Selasa, 05 Mei 2015

SUCIKAN DESA: Pendampingan Desa oleh Siapa yang Hendak Bersuci



Indonesia adalah bagian dari desa saya. Begitu kata budayawan Emha Ainun Nadjib. Desa merupakan hal paling inti dari Indonesia. Tanpa desa-desa di Negeri ini, Indonesia tidak akan pernah ada. Ibarat sebuah keluarga, desa adalah ibu kandung Indonesia. Maka sudah selayaknya Indonesia dengan usia yang cukup dikatakan dewasa ini untuk mengabdi bagi ibu kandungnya.

Pendiri bangsa ini merupakan anak-anak desa. Mereka lahir dan dibesarkan dari rizki yang ditaburkan Tuhan melalui kesuburan tanah di desa-desa. Sudah sejak dahulu desa merupakan tempat yang suci —tidak mudah dicemari, dikotori dengan budaya-budaya asing yang negatif. Maka sering kali desa menjadi tempat rujukan tolok ukur kehidupan sosial. Jika sebuah desa saja kehidupan sosialnya sudah tidak harmonis dan rawan konflik, apa lagi yang di kota, apa lagi kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Maka tempat suci ini hendaknya menjadi ladang penyemaian benih-benih pemimpin masa depan. Namun demikian, lahan yang suci ini jika tidak dijaga dan dirawat kesuciannya juga kesuburannya, nilai-nilai desa yang terkandung dalam kesucian itu akan segera tergerus oleh derasnya arus informasi bahkan diramalkan akan banjir informasi yang akan menghanyutkan nilai-nilai luhur Desa kita. Nilai-nilai yang akan hanyut terbawa oleh derasnya arus informasi ini, merubah tatanan sekaligus kesucian dan kesuburan desa sebagai ladang persemaian para pemimpin masa depan.

Keberadaan desa-desa di Indonesia saat ini dipandang enteng oleh sebahagian besar putra-putri bangsa ini. Desa bagi meraka hanya dijadikan tempat untuk pulang, untuk melepas penat, untuk bermanja dengan ibu-bapak dan kakek-nenek, dan bentuk-bentuk kegiatan yang hanya bersifat menghibur dari kelelahan. Padahal Desa telah melahirkan, membesarkan dan memberikan pendidikan dini bagi kita semua. Desa juga yang memberikan dukungan penuh terhadap segala kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Mana ada Desa yang menolak kenaikan BBM, mana ada Desa yang memprotes kenaikan harga sembako, mana ada Desa yang menentang kenaikan tarif dasar listrik. 

Kita sebagai putra-putri bangsa, terlena dengan ambisi pembangunan Nasional yang menjadi rebutan —pada ujungnya menjadi bahan konflik antar putra-putri bangsa. Maka tak jarang, jika generasi ini mudah untuk diprovokasi, mudah untuk dipecah-belah, mudah untuk dikotak-kotakkan dengan afiliasinya masing-masing. Pecah-belah cerai-berainya putra-putri bangsa ini kemudian menarik mereka yang ingin menguasai Nusantara untuk keperluan dan kepentingan pribadi, kelompok tertentu dan yang lebih jelas Desa-desa yang dikeruk rizkinya ini dirugikan secara materi, mental, juga budaya.

Maka dengan kerendahan hati, mari berkomitmen untuk mendampingi Desa-desa kita untuk mengukuhkan kesejatiannya sebagai tempat penyemai benih-benih pemimpin masa depan, pemimpin Bangsa, pemimpin dunia yang mendamaikan, menentramkan, mensejahterakan dan merangkul segenap isi dunia untuk bersama menikmati dan memelihara rahmat Tuhan ini. 

Beri aku sepuluh pemuda maka akan ku guncang Dunia, begitu kata sang proklamator. Maka pemuda adalah objek dari pemimpin masa depan itu sekarang ini. Pemuda penentu nasib kesucian Desa untuk masa yang akan datang. Apakah kesucian itu akan berevulusi menjadi rahmat untuk bangsa dan dunia atau justru akan lenyap menjadi bumerang penghancur bangsa dan dunia. Potensi yang terkandung dalam diri pemuda-pemudi desa menjadi harapan besar bagi kelangsungan rahmat yang dicita-citakan bangsa dan dunia. Namun jika hanya di pandang tanpa disentuh tanpa diolah, maka hanya tinggal harapan dalam bentuk cerita saja.

Bakat apapun dapat ditumbuhkan pada diri pemuda-pemudi desa, jika ada yang mendampingi. Mendengar pertanyaan mereka tentang apa saja yang bertubi-tubi dan tidak dapat dihitung lagi menunjukan mereka haus akan pengetahuan, haus akan ilmu, haus akan pengalaman dan kehausan-kehausan lain yang membuat meraka tidak dapat melihat dan berbuat apa-apa karena tiada pendampingan, bimbingan dan yang memberi petunjuk arah baginya. Sehingga mereka hanya bisa meraba-raba di tengah kegelapan yang oleh dunia luar disebut sebagai kebutaan. Kemudian dalam kebutaan itu mereka dimanfaatkan untuk berbagai hal tanpa mereka tahu dan sadari bahwa diri mereka tidak ikut merasakan hasil dari jerih payah meraba-raba di tengah kegelapan itu.

Kita perlu kembalikan bahwa desa adalah ladang ilmu, tempat menempa diri juga sumber ilmu itu sendiri. Desa itu suci, maka jika ilmu disemai kembali di tempat yang suci, maka akan tumbuh pohon dengan buah ilmu yang suci pula. Pembangunan gubuk-gubuk ilmu di desa perlu derealisasikan sejak dalam pikiran, sejak sekarang dan dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Gubuk sebagai tempat berkumpul membincangkan segala hal untuk memperoleh pengetahuan dan melahirkan ilmu perlu dirawat dan dipupuk dengan pendampingan dan bimbingan sepanjang masa. Agar senantiasa tumbuh sempurna hingga menuai buah dan menikmatinya pun wajib dalam pendampingan kita sebagai putra-putri bangsa yang telah terlebih dahulu terbebas dari penjara ketidak tahuan.

Seperti perumpamaan-perumpamaan di atas, pemuda desa sejatinya sama dengan para ilmuan dan ulama (ahli ilmu) hanya saja mereka tidak memiliki kesempatan seperti halnya para ilmuan dan ulama. Kondisi lingkungan mereka tidak menjadikan mereka membudayakan ilmu itu bagian dari kehidupannya. Ditambah lagi dengan tidak adanya fasilitas seperti sumber rujukan yang memudahkan ilmu itu dapat dipahami mereka. Mereka juga tidak memiliki tempat untuk bertanya tentang segala macam kegundahan, keraguan, kesamaran dan ketidak tahuan mereka dalam pertanyaan-pertanyaan yang mereka simpan dalam-dalam.

Perpustakaan, tempat berdiskusi dan pendampingan diperlukan di setiap desa bahkan di setiap RT (Rukun Tetangga). Hal ini tidak dapat dilakukan secara instan hanya melalui kebijakan pemerintah melalui kementrian-kementriannya. Hal ini dapat dilakukan jika desa (masyarakat) itu sendiri yang merasa membutuhkan semua fasilitas tersebut. Untuk itu diperlukan hidup bersama —mendampingi— masyarakat guna menumbuhkan rasa membutuhkan perpustakaan, tempat berdiskusi, dan fasilitas penunjang ilmu lainnya.

Secara teknis, proses pendampingan ini telah saya awali dengan melakukan pendekatan-pendekatan terhadap pemuda desa melalui diskusi dan kegiatan-kegiatan kesenian dan olah raga. Target saya selama masa studi jenjang magister nanti akan terbentuk sepuluh perpustakaan desa melalui pendampingan dari komunitas yang terbentuk dan terkumpul sepuluh seribu kitab dari hasil identifikasi yang dibutuhkan masyarakat di desa masing-masing.

Jika hanya sebatas konsep gagasan, maka semua ini ringan adanya. Namun fakta yang terjadi di masyarakat membuat konsep gagasan ini berat untuk terwujud di tengah kehidupam masyarakat desa. Dan ini adalah tantangannya. Kumpulan buku-buku berjumlah lebih dari seratus eksemplar dari berbagai jenis hasil koleksi pribadi saya telah dimanfaatkan oleh tetangga-tatangga di rumah orang tua saya yaitu Desa saya. Walau baru sedikit dan jangkauan yang terbatas pada tetangga-tetangga, namun seratus buku-buku koleksi pribadi yang saya kumpulkan dari keprihatinan selama masa studi pada jenjang sarjana ini adalah bentuk sederhana komitmen saya dengan cita-cita mengembalikan kesejatian Desa yaitu sebagai ladang ilmu.

Selasa, 28 April 2015

Cermin Diri Tentang Kemanusiaan



Dalam pengantar surat Cak Nun kepada Cak Dil yang telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan Emha Ainun Nadjib", Cak Nun menyiratkan tentang kemurnian manusia (kemanusiaan) yang saling-silang dengan perannya manusia di dunia ini melalui kisah seorang wali tiban yang hadir dalam sebuah pesta. Kurang lebih berikut ini ceritanya:
Cak Nurdin, seorang wali tiban di Jombang. Ia pernah hadir dalam suatu pesta desa. Saat tiba di depan pintu masuk, ia dihadang oleh dua petugas penjaga. Dengan tidak sopan Cak Nur diusir, karena pakaian yang ia kenakan tidak resmi. Cak Nur memang lebih sering berpenampilan dengan pakaian yang kurang senonoh (compang-camping), sehingga orang-orang menganggapnya gila.

Minggu, 26 April 2015

Curiga Pada Potongan Rambut

Sudah sejak kapan kaum laki-laki di Nusantara bergaya potongan rambut menjadi seperti sekarang ini. Rambut dipotong sebatas daun telinga, menampakkan leher belakang dan disisir membentuk suatu garis baik membelah rambut atau di bagian tepi kepala.

Sebenarnya tidak menjadi suatu masalah tentang bagaimana gaya rambut seseorang khususnya para kaum laki-laki itu dipotong atau disisir, asal terawat dan rapi. Melihat gambar-gambar para pahlawan yang masih menjaga peradaban Nusantara yang terpampang —kebanyakan di museum juga di dinding-dinding bangunan sekolah— kebanyakan memiliki rambut yang panjang dengan ikat kepala khas masing-masing daerah. Ambil

Kehidupan Srintil


Sungguh unik menghisap mbaqo-mbaqo kehidupan ini.
Saat tanggal tua, terhisap juga mbaqo srintil yang nyesak di dada dan nyegrak di tenggorokan.

Tapi, mbaqo srintil yang sengaja di tumbuhkan Tuhan di bumi Temanggung ini sungguh menjadi suatu nikmat tersendiri.
Di saat dunia memperebutkannya, justru diam-diam generasi tidak tau-menau ini malah mulai memusnahkannya. Saat tanggal muda, sengaja ia dilupakan. Mencari yang saat dihisap lebih halus, lebih ringan dan harganya tinggi.
Giliran tanggal tua tiba lagi, barulah merengek-rengek kepada mbah kakung untuk nempil mbaqo srintil alakadarnya. Tak jarang saat hisapan pertama, mendadak latah misuh'i mbaqo srintil seolah-olah hendak membuangnya dan menginjak-injaknya. Tapi perlahan terhisap juga, walau awalnya terbatuk-batuk, kemudian baru menyadari: "sing penting ngebul". Ada yang dengan sombongnya, terbaui asapnya seperti mencium sesuatu yang menjijikan —sungguh tak punya rasa terimakasih. Menjengkelkan lagi, ada yang diam-diam menjualnya dengan harga sangat murah, hanya ditukar dengan kembang gula warna-warni berpenyakit itu.

Sekarang aku tau, mengapa mbah-mbah dulu lebih suka 'nglinting' mbaqo srintil ketimbang menghisap yang ringan dan halus kesukaan muda-mudi itu. Dengan nyesak di dada, dengan nyegrak di tenggorokan, tapi mbah-mbah tidak pernah terbatuk-batuk apa lagi sampai latah misuh. Dengan ketenangannya, perlahan mbah-mbah menghisap srintil. Benar-benar dirasainya setiap milimeter hisapan srintil, mulai dari kegetirannya di ujung lidah menjalar berubah menjadi asam di tengah hingga berubah menjadi pahit di pangkal lidah. Kemudian menelusuri Tenggorokan sambil mengiris-perih dinding-dindingnya, lalu melayang menghantam pangkal kerongkongan hingga sesak dadanya. Mengendapkan sejenak, menikmati pudarnya sesak yang menghantam pangkal kerongkongan —sambil memikirkan apa saja yang terlintas olehnya— dan menghembuskannya kembali dengan lega.

Begitulah gambaran keuletan hidup mbah-mbah dulu. Tiada diderita rasa gertir, asam, pahit, teriris-perih, dan sesak yang menghantam dada itu. Justru yang dirasa adalah nikmat nikmat dan nikmat dari kegetiran, keasaman, kepahitan, keperihan, dan kesesakan dalam hidupnya hidupnya. Lebih uniknya dalam ke-sesak-annya itu mbah-mbah mengimajinasikan (mencita-citakan) banyak hal, juga memikirkan (merancang dan merencanakan) banyak hal. Baru kemudian menjalankannya dengan penuh kelegaan, keikhlasan, kepasrahan, dan menggantungkan segala yang terjadi atas kehendak Tuhan yang menumbuhkan mbaqo.


#‎Srintil‬ Temanggung.

Minggu, 29 Maret 2015

PENGGALAN "SURAT UNTUK LAKSMI"

Hati-hati mencari mawar
Karena mawar berduri
Hati-hati mencari pacar
Karena pacar bisa menyakiti hati


Pecundang. Apa arti atau makna dari kata itu. Tapi sungguh menusuk dalam hati. Terkadang menyayat tapi tak begitu perih. Hanya sebuah pertanyaan, apa maksudmu berkata seperti itu.

Aku hanya ingin melenyapkan rasa sakit yang semacam menusuk dalam. Maka hanya dua atau tiga kali ku baca surat balasanmu. Kemudian  ku lenyapkan dalam bara yang hampir padam di tungku dapur mbahku. Tungku yang mungkin baru saja untuk memasak air dalam dua jam sebelum aku pulang dari sekolah.

Tak sempat ku kenang selembar surat balasanmu. Seiring lenyapnya selembar kertas itu dalam rambatan bara yang mulai menjadi abu, hanya sebait pantun yang ku kenang entah sampai kapan.

Kaya Kemiskinan



Yogyakarta, 27 Maret 2015


Dalam miskin ada kekayaan
Jangan rendahkan miskin kami sebagai kemiskinan
Miskin kami adalah kaya atas kemiskinan
Bukan untuk mengemis kekayaan

Dalam lapar ada kekenyangan
Jangan rendahkan lapar kami sebagai kelaparan
Lapar kami adalah kenyang atas kelaparan
Bukan untuk merampas kekenyangan

Selasa, 17 Maret 2015

Pesona Krapyak (dalam catatanku yang tak indah)

Di Jogja ini ada sebuah tempat yang membuat ku berkali-kali ingin ke sana. Tiada bosan, walau hanya sekedar melintas, tak kenal panas, tak kenal hujan. Kalau sudah kepengen langsung berangkat. Taidak perduli bensin sudah di bawah garis merah.

Tempat itu bukanlah tempat wisata, bukan pula sebuah museum yang yang terkenal, Tapi tempat itu masih satu garis lurus dengan alun-alun selatan, kemudian Kraton dan alun-alun utara, kemudian titik nol Jogja, Jalan Malioboro, Tugu Jogja dan seterusnya Merapi. Tempat itu di sekitaran Kandang Rusa —termasuk bangunan tua, bangunan cagar budaya Jogja.

Biasanya aku berjalan dari arah RSUD Jogja melalui jalan Sisingamangaraja ke arah utara sampai jumpa masjid Al Irsyad menuju jalan Parangtritis melalaui jalan kecil, jalan Prawirotaman. Prawirotaman ini banyak berjajar kafe dan hotel yang ramai dikunjungi turis-turis mancanegara. Kapanpun melintainya selalu ada turis yang berjalan santai. Kadang seorang diri atau berpasangan. Jarang sekali yang berombongan.

Walau jalan ini tak begitu lebar dan tak begitu padat, tapi suasananya tak pernah sepi. Terlebih saat malam-malam akhir pekan atau hari-hari liburan, kafe penuh dengan pengunjung yang hampir semuanya turis mancanegara. Kebanyakan dari mereka adalah berambut pirang dan berkulit putih.

Aku berjalan tidak dengan buru-buru. Bukan karena menaati rambu lalulintas yang menganjurkan pelan untuk jalan kecil itu. Berjalan santai menikmati setiap yang terlintas. Mengagumi kafe-kafe sederhana yang ramai dan unik penuh dengan sentuhan seni budaya, juga turis-turis yang berjalan santai dengan bakaian sederhana.

Menembus jalan Prawirotaman dengan kecepatan rata-rata 20 Km/h. Secara stabil handle gas motor yang ku kendarai bejalan mengikuti kehendakku. Kemudian di ujungnya jalan Parangtritis menyambut dengan kepadatan kendaraan yang kontras dengan jalan Prawirotaman. Wajar saja, karena jalan Parangtritis lebih lebar dan memang akses jalan utama dari kota Jogja menuju pantai Parangtritis.

Menyebrangi jalan Parangtritis, kemudian melintasi jalan Tirtodipuran yang juga tidak padat. Suasananya hampir sama dengan jalan Prawirotaman,hanya saja para turisnya tidak terlalu ramai dan tidak juga banyak kafe dan hotel.

Nah, tetap dengan kecepatan yang konstan, 20 Km/h. Jalan Mayjen DI Panjaitan ramai kendaraan, tetapi tidak sepadat jalan Parangtritis. Soal lebar, hampir sama dengan Jalan Parangtritis. Klaupun lebih lebar, ya lebar jalan Parangtritis sedikit lah.

Dari gawangan jalan Tirtodipuran, kalau berbelok ke kanan atau ke utara itu menuju jalan MT Haryono. Dan jika terus lagi ke utara, itu alun-alun kidul. Seterusnya cari sendiri di Google Maps. hehehe

Aku ambil jalan ke kiri, ke arah selatan. Kalau sudah sampai di jalan DI Panjaitan, kecepatan berkendara ku deselarasi dari kecepatan 20 Km/h. Kira-kira, jika ketelitian Speedometer di sepeda motor yang ku kendarai itu tinggi, kecepatannya akan terukur 10 s.d 13 Km/h.

Ada suatu hipnotis dalam berkendara yang ku alami saat melintas jalan ini. Reflek saja langsung kuturunkan kecepatan.

Hampir sama saja dengan jalanan lain di kota Jogja ini. Ada barisan toko juga warung makan, warung klontong dan bertengger juga minimarket yang biasa ku sebut menjamur di mana-mana —dan banyak merebut pangsa pasar rakyat kecil.

Melaju perlahan, masih satu garis lurus, hanya di batasi dengan pertigaan, jalan DI Panjaitan berganti menjadi jalan Ali Maksum. Saat memasuki jalan ini, debaran jantungku berlawanan dengan rpm (rotation per minute) mesin motor yang ku kendarai. Jika rpm sepedamotor yang ku kendarai berkisar di putaran mesin stasioner (1.500 rpm), maka jika diumpamakan dengan mesin detak jangtungku sepuluh kali lipat dari putaran mesin stasioner.

Biasanya aku sengaja melintasi jalan ini pada waktu-waktu strategis. Antara jam 2 siang sampai jam 3 atau antara jam 4.30 sampai jam 6 sore.

Mulai memasuki jalan Ali Maksum, suasana damai dan teduh mulai terasa. Pada waktu-waktu yang ku sebut strategis tadi, jalan Ali Maksum ramai. Ramainya bukan ramai biasa. Dan Pastinya bukan ramai karena Turis.

Berjalan lurus, tanpa memperhatikan terlalu fokus ke arah depan. Lebih banyak ku perhatikan kanan dan kiri. Berjalan terus, sampai menjumpai bangunan tua di tengah jalan —lebih tepatnya jalanan itu yang melingkari bangunan tua. Namanya Kandagn Rusa, kata salah seorang teman ku.

Di kandang rusa ini aku tak melanjutkan jalan ke arah selatan. Mengelilingi kandang rusa, dan berbalik ke utara lagi. Masih tetap dengan kecepatan berkendara seperti sebelumnya.

Jalan Ali Maksum ramai dengan pedagang. Mulai dari pedagang dawet, angkringan, burjo, warung padang, warung soto, warung mie ayam dan bakso, warung pulsa, beberapa toko buku dan percetakan. Banyak juga pedagang kaki lima yang di pinggir jalan. Ada yang jualan syomai, sate, es kelapa muda, cireng, jus buah dan semua yang meberkahkan jalan ini.

Warung Burjo —bubur kacang ijo— menjadi pilihanku untuk duduk ngopi. Kadang juga Angkringan di samping sebuah ATM Bank ternama —yang jangkauannya sampai ke plosok-plosok.

Di warung Burjo atau di angkringan ini biasanya aku menemukan rasa yang aneh. Boleh jadi, aku hanya sekedar nongkrong —begitu anak muda menyebutnya. Tapi memang benar, di sana aku hanya duduk sambil ngopi, kadang sambil baca koran tapi lebih banyak memandang ke arah jalan dan para pedagang kaki lima yang ramai dikrumuni pembelinya.

''Mas, kopi kap*l a** special mix''. tanpa basa-basi langsung ku pesan kopi dan duduk tenang.

Warung burjo memang agak lengang untuk waktu-waktu antara jam dua sampai jam tiga sore. Lebih ramai di angkringan. Tapi aku memilih di warung burjo, yang tidak terlalu ramai.

Teman yang hanya berteman dengan telinga lebar ku, dengan penghlihatanku yang kadang buram karena terlalu lama tidak berkedip. Mereka itu yang tak pernah lebas dari sarung yang membelit dari pinggang sampai mata kakinya. Mereka yang berpakaian longgar dan berjilbab pantas. Tidak tua tidak muda, demikian yang ku lihat. Dan yang ku dengar pembicaraan-pembicaraan ringan penuh keceriaan tanpa beban.

Bagi mereka yang bersarung, lebih lama duduk untuk makan nasi orak-arik atau sekedar nasi kucing. Sedangkan yang berjilbab, mereka hanya berlalu-lalang. Sesekali berhenti agak lama, untuk menunggu racikan batagor atau syomai dari penjualnya.

Aku tidak begitu tau apa yang mereka fikirkan saat nongkrong di warung burjo atau angkringan. Hanya saja mereka tampak beristirahat dari lelah menyerap ilmu dari sang guru. Mereka berjalan begitu santai, dan kebanyakan mereka bergerolbol tiga sampai empat berjalan beriringan.

Jarang sekali melihat mereka berjalan pada watu-waktu strategis itu seorang diri. Dan kalaupun ada seorang mereka berjalan sendiri, sudah pasti mereka sedang terburu-buru.

Kontras sekali dengan para turis mancanegara itu, juga dengan ku. Aku juga selalu santai walau berjalan seorang diri. Terlebih saat melalui jalan Ali Maksum ini.

Hanyut terbawa arus mondar-mandir para kaum sarungan ini, pikiranku seolah tak mampu mengingat beban yang ada. Tiada terlintas tentang janji, tentang hutang, tentang kesejahteraan, tentang kehidupan yang akan datang. Semuanya terbawa oleh terompah para kaum sarungan yang hilir-mudik dan bersantai di warung-warung makan murah dan berkah.

Lamunanku tidak jelas, hanya candu kopi saja yang kemudian memberi sedikit warna di alam pikiranku saat duduk di burjo atau di angkringan. Semua lamunanku tersita hanya untuk lebih mengagumi dan mendambakan wajah-wajah teduh para kaum sarungan itu.

Kebanyakan dari mereka memang berumur lebih muda di bawahku, walau sebagian ada juga yang ku tebak seumuran dengan ku. Menyenangkan sekali bisa seperti mereka, wajah-wajah yang menggambarkan ilmu dan amal sholeh.

Saat mereka berjalan pun luwes, tidak terlalu menunduk, tapi penuh senda-gurau di wajah mereka. Saling menyapa sesama mereka. Dan senyum yang memancar tiada akan pernah habis. Bahkan aku tidak bisa membayangkan wajah-wajah mereka saat tanpa senyum.

#Krapyak_yang_teduh

Senin, 16 Maret 2015

Rembulan dan Negeri Malam


Rembulan
Cahayamu anggun teduh penuh kasih
Menyayangi gelapnya Negeri Malam

Rembulan
Kau malaikat itu
Memberi petunjuk dalam kegelapan

Rembulan
Tahukan kau
Bintang-bintang itu
Kerlap-kerlip menggodamu
Anggun menawan
Kau lah itu

Plengkung Gading, 16 Maret 2015
Adzan Subuh
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kok kok kok
Ayam berkokok
Ku kira ia menggodamu juga
Oh tidak,
Ia tidak sedang menggodamu
Rupanya ia bersuluh berita tentangmu

Aku kebingunan
Apa gerangan bakal terjadi

Bintang-bintang itu tahu lebih dahulu
Mereka berangsur menghilang
Soalah tiada minat lagi padamu

Hai rembulan
Ada apa denganmu
Mengapa cahayamu meredup

Aku harus bagaimana
Aku harus ke mana
Mengapa akau semakin resah begini

Hai rembulan
Jawablah
Mengapa kau semakin pucat
Ayoh jawab bidadariku
Mengapa kau diam saja

Rembulan
Cahaya apakah itu
Itu, di sebelah timurmu
Mengapa ia lebih terang
Cahayamu mana bidadariku

Sekaratkah kau Rembulan
Begitukah tafsir kokokan ayam tadi
Dan siapa pula cahaya menyilaukan itu
Diakah yang membunuhmu?

Baiklah Rembulan
Kalau kau belum mati
Kau apakan negeri malam
Hingga begini jadinya

Kau jualkah cahaya teduhmu itu
Taklukkah kau pada cahaya menyilaukan itu
Apa yang telah ia janjikan padamu?
Apakah ia akan mengagungkanmu
Membawamu ke negeri lain.

Ah, itu bukan cahaya lagi
Itu sinar, itu sina, wahai Rembulan
Sungguh menyilaukan
Tak mampu aku menatapnya

Bisa hangus negeri malam ini olehnya
Itu yang kau mau rembulan.
Jika benar kau telah takluk
Kau serahkan Negeri Malam padanya
Baik, aku rela

Biar awan dan pepohonan ini yang akan melindungiku
Melindungiku dari terik sinarnya
Melindungiku dari silau cahayanya
Mungkin akan jadi arang aku dibuatnya
Mungkin juga ia akan membutakan penghlihatanku

Jikalau awan dan pepohonan tak berdaya
Biarkan aku jadi arang
Biarkan aku buta

Dengan arang
Aku akan mengukir namamu
Di manapun akau berada
Sampai  habis tubuhku

Dengan buta
Aku akan mengenangmu
Mengenang negeri malam
Mengenang keteduhan cahayamu
Menikmatimu dalam gelap
Dalam butaku ini.

Parangtritis, 16 Maret 2015
30o sudut Matahari timur dari hamparan pasir pantai selatan
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(Yusup)

Kamis, 05 Maret 2015

Hanya Gadis atau Janda

Catatan "Keluasan dalam memilih bagi kaum perempuan (Jodoh)" yang iseng ku tuliskan beberapa waktu lalu, mengingatkan akan adat lamar-melamar di ranah Minang, spesifiknya di Pariaman.

Pariaman terkenal dengan adat "uang penjemput" dalam prosesi lamar-melamar sebelum pernikahan. Dalam masyarakat pariaman sendiri ada sebagian yang tidak menjalankan adat ini. Berbagai alasan menjadi penolaknya.

Rabu, 04 Maret 2015

Deskriminasi Poligami

Dudung

Dudung sedang menunggu bus di pinggir jalan.
Seorang wanita mudaa tidak jauh darinya sedang duduk di bawaah pohon beringin. Sepertinya sedang menunggu bus juga. Sebagai pria yang telah akil balikh, Dudung pun mulai memperhatikan waanita muda itu.

Jilbab meraah jambu menutup seluru rambutnya, ransel kecil menempel di punggung, kacamata berlensa nangkring di batang hidung, dan sebuah ponsel sedang dipencet-pencet.

Setelah diperhatikan, Dudung merasaa tertarik. Dan berusaaha untuk mencuri perhatiannya. Mendekat sedikit-sedikit, sambil sesekali melirik wanita muda yang tak jauh darinya.

Sabtu, 20 Desember 2014

Sepenggal 'Surat untuk Laksmi'

Karya Narsis
Cah Angon



Laksmi Randa Harjo,
Ingatkah kau Laksmi, saat pertama kita berkenalan di dalam kelas. Setelah Bu Sri mempersilakanku duduk di sampingmu, sambil tersenyum kecil kau ulurkan tanganmu menyambutku. Ku jabat tanganmu, kemudian kau sebutkan namamu “Laksmi Randa Harjo”.... Lengkap tak bersisa kau perkenalkan namamu kepadaku. Dengan anggukan ku balas serupa denganmu.

Sabtu, 28 Juni 2014

DESA KU TUMPAH DARAH KU

Pembangunan rumah-rumah rakyat terutama yang di desa pada 10 tahun yang lalu masih sering kita jumpai dengan sistem gotong royong. Tidak melibatkan pemborong profesional. Dari mulai meratakan tahan (istilah tradisonalnya "mbatur") kemudian menaikan kerangka atap (munggah wuwung) sampai pasang atap (masang gendheng) semua dilakukan secara gotong royong, dikerjakan oleh seluruh bapak-bapak dan pemuda satu kampung, kaum ibu-ibu dan pemudi memasak.

Minggu, 19 Januari 2014

Menuju Kota Budaya Jogja

Bissmillah

Agung & Budi di BIM (Bandara Internasional Minangkabau)
Perburuan tiket pesawat murah untuk penerbangan Padang ke Jakarta telah usai. Itulah tiket termurah kami dengan harga delapan ratus tujuh puluh empat ribu rupiah. Hargi ini lah yang paling murah saat itu, walau sebenarnya banyak yang lebih murah pada hari-hari sebelumnya, tapi apa boleh buat, kami tidak bisa baru saja bisa mencairkan dana untuk membeli tiket pada H-1 sebelum menuju Jakarta. Dengan harga tiket "termurah" itu kami mendapatkan maskapai penerbangan Sriwijaya AIr, walau kapasistas pesawatnya kecil tapi sudah mengantarkan kami sampai di Jakarta dengan selamat. Dan kami mensyukuri semua itu, Alhamdulillah kami bisa terbang kembali melintasi hutan Andalas yang luas ini dan menyebrangi selat sunda yang menghubungkan antara pulau Sumatera dengan pulau Jawa yang Karismatik itu.

Selasa, 14 Januari 2014

Jadi glandangan di Jogja sampai Paris

Tak sabar rasanya menunggu hari esok. Seminar nasional tentang "Indonesia Negri 1001 Energi" di Universitas Negeri Yogyakarta telah selesai dan pengumuman juara 1, 2 dan 3 LKTIN Mechanical Fair juga talah diumumkan oleh panita acara. Satu persatu nama yang di sebut sebagai juara telah berada di podium dan Alhamdulillah salah satu Tim dan Universitas Negeri Padang menjadi salah satu diantaranya dan kebetulan berada di podium satu. Optimis, kerja keras dan kekompakan menjadi sebab Tim UNP berada di podium satu. Selamat atas juaranya Bung, senang saya mendengarnya.