kertas pada setiap pulau. Di mana potongan kertas tersebut sudah ada nama pulaunya. Boleh juga saat menyebutkan nama pulau sambil menempelkannya, nada suara kita dibadakan. Minta anak-anak untuk mengikuti nada tersebut. 

Dari setiap tahapan itu, anak-anak tak terasa tengah belajar tentang IPS, yaitu mengenal wilayah negara dan mengetahui nama pulau-pulau yang ada di Indonesia. 'Dalil Pendidikan' yang berlaku; Pengalaman Sebelum Penjelasan. 

Nah dari 'Dalil Pendidikan' ini mempermudah kita untuk membuat suatu konsep belajar yang konstruktif dan sederhana. 

Alhasil SD N Waworaha dan SD N Pinole--yang keduanya saya lewati saat naik dari desa Latoma ke desa Amboniki--memiliki peta sederhana di kelasnya. Sewaktu-waktu dapat mereka lihat dan mereka pelajari ulang. Karena hasil karya dan hasil belajar mereka ini dirayakan dengan memajang di dinding kelas. 

Ah menyenangkan sekali jika karya kita terpajang di depan kelas. Seperti saat SMP atau SD dulu, karangan atau puisi kita dipajang oleh guru bahasa Indonesia di mading sekolah. Senengnya kayak lebaran campur peringatan hari kemerdekaan. 

Ini kan juga seperti dalam 'Dalil Pendidikan'; Jika Layak untuk Dipelajari, Maka Layak untuk Dirayakan.

Sekian kabar gembira dari kami anak-anak desa yang tinggal diantara rimba Konawe. 

Senin, 16 Juli 2018

Kebun Pelangi Nusantara





Amboniki adalah sebuah desa yang dikepung kawasan hutan lindung dan masih cukup lebat. Bahkan halaman belakang rumah penduduknya boleh dikatakan teritis belantara rimba. Tentu tanahnya masih sangat subur. Cukup bagus untuk bercocok tanam.

Di antara semak belukar dan lebatnya rimba, banyak terdapat semacam sabana kecil. Di sana lah tempat mencari makan binatang khas Sulawesi Tenggara; Anoa. Juga dimanfaatkan oleh penduduknya untuk beternak sapi.

Beternak sapi di sini bukan dengan dikandangkan lalu digembala seperti dalam syair lagunya Tasya;  Anak Gembala. Melainkan sapi dilepas pada suatu sabana kecil, dan hanya ditengok pada waktu-waktu tertentu.

Namun, karena tabiat sapi memang senang berdekatan dengan manusia, sudah di liarkan di suatu sabana masih saja sewaktu-waktu datang ke tuannya di desa. Biasanya pagi-pagi buta sudah di depan remah tuannya untuk meminta garam. Kalau saja sapi bisa ketuk pintu atau teriakan salam untuk buka pintu, barangkali sudah dilakukan.

Nah, karena sudah berkali-kali dikembalikan lagi ke kandang sabananya tapi tetap masih ada saja yang kembali ke desa, jadi sebagian sapi dibiarkan berkeliaran di desa siang maupun malam. Tidak hanya satu atu dua, setiap kepala keluarga setidaknya memiliki sepuluh ekor sapi. Memyenangkan bukan.

Oleh karena itu, walau tanah subur jadi susah untuk sekedar menanam tanaman sayur atau buah-buahan. Jadi sapi sebagai ternak, juga sebagai hama untuk soal bercocok tanam. Selain sapi, ada monyet yang tanpa malu-malu duduk tak jauh dari kerumunan warga yang sedang mengobrol di pinggir jalan atau lapangan saat sore atau pagi.

Jadi susah untuk menanam sekedar tomat atau pisang untuk asupan vitamin C bagi warga. Hama yang lain masih banyak. Contohnya, warga juga susah untuk menanam umbi-umbian. Karena babi hutan akan meludeskan saat hari gelap.

Atas potensi dan keresahan itu, juga  atas mendesaknya akan kebutuhan sayur dan buah-buahan alakadarnya, aku dan anak-anak berinisiatif untuk membuat kebun.

Alhamdulillah, KS (Kepala Sekolah) mendukung dengan meminjamkan lahan belakang sekolah untuk kami bercocok tanam. Tapi dengan catatan kami harus memagar serapat mungkin dengan kemampuan yang kami punya.

Beberapa hari setelah kami pergi mencari bambu, saya bertamu ke beberapa wali murid. Mereka manyambut positif kegiatan kami. Bahkan, ada yang dengan ringan menawarkan tenaga atau peralatan yang dibutuhkan untuk berkebun. Ah senangnya hati, jadi anak petani.

Dan ini adalah beberapa penggal cuplikan kerja bhakti kami untuk membuat pagar kebun. Kebunnya nanti rencananya akan kami namai; Kebun Pelangi Nusantara.

Mau ikut merasakan berkebun atau petualangan lain bersama anak-anak di tengah keberlimpahan potensi sekaligus keresahan desa? Ayo segera daftar menjadi #Pejuang17 di: http://bit.ly/DAFTARPM17

IG:
@Ind_mengajar
@pengajarmuda

#Jadipejuang17 #Indonesiamengajar #Pengajarmuda #Beran16eda #Beranibeda #PM16




Sabtu, 16 Juni 2018

Mudik Lebaran, Merantau ke Kampung Halaman

Selamat lebaran, selamat berkumpul dengan keluarga.

Lebaran adalah sebuh ruang tempat segala rindu tumpah. Setelah tersimpan dalam dada selama satu, dua, tiga tahun atau bahkan lebih. Dari penjuru rantau berbondong mudik ke kampung halaman.

Begitu juga denganku bersama lima teman @pmkonawe yang lebaran kali ini mudik ke rumah keluarga baru kami. Rumah pasangan Bapak @sakri3 Ibu @dwiruliyananingsih tempat berlebaran kami. Di rumah ini kami menemukan keluarga baru, yang kami anggap rumah ke-dua setelah rumah di kampung halaman masing-masing.

Saya pribadi begitu kagum dan berterimakasih kepada Bapak Sakri dan Ibu Dwi yang telah berkenan menganggap kami anak-anak sendiri. Saat kami masih di desa penempatan, beliau berdua berusaha terus menghubingi kami, melalui telfon, media sosial dan kabar-kabar dari orang yang turun ke kota. Dimintanya kami untuk segera ke rumahnya. Menunaikan sisa puasa bersama di rumah sambil mempersiapkan lebaran. Padahal di desa kami sama sekali tidak ada signal. 

Setelah berkumpul,  kami memasak. Mulai dari memasak opor ayam, membuat konro, ketupat, lepak, bakso dan aneka makanan khas Lebaran.  Ibu Dwi seolah tahu kerinduan kami terhadap keluarga pada momen lebaran. Sehingga dikondisikan memang, mulai dari makanan sampai kegiatan bersilaturahmi seperti di tengah keluarga sendiri. Dan kami,  terutama saya yang sudah empat kali lebaran belum pulang, merasakan kehadiran keluarga di momen tumpah ruahnya rindu akan keluarga. Pagi, setelah Shalat Ied kami sekeluarga makan opor dan konro bersama setelah satu sama lain berjabat tangan, berpelukan saling memaafkan.

Bapak Sakri yang sehari-hari bekerja di lingkungan pemerintahan Konawe, cukup tahu dengan tugas kami sebagai Pengajar Muda, terlebih kami baru satu bulan berada di penempatan. Sosialisasi ke berbagai stakeholder terutama pemerintahan adalah hal pertama yang perlu segera dilakukan. Sehingga dalam kesempat lebaran, kami, oleh Bapak Sakri dan Ibu Dwi diajak untuk berkeliling mengunjungi open house beberapa pejabat terkait. Mulai dari Mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pejabat Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Pendidikan, Kapolres sampai Danramil kami kunjungi.

Kekagumanku bertambah,  saat menyadari kunjugan kami adalah kunjungan menjalin hubungan baik antara Indonesia Mengajar dengan Pemerintah setempat. Artinya ini adalah kunjungan kerja. Sementara ini adalah hari libur nasional, cuti bersama yang semestinya digunakan untuk kumpul keluaga dan saling kunjung sanak saudara. Tapi, Bapak Sakri dan Ibu Dwi justru menemani kami yang memakai rompi Pengajar Muda untuk berkunjung ke berbagai stakeholder yang membuka ope house. Seharian penuh mereka menemani kami,  memandu kami, menunjukan alamat rumah Bapak, Ibu pejabat ini dan itu. Tidak hanya itu, mereka juga dengan antusias memperkenalkan kami kepada para tuan rumah yang notebene pejabat pemerintah.

Hingga malam harinya, kami diajak keluarga Ibu Dwi untuk baca-baca (acara memohon doa untuk keluarga yang sudah meninggal atau suatu hajat tertentu) di salah satu rumah keluarga. Lebaran kali ini, walau kami jauh dari keluarga dan dalam rangka menunaikan tugas, tapi suasana dan nuansa kekeluargaan tetap kami rasakan. Kami tidak merasa jauh dari keluarga, kami tidak merasa berada di perantauan. Kami berlebaran seperti di kampung halaman sendiri.




Rabu, 13 Juni 2018

Bersama Turun Tangan di Ujung Ramadhan

Sore, di penghujung bulan ramadhan saya bersama teman satu tim Pengajar Muda penempatan kabupaten Konawe mendapat ajakan dari komunitas Relawan @turuntangankonawe. Kami diajak berkunjung ke rumah salah seorang warga di sudut Ibu Kota Kabupaten; Unaaha.

Mulai pukul 15.00 WITA, kami berkumpul di sebuah kafe. Tentu bukan untuk makan atau ngopi,  selain karena kafe belum tersedia makanan,  tapi sebagian besar kami juga insya Alloh berpuasa. Indocafe namanya. Sebuah kafe yang dimiliki salah seorang punggawa @turuntangankonawe yakni Saudara Arman.

Arman, bersama beberapa pemuda Konawe, khususnya Unaaha sejak November 2017 berkomitmen untuk turut andil dalam dunia kesukarelawanan bersama gerakan nasional; @turuntangan. Sejak saat itu,  berbagai kegiatan kerelawanan di tingkat kabupaten mereka geluti. Mulai dari berkunjung,  bersilatirahmi ke warga-warga pinggir kota sampai membuka perpustakaan jalanan pada hari-hari tertentu, telah menjadi kesibukan di sela-sela kesibukan bekerja mereka.

Saya yang pendatang dan didapuk sebagai Pengajar Muda yang dari Gerakan Indonesia Mengajar ditugaskan untuk berkolaborasi bersama para relawan menjadi bertambah haru dan optomis akan semakin banyaknya orang-orang berbuat baik untuk sesama. Bukan untuk sebuah eksistensi suatu gerakan atau pamer kebaikan, tapi lebih pada bagaimana kebaikan itu diteruskan untuk menular.

Mereka para relawan turun tangan bukan lah orang pengangguran yang banyak waktu luang,  sehingga sempat untuk berkegiatan sosial,  terutama kesukarelawanan. Tapi lebih bagaimana mereka adalah manusia biasa yang juga memiliki kebutuhan untuk berbuat baik. Seperti halnya kebutuhan jasmani seperti; berpakaian, makan, dan berumah tinggal yang membutuhkan upaya dan juga ruang waktu yang cukup untuk memenuhinya. Demikian dengan berbuat baik. Tentu mereka para sukarelawan juga berdisiplin membagi segenap dayanya untuk berbuat baik. Baik waktu,  tenaga,  buah fikiran,  kehadiran, dan simpati juga empati.

Tentu jelas mereka yang telah sibuk dengan profesi masing-masing berupaya sepenuh hati untuk terus berbagi kebaikan. Seperti teman Arman misalnya,  Ia adalah pengusaha kafe, yang seharusnya sibuk dengan pengembangan usaha kafenya, di sini Ia dengan rendah hati untuk terus menumbuhkan jiwa kesukarelawanan pada setiap generasi, utamanya para pemuda di Konawe. Jadilah kafenya menjadi tempat berkumpul,  bahkan sekretariat Gerakan Turun Tangan Konawe. Juga dengan teman-teman yang lain, ada yang berprofesi sebagai Polisi, Jurnalis salah satu media di Kendari, staf suatu Dinas di Pemerintahan, Guru dan ada juga Mahasiswa Paca Sarjana.

Tentu kami, terutama saya sendiri sebagai Pengajar Muda seperti seorang penambang yang menemukan emas berlimpah-limpah, seperti seorang musyafir menemukan air di tengah perjalanan yang penuh dahaga, saat saya dapat bertemu para sukarelawan Gerakan Turun Tangan. Mereka pun demikian. Begitu antusias mereka bertemu kami. Obrolan tentang kesukarelawanan langsung mengalir. Sperti derasnya sungai-sungai di Konawe ini. Ke depan semoga kita dapat berkolaborasi untuk suatu arti kebaikan, kesukarelawanan, terlebih adalah hidup sesama.


Minggu, 10 Juni 2018

Kutu Loncat di Kepalaku Berteriak; "Amboniki!"


Amboniki. Nama yang cukup asing terdengar di telinga Jawaku. Namun untuk telinga yang menjadi teman setia dalam setiap perjalananku, nama Amboniki seperti tak asing. Dalam kepalaku langsung berjingkrak beberapa kutu loncat saat menemukan sebuah kartu bergambar dengan tulisan kecil SD Negeri Amboniki. Ambo, adalah kata ganti orang pertama tunggal yang cukup halus lagi sopan dalam pengungkapan bahasa Minangkabau. Tentu cukup akrab di telingaku, karena lima tahun lebih telah kuhabiskan untuk menempuh studi di ranah Minang. Niki, juga ungkapan yang cukup halus dan sopan dalam bahasa Jawa, yang artinya; 'ini'. Jadi Amboniki adalah semacam ungkapan perkenalan yang cukup akrab sekaligus sopan; "Saya Ini..." pikirku bersama kutu loncat yang berjingkrak-jingkrak kesenangan saat mendapati nama desa penempatan.

Begitulah si kutu loncat sering jahil berjingkrak-jingkrak mengimajinasikan sesuatu. Sambil tersenyum malu sendiri, kuamat-amati lebih detil isi dalam kartu. Kartu dengan potret beberapa siswa menyongsong ke arah pengambil gambar di sebuah halaman sekolah dengan pakaian merah putih. Dalam kartu itu juga tertulis, kiranya; anak-anak Amboniki menunggu dan telah rindu kehadiran pak Guru Mabrur di sekolah.

Ah, kalimat apa-apaan ini, pikirku saat menemukan kartu itu di bawah terang lilin ruang pelatihan Intensif Calon  Pengajar Muda, Indonesia Mengajar. Bertemu saja belum, sudah rindu, imbuhku dalam senyum aneh. Malam itu adalah pembagian desa penempatan. Desa Amboniki lah tempatku bertugas selama satu tahun ke depan di bumi Anoa (Julukan untuk Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara).

Seminggu kemudian, sampailah aku di desa tersebut. Dipandu oleh Diyan (teman Pengajar Muda angkatan 14) yang telah purna tugas, juga sebelumnya berpenempatan di desa Amboniki.

Untuk sampai di Amboniki tentu tak mudah. Tidak seperti perjalanan Jakarta-Bandung dengan naik kereta atau bus yang tinggal tidur, lalu sampai. Perjalanan normal dapat menghabiskan waktu lima sampai enam jam. Tapi saat musim penghujan bisa butuh waktu setidaknya sepuluh sampai dua belas jam perjalanan, atau dua puluh empat jam dan bermalam di jalan juga sering. Setidaknya begitulah keterangan Diyan padaku, sebelum berangkat.

Benar saja. Berangkat dari Unaaha (Ibu Kota Kabupaten Konawe) pukul 10.00 WITA dan baru keesokan  hari pukul 07.30 WITA kami sampai di Amboniki. Sekali lagi, ini tak semudah perjalanan naik kereta atau bus dari Yogyakarta-Jakarta yang tinggal tidur lalu sampai.

Kira-kira, jarak tempuh memang hanya kisaran 86 Km, dengan medan jalan tanah merah dan belum sepenuhnya keras. Bertepatan juga, beberapa minggu terakhir Konawe dan sekitarnya sedang kelimpahan hujan terus menerus. Tentu paham, jalanan bermedan tanah saat terguyur hujan dan terus menerus berlalu lalang kendaraan (sepeda motor dan mobil) di atasnya. Menjadi lumpur kental lagi lengket—seperti coklat sedang dimasak setengah matang. Pada sejumlah titik terbentuk kubangan-kubangan yang kerap menjebak mobil atau sepeda motor terselip rodanya diantara lumpur.

Mobil yang kami tumpangi mulai berendam pada salah satu kubangan pukul 15.00 WITA. Dan baru bisa keluar dari kubangan pukul 18.30 WITA, setelah kami berbuka puasa. Seorang sopir dan dua orang awaknya berusaha berbagai cara untuk mengeluarkan mobil dari kubangan. Didorong, ke depan dan kadang ke belakang. Juga ditarik dengan seutas tali tambang dengan tenaga penarik para musafir yang sedang berpuasa berjumlah dua orang laki-laki dan empat orang perempuan.

Kami melanjutkan perjalanan dengan lelah, dengan harapan sisa perjalanan lancar, tidak lagi terjebak dalam ketel pemasak coklat—julukan yang kuberikan untuk kubangan di tengah jalan.

Memang manusia hanya bisa berharap, kenyataan lah yang semestinya diterima sepenuh hati dan sepenuh daya. Karena baru saja kami berjalan kurang lebih satu jam menerobos gelapnya rimba Konawe, kami terjebak lagi dalam ketel coklat. Kali ini lenih dalam. Mobil yang kami tumpangi tertanam—demikian masyarakat menyebutnya—nyaris sama sekali tak bisa bergerak. Baik maju maupun mundur. Bagian per mobil tersangkut pada gundukan tanah yang terbentuk oleh dua jalur roda kanan-kiri setiap mobil yang melintas. Hampir-hampir poros propeler mobil juga ikut tersangkut, hanya tinggal hitungan senti saja jarak tanah dengan poros propeler. Bahkan dua roda belakang hanya menyisakan tak sampai sepertiga lingkaran roda. Kami harus menggali habis gundukan tanah, tempat tersangkutnya per mobil.

Di sini aku mengenal Diyan dan Siska (teman PM angkatan 14) yang telah satu tahun hafal dan khatam dengan jalanan ini selama menjadi Pengajar Muda. Apa lagi mereka mondar-mandir antara desa dengan Ibu Kota Kabupaten menggunakan sepeda motor. Betapa susah-senang berjalan telah mereka lalui untuk sedikit saja membantu atau sekedar menemani proses pertumbuhan pendidikan anak-anak di kecamatan Latoma; desa Latoma Jaya dan Amboniki. Tentu aku tak akan heran jika Diyan dan Siska berasasal dari daerah seperti di Konawe ini. Namun keduanya berasal dari kota besar seperti Jakarta dan Bandung, yang tantangannya kemacetan tapi dengan jalanan yang cukup baik bahkan tol. Dan di Konawe ini, sungguh besar nyali mereka, dua orang perempuan berkendara sepeda motor dengan medan berlumpur sepanjang 86 Km dan sepanjang itu juga yang dilalui adalah hutan belantara. Sewaktu-waktu bisa saja bertemu beraneka binatang buas di tengah perjalanan. Anoa, babi hutan, atau rombongan sapi liar. Belum lagi dengan lintah yang tahu-tahu bisa saja sudah berkumpul di bagian tubuh. Karena medan berlumpur dan kanan-kiri hutan pastilah binatang pengisap darah-darah manis senang bersemayam.

Di ketel coklat yang ke dua ini, sungguh tenaga kami dikuras. Menggali dan terus menggali tanah dan lumpur, menarik dan mendorong mobil. Tapi mobil tetap jalan di tempat dengan raungannya yang memantul antara dinding perbukitan Abuki.

Hari bertambah malam, gerimis mulai datang. Udara menjadi dingin, ditambah kami perlu terus waspada dari lebah hutan yang menyongsong lampu mobil dan lampu senter yang kami bawa. Saat terancam, misal terinjak atau terjepit, lebah ini tak segan untuk langsung menyengat. Sengatan lebah hutan ini cukup sakit, pegal bercampur gatal. Jadi kami sambil bermandi lumpur tengah malam juga harus berebut cahaya dengan para lebah untuk terus menggali tanah dengan alat seadanya (satu cangkul kecil dan satu skop pasir). Alat yang telah dipersiapkan awak kendaraan untuk berjaga-jaga saat tertanam seperti ini di tengah hutan.

Dengan sangat terpaksa, mobil harus diinapkan di tengah kubangan berlumpur kental. Awak kendaraan berjaga di mobil. Sementara para penumpang dijemput oleh keluarga—yang telah mendapat kabar bahwa kami terjebak di kubangan, dari seorang pedagang sayur yang melintas dan berhasil lolos dari jalanan lumpur. Kami berempat (Siska, Diyan, Legi dan aku sendiri) dijemput oleh empat motor yang dikirim oleh keluarga angkat Siska. Kebetulan rumah keluarga angkat Siska—yang kemudian menjadi keluarga angkat Legi, karena Legi yang menggantikan Siska di desa Latoma Tua—berada di desa yang terdekat dari tempat kami terjebak di kubangan. Sementara untuk sampai di Amboniki, masih harus melalui enam desa lagi, dengan jarak antar desa rata-rata 5-10 km. Jadi Saya dan Diyan tidak bisa meneruskan perjalanan ke Amboniki malam itu juga. Kami bermalam di rumah keluarga angkat Siska.

Sampai di rumah Papa Ken (sebutan untuk keluarga angkat Siska dan Legi) pukul 23.00 WITA, dengan badan penuh lumpur dan kedinginan. Kami memutuskan untuk menginap di rumah Papa Ken dan melanjutkan perjalanan esok hari.

Pagi-pagi sekali kami naik ke desa Amboniki dengan motor pinjaman dari keluarga Papa Ken. Singkat cerita kami sampai di Amboniki langsung disambut oleh anak-anak SD N Amboniki yang tengah bermain di suatu halaman rumah. Seketika mereka menyongsong kami. Membuntut di belakang motor yang kami kendarai.

Benar saja kata Rindu yang tertulis pada kartu penempatan, ampuh menemui takdirnya. Anak-anak langsung lengket, menggandeng tanganku mengajak bermain di halaman sekolah. Mereka menyambutku dengan tabur bunga dan memberikan ikatan-ikatan bunga perdu yang tumbuh di halaman sekolah kepadaku.

Ah, tak banyak yang dapat diungkapkan untuk melukiskan kerinduan anak-anak terhadap sesosok calon guru mereka. Calon guru yang baru bertemu dalam dongeng penghibur anak-anak atas perpisahan guru tercinta mereka. Guru yang selalu menemani hari-hari mereka bermain. Di sekolah, di kebun, di sungai dan juga di rumah. Ialah guru Pengajar Muda yang mereka sayangi. Anak-anak yang berjumlah hanya dua kali hitungan jari-jari tangan, harus bersedih sekaligus senang atas gurunya. Bersedih karena harus berpisah dengan guru tersayangnya, yang tentu banyak mereka kenang. Senang karena mereka mendapat guru baru yang sudah mereka rindukan dari cerita dongeng penghibur perpisahan.

Amboniki, berhasil lah kau meluluhkan hati, untuk berbuat sebisa-bisanya dengan setulus-tulusnya pengabdian pada ibu pertiwi. Dengan semangat binar ceria anak-anak yang tulus, manis sekali senyumnya. Hingga tak tertahankan jika kami para pemuda harus berpaling dan pergi begitu saja tanpa turut memberi suatu arti pada senyum setulus itu.

Kamis, 17 Mei 2018

Selamat Hari Buku Nasional


Hari buku nasional kali ini, aku tengah singgah dalam sebuah perjalanan menuju pelosok Konawe, Sulawesi Tenggara. Dalam setiap perjalanan, teman setiaku adalah buku. Beberapa kali perjalananku, selalu yang memenuhi ransel sekaligus memberatkan beban di pundak adalah bekal buku yang ku bawa.

Terinspirasi dari Bung Hatta, yang selalu membawa buku berpeti-peti dalam perjalanannya, baik ke penjara, saat berdiplomasi, terlebih saat studi. Juga dengan sahabatnya , Tuan Sjahrir turut serta menyertai dengan koleksi bukunya juga.

Beberapa catatan sejarah, tentang pengasingan Bung Hatta di Banda Naira, yang paling menginspirasi adalah dua peti buku Bung Hatta yang dibawa penuh perjuangan, baik dengan jalan menembus hutan maupun dengan dibawa sebuah Heli.

Satu lagi yang tak kalah soal buku; Tan Malaka. Sampai-sampai  sebuah buku berisi kumpulan tulisannya diberi judul 'Dari Penjara ke Penjara'. Kali ini aku mencoba menapak tilas para pejuang itu. Beberapa buku bacaan tetap ku bawa. Tapi yang spesial lagi, kali ini salah satu buku bacaan yang kubawa, adalah hasil catatanku sendiri. Catatan dari sebuah perjalanan mengajar di Halmahera Selatan, tepatnya desa Geti Lama.

Bertepatan dengan hari ini, hari Buku Nasional, aku tengah menempuh sebuah perjalanan baru. Lagi, perjalanan mengajar. Kali ini aku menyusuri hutan-hutan. Bergrilya melawan kebodohan dan kesombongan diri sendiri, untuk berani belajar dari para sepuh hingga para malaikat kecil di pelosok-pelosok, sudut-sudut hutan.

Setahun ke depan, perjalananku adalah keluar-masuk hutan Konawe, Sulawesi Tenggara. Berguru, menemui dan berteman dengan para pejuang pendidikan di batas-batas kenyamanan.

#haribukunasional
#ceritaPM
#konawebercerita
#PMXVI #PengajarMuda
#SulawesiTenggara