Sabtu, 04 Maret 2017

Perjodohan ‘Mas―(ih)' Sendiri: Pakaian Malaikat

Foto Oleh Mabrur M Yusup
Diambil pagi di lereng gunung Sumbing di tepi jalan di antara persawahan dan ladang-ladang tembakau pada triwulan pertama 2015.

Perjodohan ‘Mas(ih)' Sendiri: Pakaian Malaikat

Oleh: Mayoe

Perkenalkan saya seorang ‘Mas’ yang selalu dalam perkenalanterutama dengan lawan jenismemperkenalkan diri dengan Mas(ih) Sendri. Kenapa Mas(ih) Sendiri? Karena saya seorang Pendekar yang ke mana-mana harus sendiri. Kalau bertemu di jalan cukup panggil saja ‘Mas’, kepanjangannya kewajiban sekaligus hak saya.

Dengan itu tak banyak saya memiliki teman. Hanya beberapa kerap datang untuk berbagi cerita atau sekedar berkelakar. Mereka golongan teman yang cukup mengerti sayayang Mas(ih) Sendiri. Selain sekedar berkelakar, cerita kosong, kami juga sering berdiskusi kecil-kecilan.

Bejo yang pendiam tapi frontal kerap diam-diam datang menginginkan diskusi. Walaupun pada jalannya diskusi ia banyak diam dan terkesan pasif. Boleh dikata ia sorang yang bertipe jika menginginkan sesuatu keturutannya jangan melalaui maunya. Aneh memang, tapi itu lah Bejo. Pernah ia menyukai seorang gadis di kampus lain. Mereka sudah saling kenal. Tetapi si gadis tidak sadar disukai si Bejo. Bejo benar-benar jatuh cinta. Sampai-sampai ia sulit tidur dari malam ke malam bulan ke bulan. Sedikit saja matanya terpejam, hanya mata bening dan senyum malu gadis pujaan hati yang muncul di pelupuk.

Jiwanya uring-uringan karena jatuh cinta. Bejo tidak pernah sungguh-sungguh mengobati uring-uringannya. Tak terhitung ia telah berencana untuk menemui saja gadis itu. Minimal untuk berobat. Tapi bukan Bejo namanya kalau merencanakan sesuatu keinginannya tidak satu paket dengan rencana pembatalannya sekaligus. Padahal ia bukan seorang pengecut atau lemah mental dan juga bukan seorang yang kurang menarik hati gadis-gadis. Sebaliknya ia pemberani, romantis, puitis dan sangat maskulin. Bahkan di kampusnya sendiri banyak Mahasiswi-mahasiswi baik junior, senior maupun satu angkatan yang berebut mencari perhatian Bejo. Tapi bergitulah ekstrim dan frontalnya Bejo. “Kalau bisa, di mana pun lah ada dia (gadis pujaan hatinya), jangan sampai aku yang lihat. Soal dia yang lihat itu bukan soal.” Ungkapnya penuh percaya diri pada suatu malam. Dasar BEJO!!!

Seorang lagi adalah patner diskusi yang cukup alot dan gigih. Ripin, ia biasa kami panggil. Logikanya kuat, detil dan tahan lama. Pokoknya kalau dengar atau lihat iklan obat kuat pria, ya begitu lah Ripin. Dengan itu pacarnya bertebaran di mana-mana. Tapi jiwanya lembut, perasaannya halus dan setia orangnya.

“Lho, kok setia? Lha pacarnya di mana-mana e!”

“lha ya biar to. Pacar-pacar dia dan diantara mereka gak ada yang protes. Ripin pun aman dengan kesetiaannya. Kok ribut.”

“lha itu kan bertentangan. Pacar di mana-mana kok distempeli setia.”

“Terserah dong. Yang ngasih stempel aku dan ini cerita, ceritaku. Repot.”

“Oke, memang ini cerita, ceritamu. Tapi kamu punya tanggungjawab atas cerita ini. Mana tanggungjawab mu?”

“Halha ya nanti. Orang aku ‘Mas(ih) Sendiri sudah dituntut tanggungjawab. Mbok ya sabar, jangan gampang nuntut. Malah jadi fitnah nanti.”

Bejo dan Ripin. Mereka seperti dua kutub yang berseberangan tarik-menarik menjaga keseimbangan. Yang merupakan manifestasi Pendekar Kapak Naga Geni 212 Wirosableng masa kini: yang berlainan namun merupakan pasangan.

Nama Bejo dan Ripin sungguh bukan yang sebenarnya. Ini merupakan kesepakatan diantara kami untuk tidak menyulitkan panggilan. Bejo sendiri kependekan dari Benedict Jhosep. Ripin kependekan Richard Pinckle. Dan saya tetap Mas dari Mas(ih) Sendiri.

“Jo, punya uang lipuluh? Belum makan gak ada kopi gak ada rokok pula.” Ripin membuka obrolan setelah memasukan bidak catur ke dalam kotaknya.

“Ada ada, ini.” Tanpa panjang lebar Bejo mengelurkan lembaran lima puluh ribu rupiah dari dompetnya.

Aku diam seolah tidak mendengarnya dengan menunduk menatap fokus gawaiku. Di sana sedang berlangsung pertandingan catur antara aku dengan CPU level 9. Ripin melangkah cari makan, kopi dan rokok ketengan. Tertinggal aku dan Bejo.

“Bagaimana KKN mu Jo.” Tanyaku memecah kebekuan diantara kami.

“Ya gitu. Malah diperpanjang sampai pertengahan bulan depan.” Jawab Bejo bernada malas.

“lho kok gitu?”
“Entah, kerja mereka ya begitu lah. Padahal di kalender akademik akhir bulan sudah selesai.”

“Dua bulan lebih jadinya Jo?”

“Ya gitu.”

“Ya sabar.”

“Aku mah sabar terus. Mana, aku pernah gak sabar.”

 Aku tidak punya pilihan kata untuk menaggapi ungkapan Bejo. Tawa kecil tanpa nada remeh sudah cukup memberi arti kepada Bejo. Begitu berat ia menjalani hari-hari di kampusnya. Teman satu angkatan sudah lebih banyak yang lulus dari yang belum. Terlebih teman-teman dekatnya. Sisa seorang pun sudah menuju meja sidang Skripsi. Sedang Bejo janganpun menggarap Skripsi, proposalnya saja selalu terbentur meja pembimbing akademik. Dan KKN yang sedang ia jalani merupakan langkah sulit dari dua tahun sebelumnya.

Memang kuliah itu tidak mudah, tapi juga tidak terlalu sulit. Tidak remeh, tapi tidak juga terlalu serius. Dan Bejo, ia terlalu serius dengan remeh temeh perkuliahannya. Parahnya lagi ia mempersulit kemudahan yang sudah ada. Bejo yang naas, dipersulit oleh kemudahan.

“Kalau si Marto mah enak. Bukan dia yang nyari dosen tapi malah dosen yang nyari dia. Bejo dia itu.” Cerocos Bejo dengan nada dongkolnya.

Tawaku meledak mendengar akhir ungkapan Bejo. “Kebalik. Kamu yang Bejo baukan Marto.” Tawaku berlanjut sampai tidak tertahan hingga perut minta dipegang. Tawa ku hentikan pakasa saat sadar khawatir perasaan Bejo tersinggung. Sambil menyeka sisa tawa di sudut mata, di seberang meja Bejo menyambung dengan lega dan ria.

“Baru tadi, Marto selesai sidang.”

“Wah, kok cepet gitu dia?” Tanyaku antusias.

“Sudah ku bilang, dia yang Bejo.”

“Ah kamu Jo, bisa aja.”

Ripin datang dengan membawa kantong plastik hitam berisi gula setengah kilo, kopi dua saset dan empat batang rokok ketengan. Ripin tidak membawa pulang makanannya. Sebelum pergi ia sempat menawarkan kepada kami berdua yang tinggal. Tapi Bejo bilang sudah makan, begitu juga dengan ku. Sehingga Ripin makan di tempat. Sebenarnya aku belum makan juga sudah lapar. Dan aku yakin demikian halnya dengan Bejo. Hal seperti ini sering terjadi diantara kami. Tapi kami belum pernah membahasnya. Dan memang tidak perlu untuk dibahas. Bagi kami sudah cukup untuk saling mengerti. Dan kadang kami lakukan bersama-sama terhadap orang lain. Cara ini sama sekali bukan penolakan apalagi pelecehan. Karena penawaran tidaklah terlalu penting. Tetapi apa yang sudah dihadapkan itu wajib dipertanggungjawabkan.

Ripin menyalin gula dan kopi ke dalam mog masing-masing. Lalu ia sibuk menyiapkan mini ricecooker untuk merebus air. Tak berapa lama sambil ku nyalakan sebatang rokok, dua gelas kopi mengepul disaji Ripin hadap-menghadap diantara kami bertiga.

“Aih, siregar kali. Hujan-hujan ada kopi ada rokok. Kurang apa lagi coba.” Ripin mencair dalam obrolan dengan logat Batak yang dibuat-buat.

Kami tertawa kecil bersama-sama dengan pencairan Ripin yang sudah biasa di setiap obrolan.

“Apa, bahas apa tadi?” Tanya Ripin masuk ke dalam obrolan.

“Itu si Marto. Baru selesai sidang skripsi rupanya dia.” Jawabku dengan logat Batak yang juga kubuat-buat.

“Bah. Iya Jo?” Ripin meminta konfirmasi Bejo.

“Siang tadi selesai.” Bejo menjawab datar. “Ya... wajar lah dia selesai. Orang dosen yang nyari dia kok. Kalau aku... baru gak wajar.” Lanjutnya bernada mengejek.

“E... udah ada kopi, rokok, perut kenyang, malam, hujan pula. Apa lagi yang mau dirisaukan kalau sudah ngumpul begini?” aku mencoba mengalihkan pembahasan.

“Ya betul. Ngumpul. Ini yang perlu kita bahas sekarang.” Ripin paham dan segera mengalihkan pembahasan. “Makan gak makan, yang penting kumpul.” Celetupnya sambil beralih pandang.

Sebagai ‘Mas’(ih) Sendirisejati, orisinil, asli dan otentikungkapan pribahasa Ripin itu, nenek moyangku sendiri yang bikinaku hanya mengangguk-angguk setengah remeh. Sama sekali aku tak berpaling dari Sterku yang diancam menteri hitam milik CPU level 9. Sementara jauh di belakang, menteri hitam ku bertengger dengan kudanya samping menyamping. Kehilangan Ster sama dengan kehilangan separuh dari seluruh pasukan. Aku tidak mau itu. Gugurlah menteri hitamku tanpa balas.

“Makan gak makan kumpul. Kalau kita maknai mendalam, ia bukan sekedar ungkapan penghibur seperti yang selama ini terjadi.” Ripin mulai menggoda dan merayu saraf-saraf otak kami untuk terhubung pada pembahasannya. “Orang yang benar-benar berpegang pada ‘makan gak makan kumpul’ bisa dipastikan kumpulnya itu bukan dan tidak membahas soal makan. Karena makan tidak makan itu bukan suatu perkara yang pokok lagi.” Tambahnya.

Bejo mengangguk-angguk antara mengerti dan tidak. Tidak ada respon lain selain mengangguk dan menyimak serius penjelasan Ripin. Seperti lancar-lancar saja logika yang menjalar ke saraf otaknya. Aku juga mengangguk dan tetap tidak berpaling dari papan catur dalam gawaiku. Tapi otakku sama sekali tidak bisa berfikir serius pada dua hal yang tertangkap indera secara bersamaan. Ia harus bergantian. Sehingga keduanya saling mengganggu. Dan anggukanku terhenti saat ster CPU level 9 benar-benar mematikan rajaku melalui persekongkolan benteng dan menteri hitamnya yang keparat itu.

“Kalau makan sudah bukan perkara yang pokok. Dan kumpulnya sudah bisa dipastikan bukan membahas dan mengagung-agungkan perkara makan. Kira-kira perkara apa yang dibahas dan dilakukan atas kumpul itu?” Ripin memberi tekanan khusus diujung kalimatnya.

“Hah! Duoboooooool.” Pekikku.

“Sebentar... sebentar... bagus ini... apek... elok elok elok. Jenius kamu Mas.” Ekspresi Ripin seperti orang bingung yang tiba-tiba mendapat ide di dalam toilet.

“Apa to? Ini lho, skak lagi, mati lagi.” Ku tunjukan kematian rajaku di atas meja.

Ripin tertawa. Bejo sekedar senyum.

“Gimana tadi. Kok sampai bilang aku Jenius. Baru tahu apa?” Aku mulai masuk lebih serius dalam pembahasan Ripin.

“Kalau beneran Jenius, itu game catur mu perlu diupdate. Kalau nggak tersedia updetannya, kirim email ke developernya. Minta tambah level yang setiap levelnya sepuluh kali lipat lebih sulit dari yang ada sekarang.” Ripin membrondong habis kepercayaan-diriku yang kadang terlanjur bersisa-sisa begini.

“Iya... iya... besok lah ku update. Entar tak WA aja developernya. Biar cepet.” Sebatang rokok yang sempat mati ku nyalakan kembali sambil menata kaki bersila di atas kursi. Sementara Bejo mengangkat gelas kopi di hadapannya dan setelahnya berganti aku yang mengangkat.

“Sepertinya yang paling mendekati ya perkara nduobol. Apa coba? Makan sudah bukan perkara yang repot dan merepotkan.” Ripin kembali pada pembahasan.

“Ya mungkin saja. Tapi ya yang subtansial lah yang dilakukan. Perkara ndobol kan masih dekat dengan urusan makan memakan. Jadi belum sesuai dengan tesismu tentang ‘makan gak makan kumpul’ itu.” Sahutku serius.

“Iya ya. Nah ini kerja kita. Mencari maksud ngumpul itu.” Ripin mengangguk setuju.

“Begini. Aku kan ‘Mas(ih) Sendirito? Godaku kepada Ripin dan Bejo. Yang kemudian mereka tampak berfikir keras. Dan pribahasa yang kita bahas ini bikinan nenek moyangku asli. Kemudian dinasionalisasikan. Sehinga semua orang bisa memakainya. Tetapi mereka memakainya hanya sekedar untuk penghibur dari kesempitan-kesempitan dan kesulitan-kesulitan yang dialami. Ya semacam obat penenang gitu lah.”

“Itu yang ku maksud di awal tadi.” Ripin menyela.

“Betul. Makanya ku ulangi sekalian ku tambahi. Begini Pin Jo. Untuk memahami itu kita tidak bisa secara langsung, kita butuh mengaitkan dengan hal lain yang lebih mudah untuk kita pahami dan tentu yang sudah mantep di hati kita. Gampanganya itu seperti berjodoh, kita menemukannya dengan dan/atau untuk kemantapan hati.”

“Maksudnya apa to ini. Kok ruwet. Sampai jodoh-jodohan pula.” Ripin tidak sabar menunggu penjelasanku.

“Maksudku, itu pribahasa kan dari nenek moyang ku, nenek moyang kita. Nah, bagaimana kalau kita mempelajarinya memlaui jalan perjodohan antara maksud pribahasa itu dengan ajaran Keyakinan yang kita peluk.”

“Maksudnya menjodohkan antara Jawa denga Islam?” Ripin mulai menebak-nebak.

“Begitu juga boleh. Hal lain pun bisa Pin. Asalkan konsepnya menjodohkan untuk berjodoh.”

“Lha kalau kita menjodohkan dan hasilnya tidak berjodoh gimana?” Tanya Ripin menguji.

“Kalau tidak berjodoh ya sudah, gak usah dipaksakan. Malah merusak nanti.” Jawabku santai.  “Sebenarnya ada dua kemungkinan: tidak berjodoh atau belum berjodoh. Kalau tidak, memang sama sekali tidak bisa. Tapi kalau belum, barangkali ada sesuatu yang masih kurang. Mungkin pengetahuan kita, wawasan kita, ilmu kita, rasa kita dan apapun yang mungkin menjadi kekurangan itu. Makanya sabar kalau belum berjodoh Pin, barangkali masih ada yang kurang.” Sambil kulirik Ripin setengah mengejek.

“Yang ‘Mas(ih) Sendirikan kamu, kok malah nyuruh aku sabar. Ripin membalas sinis.

“Gitu aja tersinggung Pin. Kalau aku lho udah jelas ‘Mas(ih) Sendiri, lha kamu itu lho! Pacarmu di mana-mana tapi satu pun belum ada yang berjodoh. Ya wajar lah kalau aku nyuruh bersabar. Daripada aku nyuruh untuk nambah pacar lagi atau mutusin semua kan perlu modal dan repot.” Ku habisi Ripin sambil tertawa puas.

“Udah ah. Tadi ‘makan gak makan kumpul’ mau dijodohkan sama siapa, eh sama apa?” Ripin mengembalikan fokus pembahasan.

Aku dan Bejo tertawa kecil mengejek Ripin yang keceplosan.

“Kita coba jodohkan denga ‘rukun’. Sepertinya itu yang lebih pas dan dekat daripada ndobol.” Ungkapku menyambung pembahasan. Ripin mengangguk tersambung, disusul kemudian Bejo turut mengangguk. “Kalau sudah ‘kumpul’ dan tidak mempersoalkan perkara ‘makan tidak makan ‘, yang menjadi pokok dari ‘kumpul’ itu ya ‘rukun’. Kalau sudah kumpul ya rukun. Ya rukun diri, rukun rumahtangga, rukun, tetangga...”

“Rukun Iman sekaligus rukun Islam serta rukun-rukun di dalamnya.” Ripin menyambung kalimatku.

“Ini baru jenius. Memang Ripin.” Sahutku memuji.

“Kalau jenius sekedar jenius, setan pun lebih jenius. Lanjutkan rukunnya!” Ripin membela diri.

Aku mengangguk setuju. Sementara Bejo hanya melihatku mengangguk.

“Jenius dan setannya kita bahas lain waktu saja, gak selesai nanti ‘rukun’ kita. Iya to Jo.” Sambil ku mainkan alisku ke arah Bejo.

“Lanjut-lanjut.” Jawab Bejo sambil mengangguk.

“Terus prosesi perjodohan antara ‘makan gak makan kumpul’ dengan rukun iman dan rukun islam gimana?” Ripin semakin tidak sabar.

“Kalau ‘makan gak makan kumpul’ kita jodohkan denga dua hal sekaligus, nanti jadinya poligami Pin. Apa bisa? Atau, apa mau mereka?” Aku mencoba memberi analisis terhadap perjodohan yang Ripin pertanyakan.

“Maksudnya gimana? Kok sampai ke poligami segala. Tambah ruwet.” Ripin berfikir keras.

“Masing-masing punya jodohnya Pin. Kalau memungkinkan ia tidak berpoligami, ya kenapa harus poligami. Dan sebaliknya. Kalau memungkinkan ia berpoligami, kenapa tidak.”

Ripin bertambah pusing berkerut kening. Dagunya ditarik mendekat leher sambil melihatku tajam setengah memicing.

“Menurutku ‘makan gak makan kumpul’ berjodohnya dengan salah satu antara rukun iman atau rukun islam. Jika kedua-duanya dipaksa berjodoh, aku belum sanggup Pin. Belum kuat.” Sambil ku gelengkan kepalaku.

“Maksudmu ‘makan gak makan kumpul’ berjodohnya dengan rukun iman saja atau rukun islam saja.” Ripin memperjelas tangkapannya.

“Iya, betul Pin. Tapi kasihan kalau yang kita jodohkan hanya salah satu ‘rukun’ saja. Masa iya ‘rukun’ yang satunya mau seperti ku yang ‘Mas(ih) Sendiri. Jadi kita harus mencarikan jodoh untuk rukun yang nantinya belum berjodoh dengan makan gak makan kumpul’.”

“Terus apa? Kamu ada pilihan calon Jo?” Ripin beralih pandang menanya Bejo.

“Mana aku tahu.” Jawab bejo singkat sambil mengangkat dua bahunya.

“Begini. Ada satu lagi yang asli dari nenek moyang ku, nenek moyang kita.” Jawabku menyela Ripin dan Bejo.

“Oh ya...! Apa... apa...?” Ripin penasaran.

“Dia masih bersaudara dengan ‘makan gak makan kumpul’. Saudara dekat sekali malahan.”

“Iya... Apa?” Ripin semakin penasaran.

“Aku pun baru terfikir barusan ini. Ia sangat urgen dalam kehidupan nenek moyang kita. Dan sudah menjadi nafas turun temurun.”

“Iya... Apa? Lama-lama ku teguk habis kopi ini.” Ripin sambil mengangkat gelas.

“Tenang-tenang Pin. Itu kopi bukan air mineral. Sewajarnya saja, dikit-dikit. Jangan seperti orang kehausan.” Aku tidak rela kopi habis seketika, karena pembahasan masih panjang. “Baik, ia adalah ‘Sandang, Pangan, Papan’. Ia kakak kandung dari ‘makan gak makan kumpul’. Jadi sebelum menjodohkan ‘makan gak makan kumpul’ dengan salah satu ‘rukun’, terlebih dahulu kita jodohkan ‘sandang, pangan, papan’ dengan salah satu ‘rukun’ yang pas, cocok, dan satu leting lah.” Paparku lebih lanjut kepada Ripin dan Bejo.

“Lho... mereka dua bersaudara?” Tangkap Ripin.

“Minimal seperti itu. Tapi bisa lebih.” Jawabku lebih lanjut.

“Tiga, empat, lima?” Ripin memburuku.

“Aku juga belum tahu pasti. Tapi naluri ‘Mas(ih) Sendiriku begitu kuat terhubung dengan nenek moyang, nenek moyang kita. Dengan itu aku yakin dan mantep ada soudara yang lain lagi. Dan nantinya barangkali dapat juga menemukan jodohnya.” Ungkapku melayani buruan Ripin dengan meraba naluri ke-‘Mas(ih) Sendiri-anku.

“Terlalu mantep dengan ke-‘Mas(ih) Sendiri-anmu. Tapi belum juga menemukan yang pasti. Yang namanya mantep mestinya ya pasti, gimana si.” Ripin memprotes rabaan naluriku.

“Sebentar Pin. Mantep mestinya pasti?” Tanyaku pada protes Ripin.

“Lha ya iya. Kalau udah mantep mestinya udah pasti.” Ripin mempertegas.
“Yap. Ketemu.” Aku memetik jari, menemukan jalan terang.

“Ketemu apa? Jodoh?” Sela Ripin di tengah jalan terang yang sedang ku telusuri.

Mantep mestinya pasti. ‘Madep, Marep, Mantep’. Ini saudara dari kakak-beradik tadi.” Ungkapku cepat dengan wajah cerah.

“Kalau gitu sementara tiga bersaudara. ‘Makan gak makan kumpul’; ‘sandang, pangan, papan; dan ‘madep, marep, mantep’. Gitu?” Ripin merangkum penelusuran sementara kami.

“Betul Pin. Tapi harus berurutan dari yang paling tua: ‘Sandang, pangan, papan’; ‘makan gak makan kumpul’; baru ‘madep, marep, mantep’. Supaya mudah menjodohkannya kita harus tahu lebih dulu urutan itu.”

“Iya.. iya... sekarang sudah tahu. Dari tadi cuma kakak, adik, saudara. Perjodohannya kapan? Ijabqobulnya, resepsinya itu lho!” Ripin mengejar.

Mendengar ujung kalimat Ripin, Bejo tertawa kecil dan aku mengikutinya. Sementara Ripin melihat tingkah kami, Ia gerakan dagunya ke depan sambil mengangkat kedua alisnya.

“Sabar Pin.” jawabku menenangkan Ripin sambil mengambil sebatang rokok di atas meja lalu membakarnya. “Ini ngrokok dulu, biar segar fikiran kita.” Ku sodorkan rokok yang baru ku bakar kepada Ripin. Dan aku mengambil satu yang tersisa di meja. Sebelum ku bakar terlebih dahulu kutawarkan kepada Bejo. Bejo mengangkat tangan kanannya di depan dada. Sudah dua bulan Bejo berhenti merokok. Kutawarkan, barangkali ia ingin kembali merokok. Ternyata tidak. Aku yakin, sebenarnya ingin juga ia merokok. Tapi inginnya mempertahankan daya menahan tidak merokok lebih besar daripada rasa ingin merokoknya.

Sementara Ripin menghembuskan asap rokok yang dihisapnya dalam-dalam ke udara sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Memang siregar bah.” Logat bakat yang dibuat-buatnya keluar lagi.

Aku menyusul Ripin. Menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskannya ke udara. Bejo terbatuk dengan dibuat-buat sambil tangannya mengepal di depan mulutnya yang dimonyong-monyongkan. Sejurus kemudian ia angkat gelas kopi di depannya. Kami tertawa lepas bersama.

“Dah, lanjut-lanjut.” Bejo memulai.

“Lanujut Pin?” Pandangku mengarah Ripin.

“Mari, lanjut sudah.” Ripin berganti logat timur yang dibuat-buat.

“Perjodohan pertama. ‘Sandang, Pangan, Papan’. Ayo, siapa jodohnya?” Tanyaku memancing.

“E..., pakai siapa lagi. Pakai apa lah!” Protes Ripin.

“Sekarang konteksnya kan sudah jelan Pin. Jadi sudah boleh pakai siapa.” Bantahku kepada Ripin.

“Iya.. iya.. sudah jelas sekarang konteksnya. Siapa jodohnya? Rukun yang mana?” Kejar Ripin.

“Kita urutkan dulu. Rukun mana yang menjadi kakak dan adik. Supaya perjodohannya pas. Seperti tadi, kita sudah tahu urutan silsilah dari nenek moyang kita.”

“Kali ini aku sabar. Ayo kita urutkan dulu.”tambahnya mengejar.

“Mana yang lebih dahulu antara tindakan dengan kepercayaan atau keyakinan?” Ku lontarkan tanya untuk memulai penelusuran.

“Mbok langsung aja. ‘Rukun’ mana yang menjadi adik, mana yang menjadi kakak.”

“Gak bisa gitu lah Pin. Harus ada sebab-akibatnya untuk mengambil keputusan.”

“Lha kok ruwet to?” Ripin mulai kembali tidak sabar.

“Namanya juga kita menelusuri. Ya selangkah demi selangkah, seteguk demi seteguk, sesuap demi sesuap, setetes demi setetes...”

“Iya udah-udah. Ayo melangkah. Aku masih sabar kok.”

“Duluan mana?” Kejarku.

“Kalau melangkah atau bertindak dulu baru percaya atau yakin, ya langkahnya jadi bimbang, ragu dan yang jelas gamang. Malah gak jadi melangkah.” Ungkap Ripin meladeni pertanyaanku.

“Dalam konteks ini jawabanmu pas Pin. Tapi dalam kontesk lain nanti berlaku sebaliknya. Itulah sebabnya kita harus Empan Papan dengan berbagai kontesk. Begitu nasihat nenek moyang kita.”

“Jadi, dalam konteks kita sekarang: ‘Rukun Iman’ itu sebagai kakak atau pendahulu dan ‘Rukun Islam’ itu sebagai adik atau penerusnya. Begitu maksud keruwetanmu itu?”

“Iya Pin. Kira-kira seperti itu.” Jawabku sambil mengangguk yang diikuti oleh Bejo.

“Berarti sudah bisa dijodohkan sekarang.” Lanjut Ripin semangat. “Kalau tadi kita sudah sepakat bahwa ‘sandang, pangan, papan’ sebagai kakak atau pendahulu yang sama kedudukannya dengan ‘rukun iman’, artinya mereka berjodoh.”
“Belum.” Jawabku singkat.

“Lho... gimana to? Kedudukan mereka sudah sama, satu leting, sama-sama kakak pendahulu. Layak dong kalau mereka berjodoh.”

“Belum berjodoh. Baru mau kita jodohkan.” Dengan tempo lambat bertekanan khusus ku jawab kegelisahan Ripin.

“Sama saja, sami mawon!” Sewot Ripin bernada kesal.

“Beda to! Kalau sudah berjodoh artinya sudah bertemu, sudah bersatu, nyawiji gitu lho Pin. Kalau baru mau dijodohkan,...”

“Baru mau ditemukan, disatukan, di-sawiji-kan.” Sela Ripin memotong kalimatku.

“Betul. Itu namanya proses, langkah, tumindhaklaku.”

“Makanya cepat dijodohkan.” Ripin mengahiri hisapan rokoknya yang sudah memuntung.

“Baik. Kita mulai perjodohannya. Siap Pin?” Tantangku.

“Siapa takut.” Ripin mengambil kotak tembakau linting.

“Pertama kita harus menyediakan wali untuk mengijabqobulkan dua hal itu. Aku belum tahu pihak ‘Sandang, Pangan, Papan’ berwalikan apa dan siapa. Tapi aku yakin pasti bahwa “Rukun Iman” berwalikan yang Tunggal. Jadi yang akan menjadi wali dalam perjodohan mereka adalah yang Tunggal itu.”

“Oke sepakat.” Ripin menjawab mantap. Bejo tetap dengan anggukannya.

“Karena yang Tunggal sudah menjadi wali, maka yang akan dijodohkan adalah urutan dalam ‘rukun iman’ berikutnya. Haram hukumnya jika Walinya turut dijodohkan.”

“Benar itu. Haram!” Ripin berangguk mengerti.

“Dari ‘sandang, pangan, papan’ terdiri dari tiga bagian. Jadi tidak mungkin juga sisa urut-berurut ‘rukun iman’ semua dijodohkan dengan ‘sandang, pangan, papan’. Maka akan ada dua yang bersisa. Dan dua sisa itu  yang menjadi saksi perjodohan.”

“Betul. Kalau tidak ada saksi ijabqobul tidak akan sah.”

“Maka secara spesifik yang akan dijodohkan dengan ‘sandang, pangan, papan’ adalah ‘walmalaikatihi, wakutubihi, warusullihi’.”

“Cocok. Karena dua selanjutnya sudah menjadi saksi. Jadi tidak boleh ikut dijodohkan. Lagian kalau bisa, mau dijodohkan dengan siapa? Lha udah pas gitu, tiga dengan tiga. Cocok to.”

“Iya Pin, kira-kira begitu.”

“Terus, udah? Gitu saja perjodohannya?”

“Kita baru sampai pada syarat sah perjodohan. Tentu masih panjang.”

“Oke, lanjut-lanjut ‘Mas(ih) Sendiri. Bejo menampakan ketertarikannya.

“Kita urai satu persatu dari tiga dengan tiga. Pertama ‘Sandang’ dengan ‘Malaikatihi’. ‘Sandang’ merupakan hal pokok yang harus terpenuhi sebelum ‘Pangan’. Artinya tidak mungkin kita makan tanpa mengenakan pakaian, alias telanjang. Kalau itu terjadi, maka kriminalitas akan selalu terjadi.”

“Ya mesti lah. Kayak binatang saja makan sambil telanjang.” Ripin menyambung.

“Kalau orang yang mengerti, lebih baik memilih lapar daripada telanjang.” Ungkapku mendukung Ripin.

“Tapi yang terjadi sekarang sebaliknya. Orang telanjang untuk makan.” Cibir Ripin dengan kekritisannya.

“Benar. Ini memang zaman yang serba terbalik Pin, Jo.”

Ripin merekatkan kertas gulungan tembakaunya dengan sedikit air liur. Sambil meraih korek api “Kalau gitu... sekarang kita sedang... membalik zaman yang terbalik!” Kalimat Ripin terputus-putus dengan asap putih kental mengepul dari dalam mulutnya.

“Begitu kira-kira.” Sahutku sambil juga meraih kotak tembakau linting.

“Terus uraian ‘sandang’ udah selesai atau belum.” Bejo mengembalikan fokus.

“Sedikit lagi Jo. ‘sandang’ atau pakaian merupakan sesuatu yang kita gunakan untuk menutupi urat-urat di tubuh kita. Baik urat keperkasaan maupun urat kelembutan. Walaupun semua orang tahu kita memiliki urat-urat itu, tidak selayaknya kita menunjukannya. Justru sebaliknya, kita harus menutupinya. Konsekwensi bagi yang tidak berpegang pada prinsip ‘Sandang’ ini adalah seperti yang diungkapkan Ripin: tidak ada beda dengan binatang. Dan bersiaplah untuk mendapat berbagai kriminalitas dari apapun.”

“Artinya ‘sandang’ ini mengajak kita untuk tidak mudah menunjukan apa-apa yang menjadi miliki kita. Walaupun sebenarnya orang lain juga tahu apa yang kita miliki.” Ripin coba menjeneralkan.

“Sekalipun, belum atau tidak tahu ya harus ditutup dengan ‘sandang’ itu.” Jawabku melengkapi jeneralisasi Ripin.

“Tapi banyak juga yang ‘Nyandang’, berpakaian bukan pada kesadaran itu. Justru ‘Sandang’ yang mereka kenakan itu untuk menarik perhatian yang lain. Walaupun beda-beda juga kadarnya.” Sambung ripin dengan jiwa kritisnya.

“Betul juga Pin.” Aku menyetujui kritiknya.

“Kalau begitu belum ‘nyandang’ namanya.” Bejo nyeplos di tengah kebingunganku atas kritik Ripin.

“Betul itu Jo.” Ripin menyetujuinya.

“Iya... iya... iya... Artinya ‘Nyandang’ itu harus mendalam..., tidak dangkal. ... Bukan begitu Jo?” Sambil ku bakar lintingan tembakau yang sudah terapit bibir.

Bejo mengangguk setuju. Sementara Ripin senyum-senyum sendiri.

“Gimana Pin, ada tambahan uraian tentang ‘sandang’? sebelum kita mengurai ‘Walmalaikatihi’ yang siap untuk kita jodohkan.” Tanyaku pada Ripin yang masih senyum-senyum sendiri, tanpa tahu maksudnya.

“Derajad Martabat! ‘Sandang’ itu soal derajat martabat. Itu saja.” Dihisapnya dalam asap gulungan tembakau di mulutnya.

“Itu kunci dari ‘Sandang’. Nanti akan kita temukan lubang kuncinya setelah menelusuri uraian ‘walmalaikatihi’.”

“Harus. Kunci harus menemukan lubang kuncinya. Kalau tidak, ya tidak berjodoh. Dan ini tantangannya: menemukan lubang kunci.” Tantang Ripin.

“Semoga Walinya setuju Pin.” Jawabku mengalih pandang kosong ke langit.

“Amiin. Lanjut-lanjut.” Bejo menarik pandang kosongku dari langit.

“Semoga berhasil. ‘Walmalaikatihi’, Malaikat.” Ungkapku pelan. “Ia makhluk yang diciptakan dengan kedinamisan hati dan kesetatisan akalnya. Hatinya bisa sangat lembut dan bisa saja sangat kasar. Tapi akalnya sangat permanen, dari awal penciptaannya ya segitu-gitu saja. Tidak pernah berubah. Kebalikannya adalah Iblis, Setan. Statis hatinya, dinamis akalnya. Makanya ia begitu Jenius. Dari itu ia selalu berinovasi dan meng-upgrade akalnya. ...”

“Iblis, setannya nanti. Gak selesai-selesai malahan!” Sela Ripin memprotes.

“Baik Pin. Maaf maaf. Dengan kelembutan dan kehalusan hatinya, malaikat begitu peka dan perasa. Ia bisa sangat mudah berbelas kasih, meratap begitu sedih, mudah bersimpati dan empati. Dari golongan manusia hanya beberapa saja yang dapat mengungguli kelembutan dan kehalusan hatinya. Ia juga bisa sangat kasar dan keras hatinya. Ia bisa mendo’akan celaka atau memohon laknat dan kutukan kepada Walinya untuk sesuatu yang layak diperlakukan demikian.”

“Wah... masa Malaikat berkeras hati kasar. Apalagi itu mendoakan celaka dan memohon laknat kutukan?” Bejo merasa kurang nyaman mendengar kalimat terakhirku.

“Bisa saja to Jo. Malaikat itu kan suci dan selalu menjaga kesucian. Dengan kesuciannya itu, jika ada yang mengusik kesucian semesta tidak akan segan Ia meratap memohonkan celaka atau laknat kutukan kepada Walinya.” Respon Ripin secara radikal kepada Bejo.

“Nah... itu perjodohan yang terjadi antara ‘Sandang’ dengan ‘Malaikat’.” Celetupku menemukan jalan terang sambil mengepulkan hisapan tembakau linting ke udara.

“Di mana letak perjoodohannya? Kan kunci dari ‘Sandang’ tadi: Derajat Martabat!” Ripin menyelidik penasaran.

“Lha itu ‘Suci Kesucian’, Ia klop, pas dan sebanding dengan ‘Derajad Martabat’. Sesuatu yang menjada ‘Derajad Martabat’ sudah bisa dipastikan juga menjaga ‘Suci Kesucian’. Itu kan namanya berjodoh.” Tandasku melayani penasaran Ripin.

“Iya ya... tidak mungkin Malaikat itu berdoa, kalau hatinya tidak suci. Yang ada hanya menghujat protes saja. Tidak mungkin berdoa.” Respon bejo mengakui.

“Jadi sudah sah ni perjodohan ‘Sandang’ dengan ‘Walmalaikatihi’?” Aku menyambung Bejo.

“Tunggu... tunggu... Aku belum puas mengurai Malaikat.” Sanggah Ripin sambil mematikan puntung tembakau lintingnya.

Aku dan Bejo sempat terkejut dengan sanggahan Ripin. Aku terbengong menatap Ripin yang diikuti Bejo. Ada kekhawatiran dalam hati jika terjadi kegagalan perjodohan.

“Terus...” Antara fokus dan bengong ku sampaikan ke hadapan Ripin.

“Ingat...! Bahwa Malaikat tidak telanjang! Ini mendukung lubang kunci dari ‘Sandang’ yang mengutamakan pakaian dari pada makan. Karena tidak mungkin sesuatu yang suci dan menjaga kesucian itu telanjang. Gimana?” Ripin memetik jarinya.

Aku tambah terbengong dengan temuan Ripin. Dan Bejo mengangkat sebuah ibu jari ke hadapan Ripin sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Duobol sekali memang kamu Pin. Ku kira ...” Teriakku girang sambil menggeleng-gelengkan kepala ke arah Ripin.

“Kira apa?” Ripin menantang.

“Enggak Pin. Aku bocahmu pokoknya Pin.”

“Kalau Malaikat menjaga suci kesuciannya, tentu menjaga juga pakaiannya, derajad martabatnya.” Ripin menyambung penjelasannya.

“Iya iya... betul itu. ‘Menjaga’ juga bagian dari kunci perjodohan ini Pin, Jo. Sesuatu yang selalu ‘Menjaga’ sama maksudnya dengan sesuatu yang selalu ‘Mempertahankan’. Dan sebaik-baik pakaian ya yang dijaga dipertahankan suci kesuciannya, derajad martabatnya.” Tambahku mendukung Ripin.

“Kalau mau kita telusuri lebih lanjut, Malaikat itu sangat malu jika tidak menjaga sekaligus mempertahankan suci kesuciannya. Jadi betul, Malaikat itu makhluk yang paling pandai ‘menahan’ dan memang paling ‘tahan’.”

“Maksudmu Pin?” Bejo penasaran.

“Begini lho Jo ...” Aku mendahului mulut Ripin yang sudah terbuka hendak memperjelas maksudnya. “Malaikat itu diciptakan tidak dengan nafsu melainkan dengan hati. Makanya ia begitu perasa, halus, lembut, suci, murni dan seterusnya yang berkaitan dengan hati. Tapi Ia juga tidak diberikan sediktipun keleluasaan, kekuasaan, kemerdekaan bahkan atas dirinya sendiri. Kalaupun ada, sangat terbatas dan itupun di bawah ketundukannya atas kuasa Walinya. Dengan penciptaan yang seperti ini, maka Malaikat ya bisanya hanya bertahan, menahan, dan tahan dari ketidakuasaannya terhadap apapun, bahkan dirinya sendiri. Untuk itu yang hanya bisa dilakukannya ya merasa tidak kuasa lalu berdoa memohon kepada Walinya. Itu yang dimaksud Ripin bahwa Malaikat itu makhluk yang paling pandai ‘menahan’ dan memang paling ‘tahan’. Bukan begitu Pin?”

“Ya gak sebertele-tele itu juga. Gampangannya Malaikat itu makhluk yang sangat ‘berpuasa’ di bawah kuasa Walinya. Simpel, Wis!” Ripin mengejekku dengan menjulurkan setengah lidahnya.

“Oke-oke, dong.” Bejo mengangguk paham.

“Doubol Pin Pin. Kering ludahku menjelaskan hanya kau lecehkan dengan jawaban ‘Puasa’. Dasar Buoll Pin Pin.” Umpatku kepada Ripin.

Ripin mengakak puas. Sementara Bejo masih dengan anggukannya sambil sedikit tertawa juga karena lucu melihat ekspresi kepuasan Ripin. Setelah puas, sambil mengusap sisa tawa di sudut-sudut matanya Ripin membrondong lagi.

“Karena Malaikat berpuasa, maka Ia memilih lapar dari pada tidak berpakaian. Dari itu, Ijabqobul perjodohan menjadi sah. Karena nenek moyang kita pun sudah merestuinya dengan menempatkan posisi ‘sandang’ lebih pokok daripada ‘pangan’. Gimana? Sah?”

“Sah. Sekarang sudah sah. ‘Sandang’ dan ‘Walmalaikatihi’ berjodoh. Pimpin doa Jo.”

“Sebagai do’a, kita amiinkan saja do’a rumput, baik yang mengering di tepian jalan maupun yang tumbuh subur di lereng Merapi.” Bejo menjawab dengan kepercayaan diri berpuisi yang tinggi.

“Bejo sang penyair memasrahkan do’anya kepada rumput di jalanan dan lereng Merapi.” Ripin menggeleng kagum.

“Kenapa kepada rumput Jo?” Jiwa puitikku terusik menuntut penjelasan.

“Saat kalian berisik dan ribut membahas perjodohan ‘Sandang’ dengan ‘Walmalaikatihi’, jiwaku mengembara meresapi rerumputan, pepohonan, dedaunan yang hidup maupun yang sudah tidak.”

“Sebentar Jo. Kok kamu malah jadi ikut-ikutan nduobol seperti Ripin to?” Tanyaku semakin keheranan melihat ekresi Bejo yang datar.

“Boll tenan.” Sahut Ripin. “Kita ini memang remeh Jo, cuma Doboll. Tapi tak masalah, toh Boll kita selalu berpakaian. Hanya sesekali saja pakaiannya kita lepas, itupun untuk urgensi tertentu bukan untuk pamer memamerkan Boll apalagi untuk disalah-gunakan. Na’udobollah!” Ripin begidik jijik. “Lanjut Jo penjelasanmu!”

Sebelum melanjutkan, Bejo tertawa agak lebar mendengar keluh  syukur Ripin atas penerimaan diri apa adanya. Sedang aku anatara mau tertawa dan tidak.

“Bukankah ‘Sandang’ dan “Walmalaikatihi’ sudah berjodoh dengan adanya tetumbuhan yang dibondong-bondong untuk membuat bahan dasar pakaian? Sedangkan tetumbuhan adalah bentuk kasat mata Malaikat! Jadi ‘Sandang’ atau ‘pakaian’ itu memang berbahan dasar ‘Malaikat’.”

Bejo beralih-alih pandang, sebentar padaku sebentar pada Ripin. Sementara Aku dan Ripin fokus terbengong menangkap kejut dari Bejo yang pendiam.

“Dari itu kita akan bisa melihat kadar ke-Malaikatan seseorang dari pakaiannya.” Lanjut Bejo di tengah fokus kami. “Seseorang yang berpakaian minim, sudah tentu kadar ke-Malaikatannya juga minim. Sejalan dengan orang yang terlalu berlebihan dalam berpakaian, kadar ke-Malaikatannya tinggi atau juga berlebih. Tetapi berpotensi sombong pada kelebihan pakaiannya itu.  Maka yang paling tepat, seseorang berpakaian ya yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Seperti tumbuhan, yang begitu tahu persis akan dirinya. Kapan ia perlu menggugurkan dedaunannya dan kapan ia perlu untuk kembali tumbuh dengan lebatnya. Bukankah memang mereka berjodoh?”

Akau tertegun dengan kependiaman Bejo yang diam-diam mengembara begitu liar.

“Ini juga berjodoh sekali dengan pegangan nenek moyang kita: ajining rogo ono ing busono. Jos, sangat menarik Jo.” Ripin berangguk-angguk dengan responnya. “Terutama sekali pada bagian: tumbuhan itu bentuk kasat mata Malaikat.” Ia terus mengangguk-angguk sambil menatap beberapa tanaman dalam pot bunga di sekitar kami duduk.

“Tolong Jo!” Aku masih tertegun menerawang.

“Coba kita pelajari sifat tumbuhan!” Ungkap Bejo coba menolongku. “Ia memiliki sifat yang sama dengan ‘Malaikat’ yang kalian berisikan dan ributkan tadi.”

Hening. Bejo memberi jeda untuk menyambung kami.

“Tumbuhan selalu menahan, bertahan, dan tahan ... terhadap apapun, segala situasi maupun kondisi. Ia selalu menjaga baik diri maupun lingkungannya bahkan mahkluk lain di sekitarnya. Ia pun begitu pemalu, pemurung sekaligus begitu periang. Beberapa tumbuhan sangat jelas memperlihatkan sifat pemalunya, pemurungnya, dan periangnya. Sebagian besar lainnya tidak terlalu diperlihatkan dan lebih banyak lagi yang tidak diperlihatkan. Sejenis putri malu, ia akan merunduk memingkupkan sebagian dedaunan dan rerantingnya saat tersentuh sesuatu. Begitu juga saat malam menjelang, semua bagian dedaunan dan rerantingnya akan menunduk murung sepanjang malam. Tapi coba lihat saat pagi menjelang, ia akan begitu riang gembira menyambutnya. Menegakkan semua ranting dan dedaunannya menengadah penuh pengharapan.”

Bejo menghentikan aliran puisinya.

“Penyair super douboll kamu Jo.” Pekikku keheranan seperti bukan sedang mendengarkan Bejo.

“Betul... betul... ini memang doboll. Lanjutkan Jo!” Ripin menyela tenang, seolah ia tidak heran mendengarkan Bejo yang sedemikin aneh.

“Hidupnya tumbuhan bukan untuk buah berbuah.” Bejo menyanyikan kembali syair-syair kesunyiannya. “Tidak penting baginya buah berbuah. Ia hanya mengejar cahaya, yang merupakan jati dirinya. Demi cahaya itu maka ia tumbuh dan tumbuh. Tak perduli batas dan ruang, ia terus mencari dan mengejar, hingga tiba waktunya ia kembali rubuh ke tanah dan menjadi tanah.”

“Memang Malaikat!” Ungkapku pelan sesaat dari berhentinya aliran puisi sunyi Bejo.

“Iya Mas, tidak lain. Itu Malaikat!” Kali ini Ripin benar-benar menunjukan keheranannya.

“Coba kalian sayat kupas itu kulit pohon, tebas patahkan ujung rantingnya, atau lukai saja bagian manapun pohon itu!” Bejo seakan memerintahkannya pada kami berdua sambil menunjuk pohon nangka yang rindang milik tetangga. “Ia hanya akan bisa mengeluarkan getah. Demikian Malaikat. Saat ada sesuatu melukai, Ia hanya akan bisa menangis. Tanpa memiliki keleluasaan, kemerdekaan, kekuasaan untuk menghindar terlebih membalas. Ia hanya akan bisa merapat tangis memohon doa.”

“Itu sebabnya kau memilih meng-amiin-kan do’a rumput, baik yang sudah kering maupun yang masih subur, atas sahnya perjodohan ‘Sandang’ dengan ‘Malaikat’?” Tanyaku meraba perasaan Bejo sambil menerawang langit.

“Kalau gitu mari kita Amiin-kan doa semua rerumputan, pepohonan dan semua jenis tetumbuhan, baik yang sudah kering bahkan membusuk sekalian, maupun yang baru tumbuh subur bahkan yang susah dan kesulitan tumbuh sekalian. Amiin ya Robbal’alamiin!” Ripin memimpin menengadah tangan.

“Tapi soal buah Jo?” Selaku setelah hening beberapa saat diantara kami.

“Sudah ku bilang: hidupnya bukan soal apalagi untuk buah berbuah. Sebenarnya kasihan aku melihat kalian.” Bejo bersimpul senyum meraut wajah penuh kasihan kepada kami berdua.

“Maksudmu Jo?” Celetup Rupin penuh penasaran dengan teka-teki Bejo.

“Kasihan... sungguh kasihan... Tingkat bertingkat bangku sekolahan telah berhasil mendangkalkan fikiran kalian. Persis sedangkal kaki-kaki bangkunya. Parahnya kalian rayakan kedangkalan itu dengan mengenakan topi tempurung kedangkalan disertai  kuncit serabut yang menjulai-julai bangga!”

“Tolong Jo!!! Tolong!!! tolong hentikan teka-tekimu!” Ucapku penuh tekanan berpandang tajam menikam bola-bola matanya.

Bejo semakin tersenyum simpul antara memberi belas-kasihan dengan mengejek.

“Jubah kesia-siaan; selendang-selendang setan; kalung-kalung medali prestasi iblis; karangan-karangan bunga kemusrikan; dokumentasi-dokumentasi kemunafikan; upacara-upacara perayaan kematian hati; pesta pora neraka; ijazah-ijazah bergelar surga kesesatan; transkirip-transkrip nilai berindeks prestasi birahi; Setifikat-sertifikat akreditasi kepalsuan; legalisir-legalisir kesesatan, kebirahian, dan kepalsuan, ...”

“Hentikan Jo!!!!!” Teriakku menggebrak meja diskusi kami.

“Hoi!!!!!!!” Ripin membentak menggenggam menarik lubang leher kaos oblong yang ku kenakan.

Bejo tetap datar pada duduknya. Ripin menggenggam kendali ku tepat di leher hingga beberapa saat. Begitu reda ketegangan di leherku, Ripin mengendur berangsur melepas perlahan genggamannya. Menjelang benar-benar lepas dari genggamannya, dadaku didorong sedikit menyentak hingga aku jatuh terduduk di kursi semula.

Keheningan terjadi beberapa lama. Aku menata kembali nafas hingga teratur sedemikian halus, lembut dan tenang. Tepi tetap dalam kewaspadaan Ripin. Sementara Bejo jauh lebih tenang dalam kedatarannya. Pada  situasi dan kondisi yang berangsur aman, Ripin memberikan gulungan tembakau linting yang telah menyala ujungnya kepadaku. Kuraih dengan senyum yang masih agak terganjal. Kuhisap dalam-dalam lalu ku hembuskan perlahan. Demikian kuulangi hingga tiga kali beturut-turut. Pada puncak kelegaan, aku tertawa keras dengan bahaknya menutup rasa malu. Ripin maupun Bejo, tak satupun mengikuti tawaku. Seketika beberapa bulir dari mataku jatuh. Lalu tertunduk malu yang teramat sangat.

“Sudah-sudah, mari kita lanjutkan. Tidak akan ada teka-teki lagi.” Bejo memulai, memecah kebekuan.

Mendengar Bejo, aku bangkit menuju kran tak jauh dari tempat duduk kami. Kubasuh wajah mengharap sejuk kesegaran jiwa. Menadah meraup ari yang teralir ke seluruh wajah. Berulang hingga beberapa kali. Lalu ku tuju kain kering yang tersampir pada sebuah tali penjemur. Menyeka sisa air yang meresap menetes berjatuhan.

“Maaf Jo, Pin.” Ungkapku lirih penuh malu sambil melangkah kembali duku. “Lanjut Jo, lanjut.” Lanjutku antusias dengan senyum tersipu sambil ku raih tembakau linting yang ku taruh di sudut meja.

“Bunga berbunga, buah berbuah tetumbuhan itu hanya akibat dari tumbuh pertumbuhanya mencari dan menangkap cahaya. Jadi, bunga berbunga buah berbuah sama sekali bukan tujuan dari hidupnya.” Ungkap Bejo halus meraih gulungan tembakau yang baru saja ku hisap dari pegangan.

“Maksudmu tadi, teori biologi yang diajarkan ke kita selama di sekolah bertahun-tahun: bahwa tumbuhan hidup untuk berbunga berbuah lalu mati, itu kurang tepat?” Ripin masuk menatap Bejo yang sedang menghisap tembakau linting.

“Perkara matinya setelah berbunga berbuah, tepatnya setelah menggugurkan bunga-bunga buah-buah, lalu ia lepas hidupnya. Itu karena sudah mewariskan, mempercayakan kelanjutan hudup kepada benih-benih dari buah yang telah jatuh tadi. Tapi sebagian tumbuhan lain, ada yang mempercayakan kelanjutan hidupnya kepada daun-daun yang juga digugurkannya. Sebagian lagi kepada batang dan tunas-tunasnya. Dan perlu diketahui, bahwa bunga buah yang mereka hasilkan sama sekali bukan untuk kepentingan dan keperluan dirinya.” Bejo mengalir tenang.

“Bunganya untuk kumbang lebah, lalat, aneka serangga, burung juga manusia. Buahnya lebih banyak lagi. Ada yang untuk ular, monyet, burung-burung, dan tentu juga manusia.” Cerocos Ripin meneruskan Bejo.

“Sebagian daun-daunnya juga untuk dimakan ulat, ikan, binatang ternak juga manusia. Dan yang paling urgen, hasil dari pengohalan cahaya yang ia tangkap adalah untuk alam. Tanpa itu alam mati.” Aku menambahi sambil mengambil kembali gulungan tembakau dari tangan Bejo yang tinggal tiga kali hisapan lagi.

“Ya... udara yang kita hurup sekang adalah proses hidupnya. Ia hidup dengan segenap perjuangannya tapi sama sekali bukan untuk dirinya. Maka amiinkan lah doa-doa seluruh tumbuhan itu.” Bejo menarik hikmah memberi amanah.

“Ku kira, upaya paling minimal untuk hidup selamat, ya dengan menjadikan diri seperti tumbuhan, seperti malaikat. Kalau boleh meminjam kepenyairan Bejo, dengan kata lain hidup selamat itu ya ‘me-mohon’. Berlaku diri menyifati pohon. Dan artinya harus selalu ‘Nyandang’.” Ripin turut menyambung Bejo.

“Semoga kita dan apapun di sekitar kita dapat hidup dan selalu tumbuh seperti tumbuhan.”

Ripin dan Bejo mengaminkan harapanku yang juga harapan kami setelah cukup panjang berdiskusi.

Dua gelas kopi telah tandas. Bejo harus pamit pulang, dan langsung ke tempat KKN. Sementara Ripin bergegas mandi bersiap berangkat kerja, karena sebelum subuh ia harus sudah sampai di tempat kerja. Aku sendiri berberes meja, lalu tidur. Hari masih cukup dini, hujan masih menyisakan gerimis.

***

Catatan:

Mohon maaf yang sebesar-besarnya, seluas-luasnya, sedalam-dalamnya apabila ada kesamaan nama tokoh, karakter atau peristiwa yang membuat pembaca atau siapapun tidak berkenan. Sungguh karya ini hanya fiktif belaka, yang penulis sarikan dari pikiran dan imajinasi sendiri. Dan tentu juga tidak lepas dari pengaruh pengetahuan dan pengalaman penulis dan lingkungan. Semoga tulisan ini bermanfaat.


Minggu, 26 Februari 2017

Ibu(nya) Kota(-kota) Negara Bernama Jakarta

Melihat Jakarta hari ini susah percaya bahwa Ia Ibu Kota Negara. Sama sekali tidak terasa aura itu. Di kampungku misalnya, Jakarta hanyalah tempat para buruh bekerja mencari imbalan untuk menyambung hidup. Mereka yang bingung mau bekerja apa di kampung, pergilah ke Jakarta. Mereka yang tidak memiliki lahan garapan atau kurang terampil mengolah lahan, juga pergi ke Jakarta. Ada lagi yang pergi hanya karena melihat tetangganya tampak berhasil, kehidupannya berubah, kulit tubuhnya cerah bersih terawat, dan pakaian serta penampilannya lebih nyentrik dan ngetren. Dan ada juga yang pergi untuk bisa berucap 'Gue Elu'—lebih tepatnya leluasa, karena kalau memakai di kampung akan wagu dan lebih banyak dapat marah.

Dari yang pergi ada yang menetap hingga memiliki KTP Jakarta, dan sebagian lagi pulang—baik dengan modal usaha di kantong maupun yang melompong. Penggambaran-penggambaran mereka tentang Jakarta belum pernah terdengar tentang kaitannya dengan Ibu Kota Negara. Bahkan Lurah pergi ke Jakarta bukan untuk kepentingan Negara. Kadang jualan dan kadang hanya sekedar menengok cucu-cucunya yang menjadi warga Jakarta. Untuk tugas-tugas yng berkaitan dengan pemerintahan, Lurah banyak datang ke Bogor atau daerah-daerah lain di Jawa, tapi bukan Jakarta. 

Atau untuk memahami Jakarta sebagai Ibu Kota Negara harus menjadi Sejarawan dulu?

Jakarta-Jakarta, malang nian nasib mu. Kasihan, tidak setiap Warga Negara yang Kau (Jakarta) Ibu Kotanya dapat paham bahwa Kau Ibu Kota Negara yang sekarang. Gambaran dari orang-orang di kampung ku memang masih kampungan, ndusun, nggutuk, udik seperti itu. Untuk dapat memaknai Jakarta sebagai Ibu Kota Negaranya mereka perlu menjadi Sejarawan terlebih dahulu. Tapi ya mana mungkin, untuk tidak dikatakan miskin saja masih harus bekerja sebagai buruh di Jakarta. Sedangkan menjadi Sejarawan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mampu—ya intelektualnya ya duitnya ya aksesnya dan ya ya ya yang lain.

"Eh Jak (Jakarta), Gue pernah dapet oleh-oleh dari mereka pade yang sempet beberapa lama berhiruk-pikuk di pangkuan lu. Hanya sebentuk pribahasa penggambaran tentang elu memang. Begini ni ungkapan mereka pade: 'Sekejam-kejamnya Ibu tiri masih kejam Ibu Kota.' Dahsyat bukan? Elu kan Ibu Kota yak, masa iya Elu lebih kejam dari ibu tiri?"

Walaupun aku belum pernah benar-benar merasakan kekejaman itu, tapi entah bagaimana yakin betul bahwa ungkapan itu sungguh-sungguh lahir dari ketegangan urat-uratmu. Memang sempat beberapa kali berkunjung dan singgah, dan memang tidak ada kebetahan ku jumpai apalagi nyaman. Begitu sumpek, untuk bernafas saja harus tersengal-sengal. Semua seperti sedang dikejar atau malah mengejar? Serba terburu-buru, harus cepat dan sebisa mungkin praktis.

Jika saja Sejarah tidak mencatat, melihatmu hari ini sungguh tak percaya bahwa kau Ibu Kota Negara.

Barangkali kau bertanya "lantas Ibu Kota Negara yang kau maksud itu yang bagaimana?"

"Namanya saja 'Ibu' Kota, ya yang selayaknya sejatinya Ibu lah."

"Loh malah sudah lebih to!"

"Lebih kejam dari Ibu tiri?"

"Heh! Lantas?"

"Ibu itu sakral, suci, anggun, lembut, tapi juga pinter, terampil dan rajin mengatur rumah tangga."

"Jadi bener, Aku ini hanya Ibu tiri yang hanya cinta kepada..."

"Bukan Ayahku saja!"

"Lhoh! Lagunya kan gitu, Ibu tiri hanya cinta kepada Ayahku saja, syalala lala lala"

"Berisik ah, Ibu kok berisik. Ayah dari mana? Lha Indonesia lahir yatim!"

"Maksud lu?"

"Lha Ayahnya siapa? Dari dulu nyanyinya cuma Ibu Pertiwi, Ibu Kartini dan akhir-akhir ini Ibu Mega... eh Ibu Kota Jakarta maksudnya."

"Jangan sering-sering salah sebut, dapat perkara lu nanti. Eh maksud pertanyaan gue, kok bisa Yatim, lha Bapaknya ke mana, di mana?"

"Ya nggak ke mana-mana dan nggak di mana-mana."

"Bapaknya nggak jelas maksudnya?"

"Ya nggak gitu juga!"

"Lha ya gimama, katanya yatim?"

"Rasa-rasa ku begitu. Indonesia itu Yatim. Seperti Nabi Muhammad yang sudah yatim sejak beberpa bulan dalam kandungan. Atau seperti Nabi Isa yng ditakdirkan lahir tanpa diperantarai peran Bapak."

"Jadi Indonesia ini semestinya seperti Nabi Nabi yang kau yakini itu? Bicara kok menurut keyakinan. Bikin sensitif!"

"Lha kalau nggak menurut keyakinan masa iya keraguan. 'Menurut keraguanku...' kan nggak pantes, wagu! Dan nggak bakalan ada orang percaya omongan kita. Malah dituduh pembuat hoak iya ntar!"

"Hoak atau Ah..."

"Hus! Katanya Ibu Kota. Ibu kok bikin hoak, sensitif mudah tersinggung lagi!"

"Gak boleh tersinggung, sensitif?"

"Setidaknya sensitif jika anak-anaknya terlantar, menderita, tertindas."

"Lho terlantar to? Yang mana yang menderita? Siapa yang menindas? Bilang ayo bilang!"

"Nah ini! Ibu kok gak adil!"

"Bisanya kok cuma menuduh. Yang sensitif lah, mudah tersinggung lah, gak adil lah. Gue perkarakan lu. Pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan atau mau pakai tuduhan yang lebih baru: pembuatan hoak?!"

"Sebelum memperkarakan mbok yao sensitifnya yang adil dulu. Jangan terlalu narasis! Kayak ABG aja."

"Ah selalu mbulet. Sensitif kok adil, itu kagak ada di pelajaran sekolah. Gak penting!"

"Kau kan Ibu(nya) Kota(-kota) Negara ini, mbok kalau sensitif yang bukan untuk kepentinganmu sendiri. Gak cuma mikirin diri sendiri terus gitu lho. Walaupun masalahmu sendiri begitu banyak dan kisruh, gak perlu lah terlalu dinampak-nampakkan. Kasihan, para pengangguran sepertiku ini—yang harusnya mikir untuk berkerja apa—jadi kebawa kisruh dan hati rusuh turut mikir untuk tidak perduli sama sekali atau harus bingung dengan kejelasanmu: kau ini Ibu Kota bukan?"

"Bukan urusanmu! Cuma bocah saja sok tau!"

"Bukan sok tau, aku ini sedang bingung. Kok kamu kayak gak bingung gitu ya? Padahal masalahmu kan begitu ruwet. Dan parahnya semua keruwetan itu atas kepentingan mu sendiri. Makanya kebingunganku itu di situ lho, kayak bukan Ibu gitu."

"Bingung kok ngajak-ajak. Kalau bingung, bingung aje sendiri gak usah ngajak-ngajak!"

"Siapa yang ngajak?"

"Lha itu tadi!"

"Gak ngajak, cuma curhat. Masak nggak boleh curhat sama Ibu sendiri! Ibu apa itu?"

"Ya Ibu Kota to!"

"O jadi Ibu Kota itu seperti itu? Sibuk urusan sendiri, kepentingan sendiri. Egois!"

"Gak usah ikut campur dah, urus aje urusan lu sendiri. Noh, lu kan pengangguran dan banyak orang kampung lu yang bingung mau kerja, pada akhirnya mengadu nasibnya ke pangkuan gue juga. Lu urus tu yang udik-udik, nambah-nambahin sumpek Ibu Kota aje! Bikin macet, banjir, panas, sesak, semrawut, dan berbagai masalah aje!."

"Lho kan memang gitu! Kalau nggak macet, nggak banjir, nggak panas, nggak sesak, nggak semrawut, nggak banyak masalah bukan Ibu Kota namanya."

"Tapi katanya Ibu itu harus Sakral, Suci, Anggun, Lembut, Penuh Kasih Sayang, Madrasah paling awal dan pokok bagi anak-anaknya, tempat sekaligus subjek pengaturan rumah tangga berada dalam kuasanya."

"Sensitif tapi nggak sensitif. Disindir nggak merasa tersindir. Ibu nggak merasa Ibu."

"Gak realisti! Mengharapkan Ibu Kota—yang hanya sebgai salah satu tempat administrasi berlangsungnya sebuah Negara—harus memiliki sifat-sifat Ibu yang Sakral, Suci, Anggun, Lembut, Penuh Kasih Sayang, dan tetekbengek Ke-Ibu-an lainnya. Logikanya gak jelas!"

"Kalau gitu nggak usah pakai kata 'Ibu', cukup 'Kota' saja biar jelas. Karena hanya yang menguntungkan diri saja yang logikanya jelas. Yang merugikan apalagi mencelakakan diri sudah pasti tidak memiliki logika. Kasihan!"

"Memang. Kasihan. Sudah Yatim tambah nggak punya Ibu lagi."

"Iya, Yatim-Piatu. Orang jawa bilang 'Lola': nggak punya orangtua."

"Terus bagaimana?"

"Ya udah gini. Ribut saling berkelahi, saling menjegal, saling menindas, saling merasa paling benar."

"Iya tau. Setidaknya ada hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi itu semua, terutama kebingunganmu itu!"

"Cari! Nanti juga nemu."

"Gak nyari aje tiap hari udah nemu ini nemu itu. Dan sialnya nemu kebingungan, kayak elu. Memang cari apa?"

"Orang tua, minimal Ibu."

"Kira-kira siapa yang layak menjadi Ibu Negeri ini?"

"Ya jangan mengira siapa. Malah dikira obrolan politik nanti! Bersama-sama saja menetapkan yang bisa di-Ibu-kan."

"Dengan begitu kebingungan mu menjadi terang?"

"Ya nggak menjamin juga. Karena kebingunganku itu nggak penting."

"Nggak penting?"

"Dan aku sendiri memang tidak penting."

***

Kamis, 17 November 2016

Rindu Puisi Puasaku

https://youtu.be/AHk7CX0kQXA

"Wahai dunia
Aku mencintai gemerlap kemewahanmu
Aku mencintai laut darat kehangatan dan kesejukanmu
Tapi aku bukan pengantinmu
Dan kau bukan pengantinku"

Ini tanggal 17. Mestinya aku berjalan beberapa jauh untuk datang ke-kasih-an. Karena rindu puisi dan puasa, hanya mampu ku toreh dari ujungpandang.

Film Rayya ini
Rindu Puisi sekaligus Puasa
Seperti semilirnya angin yang dingin
Seperti embun yang menggantung
Di ujung pagi

Rindu selalu memberi jarak
Puisi pun berjarak
Puasa bertahan pada jarak
Jauh dalam ke dasar jiwa
Mencari cahaya

Kamis, 10 November 2016

Yang Menjadikannya, Menyebutnya Kiai Siapa?

"Sing ngarani aku Kiai sopo, sing nyebut-nyebut aku Kiai sopo, sing ngangkat-ngangkat aku dadi Kiai sopo? Sak karep mu! Aku nuntut ngelmu amergo nggugu dawuhe Kanjeng Nabi. Aku nularke, nurunke ilmu sing ana ning aku amergo ilmu iki dudu duwen ku. Ilmu duwene Pengerane (Gusti Alloh). Saru lek aku dagangan ngelmu. Isin kalihan Gusti sing Kaguman ngelmu. Ugo aku nduweni kewajiban nularake ilmu sing wus ana ning aku. Mung ya kudu ngati-ati, tansah nyuwun pitulung Gusti. Pitulungan mboten kesasar ugo mboten nyasaraken lian perkarane nyiaraken ngelmune Gusti kang Moho Kaweruh. Nyuwun Welas'e Gusti kang Moho Welas."

Petikan bicang bersama Pak Lik pada Senin, 7 November 2016 lalu.

Aku ngobrol santai di rumah Pak Lik. Temu kangen dari kedatanganku sore hari sebelumnya. Sedikit cerita, Pak Lik ku ini pernah nyantri di Jember pada masa mudanya. Dan memang mbah Kakung membekali anak-anaknya dengan pendidikan Pesantren. Terlebih anak laki-laki.

Suatu hari mbah Kakung mengirim surat untuk Pak Lik yang sedang di Pondok Pesantren. Dalam suratnya Mbah Kakung mengajukan sebuah permintaan yang mengandung harapannya untuk Pak Lik. Mbah meminta Pak Lik untuk belajar baik-baik di Pesantren. Sehingga setelah tiba waktunya nanti menjadi Kiai. Harapan yang semua orang tua inginkan.

Pak lik dengan sederhana dan kehalusannya membalas surat Mbah Kakung yang ia sangat sayangi dan cintai. Pak Lik berterimakasih atas nasihat dan harapan yang mbah Kakung sampaikan. Ia akan belajar dan hormat kepada gurunya. Namun dengan berat, Pak Lik menangguhkan untuk jadi apa nanati. Artinya harapan mbah Kakung tak bisa menjadi pegangan bagi Pak Lik. Ia hanya pasrah atas usaha yang sudah dilakukannya. Soal jadi apa tak menjadi kepentingan baginya. Menyerahkan kepada Gusti akan menjadikan apa ia atas usaha-usaha dan doa-doanya.

Selama di Pesantren Pak Lik lebih banyak belajar langsung dengan gurunya di sawah, ladang, pasar, jalan-jalan, dan apapun di sekitarnya. Lingkaran majelis ilmu ia ikuti untuk menyerap ilmu-ilmu hukum. Hingga sekarang walau sudah tidak di Pondok Pesantren, Pak Lik masih merasa menjadi santri. Banyak guru-gurunya bersembunyi diantara botol-botol plastik pulungan. Berkeliaran seperti pengemis. Ada lagi gurunya diantara para buruh tani. Sampai petapa penjaga gunung, danau, sungai sampai pantai. Dan tetap konsisten, akan jadi apa, ia pasrah kepada Gusti atas usaha dan doanya. Dalam sekala rasional atau irasional. Pasrah.

Pak Lik sama sekali tidak memiliki profesi tetap. Namun kecukupanny selalu ia syukuri. Sehingga tak ada kekurangan atau kefakiran yang ia rasakan. Mungkin ini merupakan aplikasi ilmu pasrah itu. Tidak menggantungkan pada ketetapan sebuah profesi. Hanya satu tempat Pak Lik menggantungkan segalanya: Gusti Alloh kang Moho Agung.

Berbagai pekerjaan ia geluti mulai dari masa mudanya hingga sudah memiliki dua buah hati yang kini sudah beranjak remaja. Di mana himpitan kebutuhan keluarga dituntut oleh zaman. Pak Lik tidak bisa mengelak dari tuntutan itu. Bagaimanapun kehidupan Pak Lik dan keluarga adalah bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Maka kebutuhannya pun tak terlepass dari umumnya masyarakat. Namun sekali lagi Pak Lik tetap konsisten, tidak menjaminkan kebutuhannya pada sebuah profesi tetap. Kasarnya, Pak Lik bekerja serabutan. Ia tak memiliki jaminan pensiun, tidak juga memiliki jaminan asuransi apapun. Bahkan ia sama sekali tidak berharap jaminan dari Negara tempatnya bernaung. Satu saja ia percaya, yakin dan bersaksi bahwa ada yang menjamin atas penciptaan dirinya beserta tanggungjawab dalam kehidupannya: Gusti kang Kholik.


Buruh tani, pekerja proyek jalan raya, petani kecil, kuli bangunan, penjaga kebun binatang, penjual pentol dan pekerjaan buruh lainnya pernah digelutinya. Pekerjaan apapun ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya. Terkadang rumahnya ramai didatangi orang untuk berobat, padahal Pak Lik bukan dokter apalagi dukun. Kadang juga didatangi seorang yang dirudung masalah rumahtangga, menghadapi perceraian, ingin rujuk, keluarga harmonis, anak rewel, anak bebal, dan berbagai masalah keluarga lain. Padahal Pak Lik bukan seorang psikolog apalagi bersertifikat. Ada juga caleg atau para pengusung kepentingan politik datang sekedar meminta air dengan sedikit bacaan-bacaan yang menguatkan mental menambah percaya diri untuk maju mengusung visi misinya. Para petani yang meminta arahan musim tanam, mengelola produksi, sampai manajeman lahan mengadu dan berdiskusi padanya. Padahal ia bukan seorang insinyur pertanian apalagi penyuluh dari dinas pertanian. Para pedagang berdiskusi strategi pemasaran, manajeman produk, pemanfaatan modal kecil sampai bagaimana menahan arus modal besar riuh kecil dibisikan di bawah atap rumahnya. Lagi-lagi padahal ia bukan ahli ekonomi makro ataupun mikro. Kadang juga ada pengunjungnya datang membawa penyakit kanker atau penyakit berat lainnya yang dianggap hasil kiriman orang berupa tenung, klenik, santet, dan berbagai istilah perdukunan mistis mengadu mengeluh minta penyembuhan. Pak Lik bukan juga dukun santet atau pemuja aliran-aliran mistis yang memberi sesaji pada para perewangnya. Kalaupun ada perewangnya, itu bukan kemauannya. Mereka datang untuk berbhakti dan hormat pada manusia yang Gusti Alloh menitipkan ilmu dan sedikit derajat padanya. Dan kalaupun ia membakar kemenyan, menabur bunga di atas air, atau apapun yang biasa dipersepsikan sebagai sesaji pemujaan, Pak Lik lakukan semata-mata untuk bersedekah kepada sesama makhluk ciptaaNYA. Lebih tinggi daripada itu, semata bentuk tanggungjawab karena sudah diikuti dan dihormati.

Di rumahnya tidak ada barang-barang pusaka yang mencolok. Semuanya biasa saja layaknya masyarakat buruh tani di sekitarnya. Bahkan televisi yang menjadi sebagian besar hiburan masyarakat di kampungnya, hanya teronggok tak berfungsi di ruang keluarga."Sudah satu bulan televisi tidak hidup, anak-anak dan isteriku santai gak ribut, juga tidak mbela-mbelain nonton tempat tetangga". Seloroh Pak Lik sambil menggulung lintingan tembakau pres hitam dari Temanggung dengan taburan cuilan kemenyan. Entah bagaimana sambung menyambung perbincangan itu sampai juga ia menyinggung acara demonstrasi yang dilakukan sebagian umat Islam di Jakarta pada 4 November lalu. Ia prihatin dengan umat yang mudah mengangkat dan menjatuhkan lebel-lebel yang mereka buat sendiri. Kapan mereka suka dan sesuai dengan naluri nafsunya, lekas diberinya lebel tertentu. Kapan mereka tidak suka dan tidak sesuai naluri nafsunya, ya sudah lekas mereka copot lebel sebelumnya. Masih mendingan jika hanya dicopot lebel sebelumnya. Lebel lain yang sesuai dengan nurani nafsunya segera dihujamkan, teriakan, koar-koarkan, siarkan, debatkan, tertawakan, laknatkan, dan tak cukup hanya itu. Kutukan yang kesejatiannya hak milik Gusti Alloh pun dipakainya memberi lebel dari penghakimannya sendiri.

Kutipan pernyataan dalam pembukaan di atas ku dapat dari persinggungan Pak Lik terhadap fenomena mudahnya pelebelan dilakukan sekarang ini. "Tak perlu jauh", kata Pak Lik "di sekitar kampung sini saja. Aku nggak pernah ingin menjadi ini menjadi itu. Atau hanya sekedar sebutan ini sebutan itu. Babarblas ora pengen, nggak pengen".

Tapi mereka tanpa minta ijin, menyebut Kiai, memanggil Kiai, orang pintar, dituakan, Ulama, dan banyak lagi. Pak Lik hanya bisa melakukan yang bisa dilakukan. Dan itu pun selalu ia meminta maaf dan minta ridlonya Gusti Alloh. Tapi begitu permintaan mereka gak terturuti gak kabul atau kabul dalam bentuk lain yang gak sesuai harapan mereka lantas mereka mencari jalur alternatif lain. Dimas Mansur, eh Kanjeng, tempat hijrah paling mulus bahkan disarankan hijrah melalui youtube tanpa bufering. Baik digandakan melalui MLM sodaqoh atau jualan sodaqoh yang begitu cepat melipatgandakan rejeki. Dalam hanya beberapa bulan sudah bisa beli rumah, mobil, bahkan pesawat. Atau biar ndak terkesan terlalu matrialis, ya ikut paket umroh atau haji plus bareng ustadz atau kiai dengan penawaran diskon atau promo tertentu. Kalau sudah pulang dari tanah suci, telunjuknya ngacung-ngacung: sesat, kafir, laknatullah, terkutuk, penista; kepada siapa saja yang tak sependapat dengannya, tak sealiran bisnis dengannya, mengancam merusak jaringan MLM bisnis sodaqohnya, dan pokoknya yang tak berpihak mendukung atau setidaknya tidak dapat dimanfaatkannya.

Asap tebal terhembus ke udara dari hisapan lintingan tembakau Pak Lik.

Seperti yang Pak Lik katakan, ia tak ingin jadi apa dan disebut apa. Namun banyak yang menjadikannya dan menyebutnya apapun tanpa ijin darinya, tanpa memberitahunya terlebih dahulu, boro-boro berdiskusi dahulu. Gusti Alloh nyuwun agunge pangapunten. Ngapunten lan nyuwun ridlo Panjenengan kagem Pak Lik duh Gusti.

Kamis, 20 Oktober 2016

Soal Tempe

Ba'da Isya aku berjalan keluar kos untuk mencari makan. Rencananya ke warung Burjo atau Angkringan. Dalam kondisi apapun tempat makan favorit ku adalah dua tempat itu.

"Kalau di warung Burjo terlalu rame (umpel-umpelan), ke Angkringan saja", batin ku.

Aku berjalan santai sambil senyam-senyum menyapa beberapa bapak ibu juru parkir di trotoar. Kendaraan cukup ramai berseliweran dari selatan ke utara dan sebaliknya. Di seberang jalan ada deretan PKL (Pedagang Kaki Lima) ramai. Deretan itu cukup menarik perhatian ku. Terutama gerobak yang bertuliskan "Mendoan Demit: Tempe mu tak seenak tempe ku".

"Lah, Demit?" Batin ku. Apa aku masuk ke dalam cerita Wasripin. Tapi seting tempat Wasripin kan di Pantai Utara Jawa. Ini Yogya. Tapi mungkin saja. Barangkali di gerobak Mendoan Demit itu ada foto Wasripin atau Satinah. Seperti yang dilakukan nelayan-nelayan pantai utara sana mereka memasang foto Wasripin untuk Azimat. Atau foto Satinah yang yang begitu mempesona dengan rupa dan suaranya.

Urung niat ku untuk ke salah satu dari dua tempat yang kurencanakan. Aku menyeberang dan menghampirinya.

"Pintenan bu?" Tanyaku pada penjual mendoan.
"Selembar tiga ribu mas"

Ku lihat lembaran tempe yang belum digoreng cukup lebar.

"Kaleh nggih bu." Pesan ku pada ibu penjual.
"Mau dipotong nopo mboten mas?"
"Nggih dipotong bu."

Satu lembar tempe dipotong sama besar menjadi empat bagian. Dengan tepung dan bumbu khasnya tempe digoreng. Sementara aku jelalatan ke sana ke mari mencari foto Wasripin dan Satinah. Tidak ku temukan. Bahkan foto artis atau artis politik, artis ustadz, artis ulama pun tak ada.

"Didamel kering mas?" Suara ibu penjual mengembalikan fokusku pada tempe mendoan.
"Lha mendoan mosok kering bu, dados keripik mangkeh bu." Jawab ku sambil bergurau.

Tak lama tempe mendoan sudah diangkat dari belangannya. Delapan potong mendoan dimasukan ke kantong plastik yang sudah dialasi daun pisang. Tak ketinggalan rontokan tepung dalam belangan juga ikut dimasukan. Bersama sambal kecapnya Mendoan Demit ku bawa pulang. Rasanya aneh kalau makan mendoan kok tidak ada kopi. Rencana ke warung Burjo ku lanjutkan. Bukan untuk beli makan, tapi beli kopi.

Hari ini aku hanya kenyang dengan tempe. Pagi sampai siang aku beli tempe juga cukup banyak. Walau bukan mendoan, tapi hampir mirip. Ku beli dari Warung Burjo. Memang lebih tipis dari mendoan dan lebih kecil ukuran tempenya. Tapi tepungnya cukup tebal dan agak alot saat dimakan. Dan menjadi salah satu sajian tempe yang ku suka. Apalagi dimakan sambil ngopi. Aduh lupa daratan sudah.

Soal tempe, mau dibuat apa saja selalu enak untuk dimakan. Dan aku adalah penggemar tempe sejati. Hahahaha. Tempe adalah makanan hari-hari ku dari masih bersekolah di TK. Jaman TK aku sudah doyan makan cabe ijo. Tentu sama tempe. Sepulang sekolah tempat makan ku di bawah pohon cabe. Kadang Mbah ku lupa menyediakan cabe karena kehabisan atau karena memang disengaja supaya aku tidak terlalu banyak makan cabe. Makanya sampai sekarang sama pedes itu paling doyan. Sama dengan tempe.

Di Yogya ini aku begitu dimanjakan dengan tempe. Berbagai rasa dan harga pernah ku coba. Dan seberapapun besar kecilnya, tempe yang digoreng terlalu kering dan tipis pula itu aku gak begitu nafsu. Kecuali kalau sudah tidak ada yang lain. Dan tidak tau kenapa, tempe selalu enak dan cocok di lidah ku saat bertemu kopi. Sama dengan asap tembakau yang ketemu kopi. Gambarannya seperti sepasang kekasih yang sekian puluh tahun menahan rindu dan dalam waktu keputus asahan akan rindu mereka dipertemukan. Begitulah saat tempe dan kopi bertemu di lidah, begitu juga asap tembakau dengan kopi.

Jadi kopi itu semacam laki-laki yang berpoligami. Dalam dunia ku Kopi kadang berpasangan dengan tempe dan kadang pula dengan asap tembakau. Kalau pas rezekinya, mereka bertiga kumpul bareng dan akur. Dalam dunia orang peminum kopi yang lain mungkin beda. Seperti pada beberapa toko buku online dalam lingkaran Indibook Yogya selalu menampilkan selogan: Aku, Kopi dan Buku. Sudah beda lagi. Maka kalau aku buka toko buku online selogannya: Tempe, Kopi dan Asap tembakau. Nanti dari calon pembeli akan bertanya, "jadi yang dijual buku, asap atau tembakau?" Kemudian akan ku jawab "Sak karep ku, aku sing nduwe tokone kok".

Salam Anak Tempe.
"Tempe mu tak seenak Tempe ku" Mendoan Demit, Jl. Monjali, Blunyah Gede, Mlati, Sleman, DIY.

Selasa, 04 Oktober 2016

Kasih-sayang Yogya

Yogyakarta setiap sudut kotanya adalah rindu.

Rindu pada siapa?

Pada suasana.

Suasana seperti apa? Setiap waktunya yogya berubah.

Ada kenangan di yogya.

Kenangan atau sejarah?

Keduanya tak terpisahkan.

Jadi kenangan dan sejarah itu sepasang kekasih? Dan mereka berdua menciptakan ruang kerinduan?

Mendekati seperti itu.

Tapi keduanya tak terpisahkan! Kenapa ada ruang rindu? Apakah mereka sempat berpisah, sehingga ada jarak untuk rindu bersemayam?

Buktinya orang-orang yang pernah tinggal dan datang ke Yogya selalu ingin kembali.

Hanya orang?

Kalau ada yang selain orang, mungkin saja.

Binatang juga rindu Yogya?

Kulit kacang, ampas kopi, irisan tembakau saja rindu.

Mereka punya kenangan dan sejarah juga?

Setetes air sebutir debu pun punya.

Memangnya apa itu kenangan, apa itu sejarah. Apa hubungannya dengan rindu dan Yogya?

Kenangan itu sesuatu yang tak mungkin dijangkau kembali. Sehingga ia membentuk ruang rindu. Dan sejarah adalah kenangan yang melibatkan banyak pihak. Ada yang merindu, membenci, memuja, melawan, memberontak, mengelu-elukan, mensia-siakan, menginjak-injak dan banyak me- lain.

Lantas perbedaan kenangan dan sejarah, bagaimana?

Kenangan itu perempuan, sejarah itu laki-laki.

Jadi benar mereka sepasang kekasih?

Mereka saling melengkapi.

Dulu mereka di yogya?

Sampai sekarang.

Dan tak pernah pergi ke mana-mana, hanya di Yogya saja?

Seyogyanya di setiap tempat ada.

Hanya setiap tempat, tidak setiap waktu?

Setiap tempat dan setiap waktu.

Tempat dan waktu itu sepasang kekasih yang lain lagi?

Semacam itu.

Mereka sering kencan bareng kenangan dan sejarah?

Ya, mereka selalu bersama.

Di Yogya juga?

Seyogyanya di setiap yogya dibuat.

Memang yang membuat Yogya siapa?

Yogya dan seyogyanya dibuat sepasang kekasih.

Kok banyak pasangan kasih-kekasih. Yogya dan seyogyanya pasangan kekasih juga?

Arah-arahnya ke sana.

Ke mana?

Kekasih.

Kekasih itu apa?

'Ke' itu bergerak/berjalan menuju sesuatu, 'kasih' itu memberi.

Maksudnya berjalan untuk memberi atau berjalan sambil memberi, yang mana?

Keduanya termasuk.

Apa kasih memiliki kekasih?

Tentu.

Siapa?

Sayang.

Sayang itu kekasihnya kasih?

Kasih-sayang begitu kiranya.

Yang laki-laki mana, yang perempuan mana?

Kasih itu laki-laki dan sayang perempuan.

Sebagai laki-laki kasih tentu memberi, lantas sayang menerima begitu?

Boleh juga seperti itu. Sayang lebih banyak memelihara, merawat, mengasuh.

Jadi seyogyanya laki-laki memberi, dan seyogyanya perempuan memelihara merawat mengasuh?

Arah-arahnya mendekati.

Mendekati apa lagi?

Pengasih dan penyayang.

Siapanya kasih-sayang?

Semacam jarak yang membentuk ruang rindu.

Mereka terpisah?

Hanya mandiri. Namun selalu menyertai dan mengiringi.

Maksudnya kalau pengasih datang terlebih dahulu, penyayang buru-buru datang menyusul?

Dan sebaliknya. Semacam gejolak rindu yang bernafsu bertemu di ruang rindu.

Jumat, 08 April 2016

Serpihan Randu Beterbangan untuk Laksmi

Laksmi, adakah kau tahu, telah berulang kali aku membunuh mu dari fikiranku. Bahkan aku sudah biasa memenggal lalau menyingkirkan identitas mu, namun karakter dan kisah mu begitu setia membayang-bayangi perjalananku. Setiap kali menghirup pundi-pundi kisah dan karakter mu untuk ku cerna menjadi setetes pelajaran, keping demi keping sambung-menyambung kembali utuh dan hidup seperti tertiup angin rawa rontek. Kau bangkit lalu dengan penuh gemulai mulai menari seperti biasa. Hingga aku tertegun sendiri di bawah pohon randu menahan rindu mengenang mu.

Kalau kau mengingatnya, saat-saat kemarau seperti ini lah yang sama-sama kita rindukan. Saat angin meniup buah randu lalu menerbangkan kapas-kapas putih di angkasa, begitupun dengan kita yang mulai gelisah menahan rindu lalu menerbangkan kertas-kertas putih pengobat rasah. Kau selalu merengek ingin sekali mengulang masa kecil. Dan cerita-cerita masa kecil kita selalu kau ulang dalam surat-surat mu. Walau begitu aku tak pernah bosan membacanya. Bahkan terkadang aku sudah bisa menebak isi surat mu, tapi selalu saja resah aku menunggu dan berdebar saat membukanya.

Kau begitu menyukai buah randu,  sampai-sampai kau ingin juga menjadi buah randu itu. Awalnya terdengar konyol memang. Dan sempat aku juga menertawakan mu. Malah aku mengejek mu dengan sebutan 'klenteng'(baca: biji kapuk). Saat itu kau menangis menagkup kedua tangan di wajah. Ku kira kau berpura-pura, yang membuat ku semakin jadi mengejek mu. Kau tiba-tiba lari saat aku tengah tertawa lepas. Memang Sekilas aku melihat air matamu menetes, namun aku tak mempedulikan. Begitu kau menghilang dari penglihatanku, baru aku mulai teemenung. Baru esok harinya aku meminta ma'af pada mu saat kau datang kembali di bawah pohon randu alas itu dengan wajah sembab.

Saat-saat haru itu yang membuat ku tak bosan membaca surat-surat mu. Dengan perlahan kau jelaskan padaku mengapa mau jadi randu.

"Randu itu dipanen saat kemarau, serpihan-serpihannya terbang tertiup angin menghiasi angkasa, tapi itu tidak terlalu penting. Aku ingin menjadi randu yang diolah tangan ibu ku sendiri menjadi kasur dan bantal bagi suami dan anak-anak ku untuk istirahat"

Laksmi, kalaupun kisah mu tak dapat ku tuliskan menjadi sebuah cerita yang nyata, setidaknya karaktermu telah memperkaya khasanah pergaulan ku. Karena setiap karsa dan cipta adalah spesial, tiada tersia-siakan hadir mu. Seperti yang sama-sama kita pahami Tuhan tidak bekerja secara kapitalis. Karen tiada Ia menciptakan sesuatu melainkan setiap ciptaan-NYA memiliki spesifikasi yang berdeda-beda dan tersendiri. Demikian kisah sekaligus karakter mu menjadi pelajaran bagi ku.

***

Kamis, 05 November 2015

Surat Tri Fosa (Oca) untuk Ibu Susi Pudjiastuti

Geti Lama, 2 November 2015
Kepada ibu Susi Pudjiastuti
Di Jakarta

Salam hormat,
Perkenalkan nama saya Tri Fosa Kape (Oca). Saya tinggal di Geti Lama. Saya sudah kelas lima SD Negeri Geti Lama. Kalau umur saya sudah 11 tahun.

Setiap hari aku sekolah. Aku senang sekali ibu mau tau tentang laut. Di laut itu bagus sekali. Ada ikan, ada karang, ada bintang laut dan lautnya berwarna biru dan pasirnya berwarna putih. Setiap hari kita pergi ke tanjung. Kalau kita pergi ke tanjung, kuta pulang membawa ikan. Terus kita pulang, kita bakar.

Kalau kita sekolah, kita belajar matematika. Kita sudah tau matematika. Tri Fosa senang sekali belajar matematika. Wah, bikin kita semua pintar matematika.

Boleh kan Tri Fosa ceritakan tentang Soki. Dengar ya cerita Tri Fosa ya. Kalau Tri Fosa pergi ke soki mencari bia aku Tri Fosa melihat Yakis, melihat binatang yang paling besar. Kampung Geti banyak binatang. Ada binatang burung-burung. Itu paling suka berteriak-teriak di soki. Lalu Tri Fosa pulang dari soki Tri Fosa melihat ikan di laut yang paling besar sekali. Ikan yang bernama ikan hiu. Dia paling besar sekali. Tri Fosa lihat ikan itu, Tri Fosa takut sekali. Ikan hiu itu ada anaknya. Bernama hiu lagi paling besar.

Tri Fosa ceritakan tentang mengail. Tri Fosa mengail ikan di laut banyak. Tri Fosa pernah melihat ada orang bom ikan di laut. Ikannya jadi mati. Di laut ikan-ikan mati semua. Tri Fosa mengail tidak hela, karena ikannya sudah mati. Tri Fosa sedih sekali. Tri Fosa ke darat tanamannya sudah mati semua. Karangnya sudah pecah semua. Tri Fosa sedih sekali. Plangton juga sudah mati. Tri Fosa sedih sekali melihat ikan mati di tengah laut. Satu kali saat mereka sudah tidak bom lagi, ikannya lebih banyak. Jadi Tri Fosa senang dan laut sudah ada rumput laut subur dan indah sekali. Tri Fosa Kape suka sekali sama rumput laut. Itu ada ubur-ubur di tengah laut. Kalau kita di sini, kita pegang itu ubur-ubur tangan kita pasti gatal. Kan gatal sampai bentol sekali sekali kan.

Setelah aku sampai di situ, aku langsung lompat di pasir putih itu. Tri Fosa Kape kira tanahnya keras sekali. Setelah diinjak lombo sekali. Bintangnya berwarna biru sama dengan pantai di laut. Kan senang sekali melihatnya. Malah angin ditiup lagi, malah kita lebih segar. Kira-kira kita mau mengantuk di pasir putih, kalau kita mengantuk kita sudah tarada. Kagak mau pulang. Tri Fosa Kape senang sekali pergi ke laut. Bersama teman-teman ke laut indah sekali di tengah laut.

Ibu, boleh Tri Fosa ceritakan tentang memasak di dapur? Kalau kita memasak di dapur, kalau kita bikin sayur kangkung bumbunya bawang putih, bawang merah, minyak, roiko, dan rica. Baru kita isi sayur, langsung sudah masak. Kita makan enak sekali. Aku suka sama sayur kangkung. Itu kepengen makan terus. Terus Tri Fosa Kape bantu mama memasak di dapur. Aku suka banget sayur itu. Tri Fosa Kape senang sekali membantu orang tua saya di dapur. Kalau aku tidak membantu orang tua di dapur, orang tua saya pasti marah.

Itu saja ya. Sampai jumpa, da-da...
Cuma mau cerita ini untuk ibu Susi Pudjiastuti.

Tri Fosa Kape

Rabu, 04 November 2015

Surat Elam untuk Ibu Susi Pudjiastuti




Geti Lama, 2 November 2015

Kepada ibu Susi Pudjiastuti
Di Jakarta

Salamb hormat,
Perkenalkan nama saya Elam Kodobo. Umur saya 10 tahun. Saya tinggal di SD Negeri Geti Lama, Bacan Barat Utara.

Saya akan ceritakan tentang desa saya. Rumah aku pinggir pantai. Kalau aku pergi ke pantai jalan saja sedikit sudah sampai. Ibu Susi aku to tidak suka orang-orang luar. To mereka itu mau bom ikan. Kalau mereka bom ikan, kuta tidak makan tidak makan ikan lagi. Ibu, laut kuta to bagus sekali. Tapi, masyarakat-masyarakat membuang sampah di pinggir lautnya. Jadi ikan pun tidak datang lagi semua ke desa kita. Apakah ibu Susi pernah melihat ikan lumba-lumba? Ada ikan hiu, besar banget ikan itu.

Aku selalu merawat karang-karang yang di laut. Supaya ikan pun tidak meninggalkan tempatnya to. Kalau karang itu sudah tidak ada, ikan pun sudah tidak ada, tidak ada di karang itu. Kalau bukan itu sudah tidak ada di karang iitu akan kita ambil gimana? Karena orang-orang luar itu jahat. Dia bom ikan-ikan yang di karang itu. Jadi ikan itu sudah tidak ada lagi.

Ini tentang soki ya.
Setiap hari aku sepulang sekolah aku mencari bia dengan papaco. Papaco itu enak sekali. Biar pun aku sendiri, aku tidak takut. Soki-soki itu indah sekali. Sudah sore aku sudah pulang dari soki. Badan ku kotor sekali. Jadi mamaku marah sama aku.

Aku pergi ke sekolah. Terus aku sudah pulang sekolah, aku pergi cari lagi. Aku pergi ke soki. Aku naik-naik batang soki. Paling asik sekali. Elam paling senang sekali. Satu kali Elam naik di batang kayu, Elam jatuh. Paling sakit sekali, dan paling berluka. Langsung mama Elam obat, langsung sembuh Elam bisa berjalan yang lurus. Terus aku pergi lagi untuk main-main lagi ke soki. Terus aku naik lagi ke batang soki. Untung saja aku tidak jatuh lagi. Aku naik-naik lagi sampai ke ujung terus, aku turun sudah tidak bisa lagi. Jadi aku menangis. Untung saja ada Tika teman ku. Tika yang membantu aku. Jadi aku masih baik lagi. Terus aku main-main sekali lagi.

Ibu, di kebun saya ada ikan banyak sekali. Aku mau cerita.

Dulu aku dengan pak Mabrur jalan-jalan di pantai. Kalau pergi ke pantai selalu aku melihat karang-karang yang ada di laut. Aku melihat ikan. Wah, bagus banget. Terus aku ingat orang-orang yang membuang sampah di laut. Jadi aku to tidak mau kalau desa kita kkotor. Jadi aku bilang sama orang tua ku, jangan buang sampah di pinggir laut. Ikan-ikan pun juga takut, karena terlalu kotor airnya.
Terus orang pun juga bom ikannya. Jadi ikannya sudah tidak ada lagi. Di karang aku mengajakb pak Mabrur untuk ke laut melihatnya. Untung masih ada sedikit ikannya.

Ibu, setiap hari aku pergi ke kebun untuk mengambil sayur. Terus aku memasak sayurnya. Bumbunya rempah-rempah bawang merah, bawang putih. Terus ada juga roiko juga rica. Terus aku sudah habis memasak sayur, aku masak lagi ikan. Ibuku bilang sama aku bagini: 
"Elam, ikannya goreng saja, ikannya jangan di masak ya". 
Terus aku sudah habis masak, aku pergi mandi. Terus aku sudah habis mandi, berganti pakaian. Terus aku sudah habis berpakai pakaian ibuku bilang sama aku begini:
"mari kita makan bersama Elam, kamu jangan makan ikannya, kamu makan sayurnya saja. Supaya kamu pintar, supaya kamu bisa punya cita-cita. Kata ibu kamu yang menulis surat itu, kalau kalau kamu makan sayur-sayuran pasti badan kamu sehat dan kamu tidak sakit-sakit lagi. Supaya kamu juga bisa menulis surat sama ibu-ibu yang di Jakarta. Supaya kamu juga bisa ikut lomba. Kalau kamu pergi ke sekolah kamu minum susu dulu. Supaya badan kamu sehat dan kamu pandai menulis surat sama ibu-ibu kalian."

Jadi aku bilang sama ibuku: 

"nanti aku minum bu. Ibu taruh saja di atas meja. Tunggu sebentar, aku berpakai dulu bajuku ini dengan rapi, kalau pergi ke sekolah, supaya jangan ibu marah sama kita lagi. Kalau baju kita tidak rapi." Begitu!

Itu saja ceritaku ini kepada ibu menteri Kelautan dan Perikanan. Salam ya ibu Susi Pudjiastuti.

Ananda
Elam Kodobo

Jumat, 16 Oktober 2015

Kita Kebingungan

Baru kali ini pose ku saat berfoto berhasil bener-bener natural. Aku tidak berperan sebagai apa-apa di sini. Hanya memerankan diriku saja.
Nasihat orang-orang tua pada ku: "dalam kebingungan, ubahlah posisi mu lebih dekat dengan tanah —jika saat kebingungan mu dalam berdiri maka jongkok lah, kemudian jika masih saja kebingungan ada maka berpegangan lah, jika masih juga ada maka duduk lah, dan jika tetap kebingungan terus coba rebahkan lah badanmu."
Di tengah kesamaan "bingung" yang kita miliki, marilah kita berpegangan tangan. Agar "kebingungan" itu menjadi lebih besar —karena kebingungan-kebingungan kita ini akan terakumulasi saat tangan-tangan kita berpegang-gandeng satu dengan yang lain— sehingga Tuhan akan menurunkan petunjuknya atas "kebingungan" besar-bersama yang kita miliki.
Tanah atau Lemah —disebut dalam salah satu bahasa suku Nusantara— bermakna ialah asal muasal kita manusia. Dalam kesamaan kata pada bahasa melayu —yang juga salah satu suku Nusantara— "lemah" berarti sesuatu yang tidak punya daya. Maka dalam nasihat orang-orang tua itu, saat terjadi kebingungan perbanyaklah mengingat asal muasal. Di mana saat itu kita hanyalah "lemah" yang tidak punya daya. Maka dalam kondisi lemah tak berdaya yang disadari sama-sama, saat itu hanya petunjuk Tuhan yang diharap.
Maka tidak ada daya dan upaya melainkan hanya dari Tuhan datangnya.
#bacalah
#nusantara
#diperjalankan

Senin, 12 Oktober 2015

Sri: Siswi SABETA Nusantara

Nama ku Sri Nova. Nova adalah salah satu fam —marga— dalam suku Galela. Semua suku asli Maluku Utara menggunakan nama fam di belakang nama-nama asli setiap generasi yang lahir. Budaya ini turun-temurun hingga sekarang. Menjaga budaya, menjaga nama baik leluhur menjadi kewajiban bagi setiap generasi yang hidup di tanah dan air Maluku Utara.

Aku tinggal bersama kedua orang tua ku di desa kecil bernama Geti Lama. Desa yang telah membesarkan aku yang bungsu bersama kedua kakak ku. Sebagai anak perempuan bungsu, saat ini hari-hariku tak luput dari membantu kedua orang tuaku yang kerepotan menafkahi keluarga. Papa ku bekerja serabutan. Kadang bekerja membelah kayu, kadang juga mencungkil kelapa milik saudara-saudara papa dan mama, kadang juga menjadi ojek laut menggunakan ketinting peninggalan tete —kakek.

Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah aku berkeliling desa untuk menjual roti garu —roti tawar yang berbentuk seperti buah ketapang utuh berlumur gula pasir yang dicairkan. Roti garu dibuat mama ku saat malam hari. Ku temani mama sambil belajar mata pelajaran yang akan diajarkan esok hari di sekolah.

Roti garu yang ku jual laku sekali. Karena sudah menjadi kebiasaan warga desa Geti hanya sarapan dengan kue dan minum te —teh. Terkadang belum sampai pukul 07.00 WIT, aku sudah pulang dengan bokor —toples—  yang sudah tak berisi. Bahagia ku dapat saat pulang dengan bokor yang telah ringan. Baru setelah berjualan aku bergegas mandi dan langsung berangkat sekolah.

Aku tidak sarapan di rumah, melainkan membawa bekal ke sekolah yaitu satu botol air te dan dua buah roti garu yang sudah disiapkan mama saat aku sedang berjualan. Sehingga di sekolah aku tidak lagi jajan.

Oh iya, aku sampai lupa. Nama sekolah ku SD Negeri Geti Lama. Saat ini aku duduk di kelas lima. Kami belajar itu selalu digabung dengan kelas enam. Satu ruangan dengan satu guru dan materi pelajaran yang selalu sama. Bahkan dalam belajaran kami tidak bisa membedakan mana pelajaran kelas lima dan mana pelajaran yang kelas enam.

Namun kami bersyukur dapat belajar dengan tenang di sekolah. Terlebih saat bapa guru memperkenalkan kami dengan Sahabat Pena. Mereka sudah melengkapi kekurangan guru di sekolah.

Dengan adanya Sahabat Pena yang kami namai SABETA (Sahabat Beta) Nusantara, kami lebih semangat lagi untuk datang ke sekolah dan lebih giat dalam belajar. Mereka adalah teman-teman sekaligus guru kami yang berada di luar Maluku Utara. Ada yang di Medan, Padang, Lampung, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Malang, Blitar, juga ada yang di luar negeri: Jepang.
Menyenangkan sekali bisa berkirim surat dengan mereka. Kami jadi tau tentang kota-kota besar. Tentang gedung-gedung yang tinggi dan tentang keramaian di kota. Kami juga berbagi kabar tentang keadaan alam di desa kami. Menurut surat balasan mereka yang kami baca, begitu senang mereka dapat surat dari kami. Sama, Kami pun senang. Dan mereka keheranan dengan cerita tentang desa kami yang tidak ramai seperti tempat tinggal mereka.

Saat pulang dari sekolah kalau tidak ada jadwal les, kami selalu berjalan ke kebun untuk mengambil kelapa, sayur dan kadang juga ambil kayu bakar. Daun paku, daun kasbi (singkong), kangkung, juga daun atau bunga pepaya dan sayur-sayur lain berlimpah di kebun-kebun kami. Sebenarnya kami masyarakat Maluku Utara tidak begitu suka dengan sayur-sayuran. Kami lebih suka makan ikan. Sehari saja kami tidak makan ikan, badan kami serasa soak —lemas. Ini karena desa-desa di Maluku Utara terletak di pantai-pantai. Hidup kami tidak bisa lepas dari laut. Kami begitu mencintai laut dengan gugusan pulau-pulaunya. Hal ini lah yang menyebabkan kami lebih banyak mengkonsumsi ikan daripada sayur-mayur. Tapi kata pa guru, kita mesti menjaga keseimbangan gizi. Untuk itu kami rajin mengambil sayur.

Jumat, 25 September 2015

Nasihat (yang) untuk ku

Nah hal menjadi ibu "madrasah",  barang tentu berjodoh dulu. Jodoh yang baik akan juga membentuk "madrasah" yang baik juga. Jodoh yang baik datang dari tempat yang baik pula. Dan jodoh sendiri tidak jauh-jauh dari diri kita, karena ia satu sama lain merupakan bagian dari satu kesatuan. Untuk menemukan jodoh yang baik maka bentuklah diri kita sebaik mungkin, jika itu dirasa tidak mampu carilah tempat baik, yang akan membentuk kita menjadi baik. Dan dari tempat terdekat yang baik ini semoga Tuhan meletakan jodoh kita di sana.

#Tempat bukan berarti suatu yang kasat oleh mata atau suatu yang dapat kita tangkap oleh indra yang lahir ini saja. #Tempat di sini  adalah segala sesuatu yang dapat membuat kita terhubung dangan pemberi hidup, di mana kita mengembalikan segala urusan padaNYA.

Benar sudah, "hal yang semudah ini kita ucapkan, berbanding terbalik untuk dapat kita lakukan"

Perlu kita ketahui, bahwa "segala daya dan upaya hanyalah Tuhan yang punya". Apakah kita sangka upaya mengeluh kita ini bukan bagian dari daya dan upaya Tuhan? Bahkan hal yang paling mudah untuk dilakukan --yang ayam saja bisa lakukan: mematuk padi di lumbung padi-- pun atas daya dan upaya dariNYA.

Maka, tidak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan sudah berkehendak.
not IMPOSSIBLE, but (I'M)POSSIBLE!!

Kita tidak mesti harus tau cara melakukan ini dan itu. Bukankah saat kita baru lahir tiada pernah terlontar pertanyaan kepada ibu kita: "ibu, bagaimana cara menghisap air susu mu?", bukankah kita hanya tinggal buka mulut dan kemudian menghisapnya. Begitu juga saat kita dalam masa balita, untuk dapat berjalan apakah kita pernah bertanya kepada bapak kita: "bapak, bagaimana cara berjalan itu?", kita hanya perlu berdiri kemudian melangkahkan satu kaki kemudian kaki berikutnya dan seterusnya. Perkara kita dalam belajar berjalan itu akan jatuh, apakah kita pernah khawatir akan jatuh dan sakit. Bahkan saat itu kita tau jatuh itu sakit, saat setelah kita benar-benar terjatuh dan baru menangis. Lantas apakah kita juga kapok dengan sakit akibat jatuh tadi? Ya benar! Tidak, tidak kapok sama sekali, bahkan semakin terbiasa dan malah semakin cepat kita berjalan seperti berlari.

Kita semakin berumur, jangan sampai pengetahun yang telah kita dapat yang semakin banyak ini justru menjadi penghalang langkah-langkah kita berikutnya. Kita hanya perlu percaya dan yakin bahwa setiap langkah kita adalah bagian dari daya dan upaya Tuhan yang Maha pengasih lagi Maha penyayang kepada tiap-tiap ciptaanNYA.

Labuha, 11 Dzulhijjah 1436 H
Labuha, 25 September 2015 M
Cah Angon.

Rabu, 23 September 2015

Haji dan Hari Sabtu Wage

Syukur alhamdulillah, atas bertambahnya usiaku yang genap 25 tahun menurut perhitungan bulan qomariyah --perhitungan tahun berdasarkan revolusi bulan terhadap bumi-- atau biasa disebut tahun hijriyah. Dalam usia yang memasuki masa dewasa atau akhir dari masa transisi dari remaja ke dewasa ini, mulai ku temukan mozaik kehidupan ku sekeping demi sekeping. Walau aku juga tidak mengetahui pasti apakah ini mozaik atau hanya bagiannya saja dan atau hanya angin lalu saja. Tapi setidaknya membuatku untuk terus berfikir mencari tahu.

Senin, 21 September 2015

Kangen Yogya

Saat kangen dengan Jogja.
Akibat baca "Jejak Guru Bangsa" di atas kapal motor speed tadi saat menuju kota Labuha.
Ternyata Bapak Tiong Hoa ini pernah nyantri di krapyak. Aku bersyukur pernah masuk ke dalam pondok ini walau hanya beberapa jam saja dan walau tidak sedang nyantri sepertinya di pondok krapyak ini.

Lamunan tentang krapyak mengingatkan ku banyak hal. Terutama sekali tentang Jogja. Dan saat setelah membaca buku "Jejak Guru Bangsa", seolah aku dihubungkan kembali akan pesona krapyak ini. Kemudian, aku juga menjadi ingat akan perjalananku ke Banjarnegara beberapa bulan lalu yang hanya menggunakan sepeda dengan sedikit rawatan ─bahkan oli rantainya kering dan beberapa bearing di poros depan dan belakang roda hanya tinggal beberapa biji. Saat melintasi kota Magelang, tepatnya pas di alun-alun kota Magelang, aku bertemu dengan dua orang santri putra yang ku kira umurnya baru sepuluh atau sebelas tahun. Menurut keterangan dua santri yang sedang kedinginan di bawah pohon beringin alun-alun, mereka baru akan naik di kelas lima dan enam saat tahun ajaran baru mendatang. Keduanya aku lupa namanya, hanya saja yang lebih tua bercerita kepadaku bahwa dia dari Wonosobo, dan sedang nyantri di pinggiran kota Magelang. Sementara yang lebih muda lagi dari Secang (sebuah kecamatan yang bertetanggaan denga kabupaten Magelang.

Selasa, 18 Agustus 2015

Tumbuh Generasi Baru 'Sang' Gadjah Mada


Mencintai Nusantara
Mencintai Anak-anak Nusanta
Mencintai Desa Nusantara
Mencintai Alam Nusantara
Mencintai Budaya Nusantara
Mencintai Keragaman Nusantara

Senyum mengembang
Keceriaan wajah cerah Nusantara
Jayalah, jayalah, jayalah kembali

Hela jangkarmu
Kembangkan layarmu
Mengembung penuh
Membelah ombak samudra
Singgahi Nusa-nusa
Rangkul Bangsa-bangsanya

Jumat, 08 Mei 2015

Cerita Tentang Obat Diskon


Beberapa waktu ini aku berkunjung ke sebuah apotek di depan kos. Apoteker dengan ramah menjamu ku dan menanyakan obat yang mau ku beli.

“Obat untuk demam, pilek, batuk dan tenggorokan sakit mbak” aku menjawab pertanyaan mbak apotekernya.

Diambilkan sebotol sirup ukuran sedang dan satu kaplet pil berbungkus silver. Merknya sama sekali tidak familiar untuk ku. Dan harganya pun lumayan, untuk kantong seorang tuna karya seperti ku ini.

Selasa, 05 Mei 2015

Sumbang Buku Yooo!


Usia sebuah buku bisa sampai puluhan bahkan ratusan tahun. Usianya dapat melebihi usia rata-rata manusia sekarang. Jika dalam ratusan tahun buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik atau bahkan dapat mengambangkan ilmu yang bermanfaat bagi maslahat banyak orang, semoga penulis, penerbit, distributor, pengarsip, pembeli yang kemudian merawat dan memberdayakannya mendapat kebaikannya yang dikehendaki Tuhan. Amiin.