Minggu, 26 Februari 2017
Kamis, 17 November 2016
Rindu Puisi Puasaku
"Wahai dunia
Aku mencintai gemerlap kemewahanmu
Aku mencintai laut darat kehangatan dan kesejukanmu
Tapi aku bukan pengantinmu
Dan kau bukan pengantinku"
Ini tanggal 17. Mestinya aku berjalan beberapa jauh untuk datang ke-kasih-an. Karena rindu puisi dan puasa, hanya mampu ku toreh dari ujungpandang.
Film Rayya ini
Rindu Puisi sekaligus Puasa
Seperti semilirnya angin yang dingin
Seperti embun yang menggantung
Di ujung pagi
Rindu selalu memberi jarak
Puisi pun berjarak
Puasa bertahan pada jarak
Jauh dalam ke dasar jiwa
Mencari cahaya
Kamis, 10 November 2016
Yang Menjadikannya, Menyebutnya Kiai Siapa?
Petikan bicang bersama Pak Lik pada Senin, 7 November 2016 lalu.
Aku ngobrol santai di rumah Pak Lik. Temu kangen dari kedatanganku sore hari sebelumnya. Sedikit cerita, Pak Lik ku ini pernah nyantri di Jember pada masa mudanya. Dan memang mbah Kakung membekali anak-anaknya dengan pendidikan Pesantren. Terlebih anak laki-laki.
Suatu hari mbah Kakung mengirim surat untuk Pak Lik yang sedang di Pondok Pesantren. Dalam suratnya Mbah Kakung mengajukan sebuah permintaan yang mengandung harapannya untuk Pak Lik. Mbah meminta Pak Lik untuk belajar baik-baik di Pesantren. Sehingga setelah tiba waktunya nanti menjadi Kiai. Harapan yang semua orang tua inginkan.
Pak lik dengan sederhana dan kehalusannya membalas surat Mbah Kakung yang ia sangat sayangi dan cintai. Pak Lik berterimakasih atas nasihat dan harapan yang mbah Kakung sampaikan. Ia akan belajar dan hormat kepada gurunya. Namun dengan berat, Pak Lik menangguhkan untuk jadi apa nanati. Artinya harapan mbah Kakung tak bisa menjadi pegangan bagi Pak Lik. Ia hanya pasrah atas usaha yang sudah dilakukannya. Soal jadi apa tak menjadi kepentingan baginya. Menyerahkan kepada Gusti akan menjadikan apa ia atas usaha-usaha dan doa-doanya.
Selama di Pesantren Pak Lik lebih banyak belajar langsung dengan gurunya di sawah, ladang, pasar, jalan-jalan, dan apapun di sekitarnya. Lingkaran majelis ilmu ia ikuti untuk menyerap ilmu-ilmu hukum. Hingga sekarang walau sudah tidak di Pondok Pesantren, Pak Lik masih merasa menjadi santri. Banyak guru-gurunya bersembunyi diantara botol-botol plastik pulungan. Berkeliaran seperti pengemis. Ada lagi gurunya diantara para buruh tani. Sampai petapa penjaga gunung, danau, sungai sampai pantai. Dan tetap konsisten, akan jadi apa, ia pasrah kepada Gusti atas usaha dan doanya. Dalam sekala rasional atau irasional. Pasrah.
Pak Lik sama sekali tidak memiliki profesi tetap. Namun kecukupanny selalu ia syukuri. Sehingga tak ada kekurangan atau kefakiran yang ia rasakan. Mungkin ini merupakan aplikasi ilmu pasrah itu. Tidak menggantungkan pada ketetapan sebuah profesi. Hanya satu tempat Pak Lik menggantungkan segalanya: Gusti Alloh kang Moho Agung.
Berbagai pekerjaan ia geluti mulai dari masa mudanya hingga sudah memiliki dua buah hati yang kini sudah beranjak remaja. Di mana himpitan kebutuhan keluarga dituntut oleh zaman. Pak Lik tidak bisa mengelak dari tuntutan itu. Bagaimanapun kehidupan Pak Lik dan keluarga adalah bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Maka kebutuhannya pun tak terlepass dari umumnya masyarakat. Namun sekali lagi Pak Lik tetap konsisten, tidak menjaminkan kebutuhannya pada sebuah profesi tetap. Kasarnya, Pak Lik bekerja serabutan. Ia tak memiliki jaminan pensiun, tidak juga memiliki jaminan asuransi apapun. Bahkan ia sama sekali tidak berharap jaminan dari Negara tempatnya bernaung. Satu saja ia percaya, yakin dan bersaksi bahwa ada yang menjamin atas penciptaan dirinya beserta tanggungjawab dalam kehidupannya: Gusti kang Kholik.
Buruh tani, pekerja proyek jalan raya, petani kecil, kuli bangunan, penjaga kebun binatang, penjual pentol dan pekerjaan buruh lainnya pernah digelutinya. Pekerjaan apapun ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya. Terkadang rumahnya ramai didatangi orang untuk berobat, padahal Pak Lik bukan dokter apalagi dukun. Kadang juga didatangi seorang yang dirudung masalah rumahtangga, menghadapi perceraian, ingin rujuk, keluarga harmonis, anak rewel, anak bebal, dan berbagai masalah keluarga lain. Padahal Pak Lik bukan seorang psikolog apalagi bersertifikat. Ada juga caleg atau para pengusung kepentingan politik datang sekedar meminta air dengan sedikit bacaan-bacaan yang menguatkan mental menambah percaya diri untuk maju mengusung visi misinya. Para petani yang meminta arahan musim tanam, mengelola produksi, sampai manajeman lahan mengadu dan berdiskusi padanya. Padahal ia bukan seorang insinyur pertanian apalagi penyuluh dari dinas pertanian. Para pedagang berdiskusi strategi pemasaran, manajeman produk, pemanfaatan modal kecil sampai bagaimana menahan arus modal besar riuh kecil dibisikan di bawah atap rumahnya. Lagi-lagi padahal ia bukan ahli ekonomi makro ataupun mikro. Kadang juga ada pengunjungnya datang membawa penyakit kanker atau penyakit berat lainnya yang dianggap hasil kiriman orang berupa tenung, klenik, santet, dan berbagai istilah perdukunan mistis mengadu mengeluh minta penyembuhan. Pak Lik bukan juga dukun santet atau pemuja aliran-aliran mistis yang memberi sesaji pada para perewangnya. Kalaupun ada perewangnya, itu bukan kemauannya. Mereka datang untuk berbhakti dan hormat pada manusia yang Gusti Alloh menitipkan ilmu dan sedikit derajat padanya. Dan kalaupun ia membakar kemenyan, menabur bunga di atas air, atau apapun yang biasa dipersepsikan sebagai sesaji pemujaan, Pak Lik lakukan semata-mata untuk bersedekah kepada sesama makhluk ciptaaNYA. Lebih tinggi daripada itu, semata bentuk tanggungjawab karena sudah diikuti dan dihormati.
Di rumahnya tidak ada barang-barang pusaka yang mencolok. Semuanya biasa saja layaknya masyarakat buruh tani di sekitarnya. Bahkan televisi yang menjadi sebagian besar hiburan masyarakat di kampungnya, hanya teronggok tak berfungsi di ruang keluarga."Sudah satu bulan televisi tidak hidup, anak-anak dan isteriku santai gak ribut, juga tidak mbela-mbelain nonton tempat tetangga". Seloroh Pak Lik sambil menggulung lintingan tembakau pres hitam dari Temanggung dengan taburan cuilan kemenyan. Entah bagaimana sambung menyambung perbincangan itu sampai juga ia menyinggung acara demonstrasi yang dilakukan sebagian umat Islam di Jakarta pada 4 November lalu. Ia prihatin dengan umat yang mudah mengangkat dan menjatuhkan lebel-lebel yang mereka buat sendiri. Kapan mereka suka dan sesuai dengan naluri nafsunya, lekas diberinya lebel tertentu. Kapan mereka tidak suka dan tidak sesuai naluri nafsunya, ya sudah lekas mereka copot lebel sebelumnya. Masih mendingan jika hanya dicopot lebel sebelumnya. Lebel lain yang sesuai dengan nurani nafsunya segera dihujamkan, teriakan, koar-koarkan, siarkan, debatkan, tertawakan, laknatkan, dan tak cukup hanya itu. Kutukan yang kesejatiannya hak milik Gusti Alloh pun dipakainya memberi lebel dari penghakimannya sendiri.
Kutipan pernyataan dalam pembukaan di atas ku dapat dari persinggungan Pak Lik terhadap fenomena mudahnya pelebelan dilakukan sekarang ini. "Tak perlu jauh", kata Pak Lik "di sekitar kampung sini saja. Aku nggak pernah ingin menjadi ini menjadi itu. Atau hanya sekedar sebutan ini sebutan itu. Babarblas ora pengen, nggak pengen".
Tapi mereka tanpa minta ijin, menyebut Kiai, memanggil Kiai, orang pintar, dituakan, Ulama, dan banyak lagi. Pak Lik hanya bisa melakukan yang bisa dilakukan. Dan itu pun selalu ia meminta maaf dan minta ridlonya Gusti Alloh. Tapi begitu permintaan mereka gak terturuti gak kabul atau kabul dalam bentuk lain yang gak sesuai harapan mereka lantas mereka mencari jalur alternatif lain. Dimas Mansur, eh Kanjeng, tempat hijrah paling mulus bahkan disarankan hijrah melalui youtube tanpa bufering. Baik digandakan melalui MLM sodaqoh atau jualan sodaqoh yang begitu cepat melipatgandakan rejeki. Dalam hanya beberapa bulan sudah bisa beli rumah, mobil, bahkan pesawat. Atau biar ndak terkesan terlalu matrialis, ya ikut paket umroh atau haji plus bareng ustadz atau kiai dengan penawaran diskon atau promo tertentu. Kalau sudah pulang dari tanah suci, telunjuknya ngacung-ngacung: sesat, kafir, laknatullah, terkutuk, penista; kepada siapa saja yang tak sependapat dengannya, tak sealiran bisnis dengannya, mengancam merusak jaringan MLM bisnis sodaqohnya, dan pokoknya yang tak berpihak mendukung atau setidaknya tidak dapat dimanfaatkannya.
Asap tebal terhembus ke udara dari hisapan lintingan tembakau Pak Lik.
Seperti yang Pak Lik katakan, ia tak ingin jadi apa dan disebut apa. Namun banyak yang menjadikannya dan menyebutnya apapun tanpa ijin darinya, tanpa memberitahunya terlebih dahulu, boro-boro berdiskusi dahulu. Gusti Alloh nyuwun agunge pangapunten. Ngapunten lan nyuwun ridlo Panjenengan kagem Pak Lik duh Gusti.
Kamis, 20 Oktober 2016
Soal Tempe
"Kalau di warung Burjo terlalu rame (umpel-umpelan), ke Angkringan saja", batin ku.
Aku berjalan santai sambil senyam-senyum menyapa beberapa bapak ibu juru parkir di trotoar. Kendaraan cukup ramai berseliweran dari selatan ke utara dan sebaliknya. Di seberang jalan ada deretan PKL (Pedagang Kaki Lima) ramai. Deretan itu cukup menarik perhatian ku. Terutama gerobak yang bertuliskan "Mendoan Demit: Tempe mu tak seenak tempe ku".
"Lah, Demit?" Batin ku. Apa aku masuk ke dalam cerita Wasripin. Tapi seting tempat Wasripin kan di Pantai Utara Jawa. Ini Yogya. Tapi mungkin saja. Barangkali di gerobak Mendoan Demit itu ada foto Wasripin atau Satinah. Seperti yang dilakukan nelayan-nelayan pantai utara sana mereka memasang foto Wasripin untuk Azimat. Atau foto Satinah yang yang begitu mempesona dengan rupa dan suaranya.
Urung niat ku untuk ke salah satu dari dua tempat yang kurencanakan. Aku menyeberang dan menghampirinya.
"Pintenan bu?" Tanyaku pada penjual mendoan.
"Selembar tiga ribu mas"
Ku lihat lembaran tempe yang belum digoreng cukup lebar.
"Kaleh nggih bu." Pesan ku pada ibu penjual.
"Mau dipotong nopo mboten mas?"
"Nggih dipotong bu."
Satu lembar tempe dipotong sama besar menjadi empat bagian. Dengan tepung dan bumbu khasnya tempe digoreng. Sementara aku jelalatan ke sana ke mari mencari foto Wasripin dan Satinah. Tidak ku temukan. Bahkan foto artis atau artis politik, artis ustadz, artis ulama pun tak ada.
"Didamel kering mas?" Suara ibu penjual mengembalikan fokusku pada tempe mendoan.
"Lha mendoan mosok kering bu, dados keripik mangkeh bu." Jawab ku sambil bergurau.
Tak lama tempe mendoan sudah diangkat dari belangannya. Delapan potong mendoan dimasukan ke kantong plastik yang sudah dialasi daun pisang. Tak ketinggalan rontokan tepung dalam belangan juga ikut dimasukan. Bersama sambal kecapnya Mendoan Demit ku bawa pulang. Rasanya aneh kalau makan mendoan kok tidak ada kopi. Rencana ke warung Burjo ku lanjutkan. Bukan untuk beli makan, tapi beli kopi.
Hari ini aku hanya kenyang dengan tempe. Pagi sampai siang aku beli tempe juga cukup banyak. Walau bukan mendoan, tapi hampir mirip. Ku beli dari Warung Burjo. Memang lebih tipis dari mendoan dan lebih kecil ukuran tempenya. Tapi tepungnya cukup tebal dan agak alot saat dimakan. Dan menjadi salah satu sajian tempe yang ku suka. Apalagi dimakan sambil ngopi. Aduh lupa daratan sudah.
Soal tempe, mau dibuat apa saja selalu enak untuk dimakan. Dan aku adalah penggemar tempe sejati. Hahahaha. Tempe adalah makanan hari-hari ku dari masih bersekolah di TK. Jaman TK aku sudah doyan makan cabe ijo. Tentu sama tempe. Sepulang sekolah tempat makan ku di bawah pohon cabe. Kadang Mbah ku lupa menyediakan cabe karena kehabisan atau karena memang disengaja supaya aku tidak terlalu banyak makan cabe. Makanya sampai sekarang sama pedes itu paling doyan. Sama dengan tempe.
Di Yogya ini aku begitu dimanjakan dengan tempe. Berbagai rasa dan harga pernah ku coba. Dan seberapapun besar kecilnya, tempe yang digoreng terlalu kering dan tipis pula itu aku gak begitu nafsu. Kecuali kalau sudah tidak ada yang lain. Dan tidak tau kenapa, tempe selalu enak dan cocok di lidah ku saat bertemu kopi. Sama dengan asap tembakau yang ketemu kopi. Gambarannya seperti sepasang kekasih yang sekian puluh tahun menahan rindu dan dalam waktu keputus asahan akan rindu mereka dipertemukan. Begitulah saat tempe dan kopi bertemu di lidah, begitu juga asap tembakau dengan kopi.
Jadi kopi itu semacam laki-laki yang berpoligami. Dalam dunia ku Kopi kadang berpasangan dengan tempe dan kadang pula dengan asap tembakau. Kalau pas rezekinya, mereka bertiga kumpul bareng dan akur. Dalam dunia orang peminum kopi yang lain mungkin beda. Seperti pada beberapa toko buku online dalam lingkaran Indibook Yogya selalu menampilkan selogan: Aku, Kopi dan Buku. Sudah beda lagi. Maka kalau aku buka toko buku online selogannya: Tempe, Kopi dan Asap tembakau. Nanti dari calon pembeli akan bertanya, "jadi yang dijual buku, asap atau tembakau?" Kemudian akan ku jawab "Sak karep ku, aku sing nduwe tokone kok".
Salam Anak Tempe.
"Tempe mu tak seenak Tempe ku" Mendoan Demit, Jl. Monjali, Blunyah Gede, Mlati, Sleman, DIY.
Selasa, 04 Oktober 2016
Kasih-sayang Yogya
Jumat, 08 April 2016
Serpihan Randu Beterbangan untuk Laksmi
Kalau kau mengingatnya, saat-saat kemarau seperti ini lah yang sama-sama kita rindukan. Saat angin meniup buah randu lalu menerbangkan kapas-kapas putih di angkasa, begitupun dengan kita yang mulai gelisah menahan rindu lalu menerbangkan kertas-kertas putih pengobat rasah. Kau selalu merengek ingin sekali mengulang masa kecil. Dan cerita-cerita masa kecil kita selalu kau ulang dalam surat-surat mu. Walau begitu aku tak pernah bosan membacanya. Bahkan terkadang aku sudah bisa menebak isi surat mu, tapi selalu saja resah aku menunggu dan berdebar saat membukanya.
Kau begitu menyukai buah randu, sampai-sampai kau ingin juga menjadi buah randu itu. Awalnya terdengar konyol memang. Dan sempat aku juga menertawakan mu. Malah aku mengejek mu dengan sebutan 'klenteng'(baca: biji kapuk). Saat itu kau menangis menagkup kedua tangan di wajah. Ku kira kau berpura-pura, yang membuat ku semakin jadi mengejek mu. Kau tiba-tiba lari saat aku tengah tertawa lepas. Memang Sekilas aku melihat air matamu menetes, namun aku tak mempedulikan. Begitu kau menghilang dari penglihatanku, baru aku mulai teemenung. Baru esok harinya aku meminta ma'af pada mu saat kau datang kembali di bawah pohon randu alas itu dengan wajah sembab.
Saat-saat haru itu yang membuat ku tak bosan membaca surat-surat mu. Dengan perlahan kau jelaskan padaku mengapa mau jadi randu.
"Randu itu dipanen saat kemarau, serpihan-serpihannya terbang tertiup angin menghiasi angkasa, tapi itu tidak terlalu penting. Aku ingin menjadi randu yang diolah tangan ibu ku sendiri menjadi kasur dan bantal bagi suami dan anak-anak ku untuk istirahat"
Laksmi, kalaupun kisah mu tak dapat ku tuliskan menjadi sebuah cerita yang nyata, setidaknya karaktermu telah memperkaya khasanah pergaulan ku. Karena setiap karsa dan cipta adalah spesial, tiada tersia-siakan hadir mu. Seperti yang sama-sama kita pahami Tuhan tidak bekerja secara kapitalis. Karen tiada Ia menciptakan sesuatu melainkan setiap ciptaan-NYA memiliki spesifikasi yang berdeda-beda dan tersendiri. Demikian kisah sekaligus karakter mu menjadi pelajaran bagi ku.
Kamis, 05 November 2015
Surat Tri Fosa (Oca) untuk Ibu Susi Pudjiastuti
Perkenalkan nama saya Tri Fosa Kape (Oca). Saya tinggal di Geti Lama. Saya sudah kelas lima SD Negeri Geti Lama. Kalau umur saya sudah 11 tahun.
Setiap hari aku sekolah. Aku senang sekali ibu mau tau tentang laut. Di laut itu bagus sekali. Ada ikan, ada karang, ada bintang laut dan lautnya berwarna biru dan pasirnya berwarna putih. Setiap hari kita pergi ke tanjung. Kalau kita pergi ke tanjung, kuta pulang membawa ikan. Terus kita pulang, kita bakar.
Kalau kita sekolah, kita belajar matematika. Kita sudah tau matematika. Tri Fosa senang sekali belajar matematika. Wah, bikin kita semua pintar matematika.
Boleh kan Tri Fosa ceritakan tentang Soki. Dengar ya cerita Tri Fosa ya. Kalau Tri Fosa pergi ke soki mencari bia aku Tri Fosa melihat Yakis, melihat binatang yang paling besar. Kampung Geti banyak binatang. Ada binatang burung-burung. Itu paling suka berteriak-teriak di soki. Lalu Tri Fosa pulang dari soki Tri Fosa melihat ikan di laut yang paling besar sekali. Ikan yang bernama ikan hiu. Dia paling besar sekali. Tri Fosa lihat ikan itu, Tri Fosa takut sekali. Ikan hiu itu ada anaknya. Bernama hiu lagi paling besar.
Tri Fosa ceritakan tentang mengail. Tri Fosa mengail ikan di laut banyak. Tri Fosa pernah melihat ada orang bom ikan di laut. Ikannya jadi mati. Di laut ikan-ikan mati semua. Tri Fosa mengail tidak hela, karena ikannya sudah mati. Tri Fosa sedih sekali. Tri Fosa ke darat tanamannya sudah mati semua. Karangnya sudah pecah semua. Tri Fosa sedih sekali. Plangton juga sudah mati. Tri Fosa sedih sekali melihat ikan mati di tengah laut. Satu kali saat mereka sudah tidak bom lagi, ikannya lebih banyak. Jadi Tri Fosa senang dan laut sudah ada rumput laut subur dan indah sekali. Tri Fosa Kape suka sekali sama rumput laut. Itu ada ubur-ubur di tengah laut. Kalau kita di sini, kita pegang itu ubur-ubur tangan kita pasti gatal. Kan gatal sampai bentol sekali sekali kan.
Setelah aku sampai di situ, aku langsung lompat di pasir putih itu. Tri Fosa Kape kira tanahnya keras sekali. Setelah diinjak lombo sekali. Bintangnya berwarna biru sama dengan pantai di laut. Kan senang sekali melihatnya. Malah angin ditiup lagi, malah kita lebih segar. Kira-kira kita mau mengantuk di pasir putih, kalau kita mengantuk kita sudah tarada. Kagak mau pulang. Tri Fosa Kape senang sekali pergi ke laut. Bersama teman-teman ke laut indah sekali di tengah laut.
Ibu, boleh Tri Fosa ceritakan tentang memasak di dapur? Kalau kita memasak di dapur, kalau kita bikin sayur kangkung bumbunya bawang putih, bawang merah, minyak, roiko, dan rica. Baru kita isi sayur, langsung sudah masak. Kita makan enak sekali. Aku suka sama sayur kangkung. Itu kepengen makan terus. Terus Tri Fosa Kape bantu mama memasak di dapur. Aku suka banget sayur itu. Tri Fosa Kape senang sekali membantu orang tua saya di dapur. Kalau aku tidak membantu orang tua di dapur, orang tua saya pasti marah.
Itu saja ya. Sampai jumpa, da-da...
Cuma mau cerita ini untuk ibu Susi Pudjiastuti.
Rabu, 04 November 2015
Surat Elam untuk Ibu Susi Pudjiastuti
Di Jakarta
Perkenalkan nama saya Elam Kodobo. Umur saya 10 tahun. Saya tinggal di SD Negeri Geti Lama, Bacan Barat Utara.
Saya akan ceritakan tentang desa saya. Rumah aku pinggir pantai. Kalau aku pergi ke pantai jalan saja sedikit sudah sampai. Ibu Susi aku to tidak suka orang-orang luar. To mereka itu mau bom ikan. Kalau mereka bom ikan, kuta tidak makan tidak makan ikan lagi. Ibu, laut kuta to bagus sekali. Tapi, masyarakat-masyarakat membuang sampah di pinggir lautnya. Jadi ikan pun tidak datang lagi semua ke desa kita. Apakah ibu Susi pernah melihat ikan lumba-lumba? Ada ikan hiu, besar banget ikan itu.
Setiap hari aku sepulang sekolah aku mencari bia dengan papaco. Papaco itu enak sekali. Biar pun aku sendiri, aku tidak takut. Soki-soki itu indah sekali. Sudah sore aku sudah pulang dari soki. Badan ku kotor sekali. Jadi mamaku marah sama aku.
Terus orang pun juga bom ikannya. Jadi ikannya sudah tidak ada lagi. Di karang aku mengajakb pak Mabrur untuk ke laut melihatnya. Untung masih ada sedikit ikannya.
"nanti aku minum bu. Ibu taruh saja di atas meja. Tunggu sebentar, aku berpakai dulu bajuku ini dengan rapi, kalau pergi ke sekolah, supaya jangan ibu marah sama kita lagi. Kalau baju kita tidak rapi." Begitu!
Jumat, 16 Oktober 2015
Kita Kebingungan
#nusantara
#diperjalankan
Senin, 12 Oktober 2015
Sri: Siswi SABETA Nusantara
Menyenangkan sekali bisa berkirim surat dengan mereka. Kami jadi tau tentang kota-kota besar. Tentang gedung-gedung yang tinggi dan tentang keramaian di kota. Kami juga berbagi kabar tentang keadaan alam di desa kami. Menurut surat balasan mereka yang kami baca, begitu senang mereka dapat surat dari kami. Sama, Kami pun senang. Dan mereka keheranan dengan cerita tentang desa kami yang tidak ramai seperti tempat tinggal mereka.
Jumat, 25 September 2015
Nasihat (yang) untuk ku
Nah hal menjadi ibu "madrasah", barang tentu berjodoh dulu. Jodoh yang baik akan juga membentuk "madrasah" yang baik juga. Jodoh yang baik datang dari tempat yang baik pula. Dan jodoh sendiri tidak jauh-jauh dari diri kita, karena ia satu sama lain merupakan bagian dari satu kesatuan. Untuk menemukan jodoh yang baik maka bentuklah diri kita sebaik mungkin, jika itu dirasa tidak mampu carilah tempat baik, yang akan membentuk kita menjadi baik. Dan dari tempat terdekat yang baik ini semoga Tuhan meletakan jodoh kita di sana.
#Tempat bukan berarti suatu yang kasat oleh mata atau suatu yang dapat kita tangkap oleh indra yang lahir ini saja. #Tempat di sini adalah segala sesuatu yang dapat membuat kita terhubung dangan pemberi hidup, di mana kita mengembalikan segala urusan padaNYA.
Benar sudah, "hal yang semudah ini kita ucapkan, berbanding terbalik untuk dapat kita lakukan"
Perlu kita ketahui, bahwa "segala daya dan upaya hanyalah Tuhan yang punya". Apakah kita sangka upaya mengeluh kita ini bukan bagian dari daya dan upaya Tuhan? Bahkan hal yang paling mudah untuk dilakukan --yang ayam saja bisa lakukan: mematuk padi di lumbung padi-- pun atas daya dan upaya dariNYA.
Maka, tidak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan sudah berkehendak.
not IMPOSSIBLE, but (I'M)POSSIBLE!!
Kita tidak mesti harus tau cara melakukan ini dan itu. Bukankah saat kita baru lahir tiada pernah terlontar pertanyaan kepada ibu kita: "ibu, bagaimana cara menghisap air susu mu?", bukankah kita hanya tinggal buka mulut dan kemudian menghisapnya. Begitu juga saat kita dalam masa balita, untuk dapat berjalan apakah kita pernah bertanya kepada bapak kita: "bapak, bagaimana cara berjalan itu?", kita hanya perlu berdiri kemudian melangkahkan satu kaki kemudian kaki berikutnya dan seterusnya. Perkara kita dalam belajar berjalan itu akan jatuh, apakah kita pernah khawatir akan jatuh dan sakit. Bahkan saat itu kita tau jatuh itu sakit, saat setelah kita benar-benar terjatuh dan baru menangis. Lantas apakah kita juga kapok dengan sakit akibat jatuh tadi? Ya benar! Tidak, tidak kapok sama sekali, bahkan semakin terbiasa dan malah semakin cepat kita berjalan seperti berlari.
Kita semakin berumur, jangan sampai pengetahun yang telah kita dapat yang semakin banyak ini justru menjadi penghalang langkah-langkah kita berikutnya. Kita hanya perlu percaya dan yakin bahwa setiap langkah kita adalah bagian dari daya dan upaya Tuhan yang Maha pengasih lagi Maha penyayang kepada tiap-tiap ciptaanNYA.
Labuha, 11 Dzulhijjah 1436 H
Labuha, 25 September 2015 M
Cah Angon.
Rabu, 23 September 2015
Haji dan Hari Sabtu Wage
Senin, 21 September 2015
Kangen Yogya
Akibat baca "Jejak Guru Bangsa" di atas kapal motor speed tadi saat menuju kota Labuha.
Ternyata Bapak Tiong Hoa ini pernah nyantri di krapyak. Aku bersyukur pernah masuk ke dalam pondok ini walau hanya beberapa jam saja dan walau tidak sedang nyantri sepertinya di pondok krapyak ini.
Lamunan tentang krapyak mengingatkan ku banyak hal. Terutama sekali tentang Jogja. Dan saat setelah membaca buku "Jejak Guru Bangsa", seolah aku dihubungkan kembali akan pesona krapyak ini. Kemudian, aku juga menjadi ingat akan perjalananku ke Banjarnegara beberapa bulan lalu yang hanya menggunakan sepeda dengan sedikit rawatan ─bahkan oli rantainya kering dan beberapa bearing di poros depan dan belakang roda hanya tinggal beberapa biji. Saat melintasi kota Magelang, tepatnya pas di alun-alun kota Magelang, aku bertemu dengan dua orang santri putra yang ku kira umurnya baru sepuluh atau sebelas tahun. Menurut keterangan dua santri yang sedang kedinginan di bawah pohon beringin alun-alun, mereka baru akan naik di kelas lima dan enam saat tahun ajaran baru mendatang. Keduanya aku lupa namanya, hanya saja yang lebih tua bercerita kepadaku bahwa dia dari Wonosobo, dan sedang nyantri di pinggiran kota Magelang. Sementara yang lebih muda lagi dari Secang (sebuah kecamatan yang bertetanggaan denga kabupaten Magelang.
Selasa, 18 Agustus 2015
Tumbuh Generasi Baru 'Sang' Gadjah Mada
Jumat, 08 Mei 2015
Cerita Tentang Obat Diskon
Selasa, 05 Mei 2015
Sumbang Buku Yooo!
SUCIKAN DESA: Pendampingan Desa oleh Siapa yang Hendak Bersuci
Indonesia adalah bagian dari desa saya. Begitu kata budayawan Emha Ainun Nadjib. Desa merupakan hal paling inti dari Indonesia. Tanpa desa-desa di Negeri ini, Indonesia tidak akan pernah ada. Ibarat sebuah keluarga, desa adalah ibu kandung Indonesia. Maka sudah selayaknya Indonesia dengan usia yang cukup dikatakan dewasa ini untuk mengabdi bagi ibu kandungnya.
Pendiri bangsa ini merupakan anak-anak desa. Mereka lahir dan dibesarkan dari rizki yang ditaburkan Tuhan melalui kesuburan tanah di desa-desa. Sudah sejak dahulu desa merupakan tempat yang suci —tidak mudah dicemari, dikotori dengan budaya-budaya asing yang negatif. Maka sering kali desa menjadi tempat rujukan tolok ukur kehidupan sosial. Jika sebuah desa saja kehidupan sosialnya sudah tidak harmonis dan rawan konflik, apa lagi yang di kota, apa lagi kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Maka tempat suci ini hendaknya menjadi ladang penyemaian benih-benih pemimpin masa depan. Namun demikian, lahan yang suci ini jika tidak dijaga dan dirawat kesuciannya juga kesuburannya, nilai-nilai desa yang terkandung dalam kesucian itu akan segera tergerus oleh derasnya arus informasi bahkan diramalkan akan banjir informasi yang akan menghanyutkan nilai-nilai luhur Desa kita. Nilai-nilai yang akan hanyut terbawa oleh derasnya arus informasi ini, merubah tatanan sekaligus kesucian dan kesuburan desa sebagai ladang persemaian para pemimpin masa depan.
Maka dengan kerendahan hati, mari berkomitmen untuk mendampingi Desa-desa kita untuk mengukuhkan kesejatiannya sebagai tempat penyemai benih-benih pemimpin masa depan, pemimpin Bangsa, pemimpin dunia yang mendamaikan, menentramkan, mensejahterakan dan merangkul segenap isi dunia untuk bersama menikmati dan memelihara rahmat Tuhan ini.
Beri aku sepuluh pemuda maka akan ku guncang Dunia, begitu kata sang proklamator. Maka pemuda adalah objek dari pemimpin masa depan itu sekarang ini. Pemuda penentu nasib kesucian Desa untuk masa yang akan datang. Apakah kesucian itu akan berevulusi menjadi rahmat untuk bangsa dan dunia atau justru akan lenyap menjadi bumerang penghancur bangsa dan dunia. Potensi yang terkandung dalam diri pemuda-pemudi desa menjadi harapan besar bagi kelangsungan rahmat yang dicita-citakan bangsa dan dunia. Namun jika hanya di pandang tanpa disentuh tanpa diolah, maka hanya tinggal harapan dalam bentuk cerita saja.
Bakat apapun dapat ditumbuhkan pada diri pemuda-pemudi desa, jika ada yang mendampingi. Mendengar pertanyaan mereka tentang apa saja yang bertubi-tubi dan tidak dapat dihitung lagi menunjukan mereka haus akan pengetahuan, haus akan ilmu, haus akan pengalaman dan kehausan-kehausan lain yang membuat meraka tidak dapat melihat dan berbuat apa-apa karena tiada pendampingan, bimbingan dan yang memberi petunjuk arah baginya. Sehingga mereka hanya bisa meraba-raba di tengah kegelapan yang oleh dunia luar disebut sebagai kebutaan. Kemudian dalam kebutaan itu mereka dimanfaatkan untuk berbagai hal tanpa mereka tahu dan sadari bahwa diri mereka tidak ikut merasakan hasil dari jerih payah meraba-raba di tengah kegelapan itu.
Kita perlu kembalikan bahwa desa adalah ladang ilmu, tempat menempa diri juga sumber ilmu itu sendiri. Desa itu suci, maka jika ilmu disemai kembali di tempat yang suci, maka akan tumbuh pohon dengan buah ilmu yang suci pula. Pembangunan gubuk-gubuk ilmu di desa perlu derealisasikan sejak dalam pikiran, sejak sekarang dan dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Gubuk sebagai tempat berkumpul membincangkan segala hal untuk memperoleh pengetahuan dan melahirkan ilmu perlu dirawat dan dipupuk dengan pendampingan dan bimbingan sepanjang masa. Agar senantiasa tumbuh sempurna hingga menuai buah dan menikmatinya pun wajib dalam pendampingan kita sebagai putra-putri bangsa yang telah terlebih dahulu terbebas dari penjara ketidak tahuan.
Seperti perumpamaan-perumpamaan di atas, pemuda desa sejatinya sama dengan para ilmuan dan ulama (ahli ilmu) hanya saja mereka tidak memiliki kesempatan seperti halnya para ilmuan dan ulama. Kondisi lingkungan mereka tidak menjadikan mereka membudayakan ilmu itu bagian dari kehidupannya. Ditambah lagi dengan tidak adanya fasilitas seperti sumber rujukan yang memudahkan ilmu itu dapat dipahami mereka. Mereka juga tidak memiliki tempat untuk bertanya tentang segala macam kegundahan, keraguan, kesamaran dan ketidak tahuan mereka dalam pertanyaan-pertanyaan yang mereka simpan dalam-dalam.
Perpustakaan, tempat berdiskusi dan pendampingan diperlukan di setiap desa bahkan di setiap RT (Rukun Tetangga). Hal ini tidak dapat dilakukan secara instan hanya melalui kebijakan pemerintah melalui kementrian-kementriannya. Hal ini dapat dilakukan jika desa (masyarakat) itu sendiri yang merasa membutuhkan semua fasilitas tersebut. Untuk itu diperlukan hidup bersama —mendampingi— masyarakat guna menumbuhkan rasa membutuhkan perpustakaan, tempat berdiskusi, dan fasilitas penunjang ilmu lainnya.
Secara teknis, proses pendampingan ini telah saya awali dengan melakukan pendekatan-pendekatan terhadap pemuda desa melalui diskusi dan kegiatan-kegiatan kesenian dan olah raga. Target saya selama masa studi jenjang magister nanti akan terbentuk sepuluh perpustakaan desa melalui pendampingan dari komunitas yang terbentuk dan terkumpul sepuluh seribu kitab dari hasil identifikasi yang dibutuhkan masyarakat di desa masing-masing.
Jika hanya sebatas konsep gagasan, maka semua ini ringan adanya. Namun fakta yang terjadi di masyarakat membuat konsep gagasan ini berat untuk terwujud di tengah kehidupam masyarakat desa. Dan ini adalah tantangannya. Kumpulan buku-buku berjumlah lebih dari seratus eksemplar dari berbagai jenis hasil koleksi pribadi saya telah dimanfaatkan oleh tetangga-tatangga di rumah orang tua saya yaitu Desa saya. Walau baru sedikit dan jangkauan yang terbatas pada tetangga-tetangga, namun seratus buku-buku koleksi pribadi yang saya kumpulkan dari keprihatinan selama masa studi pada jenjang sarjana ini adalah bentuk sederhana komitmen saya dengan cita-cita mengembalikan kesejatian Desa yaitu sebagai ladang ilmu.
Selasa, 28 April 2015
Cermin Diri Tentang Kemanusiaan
Minggu, 26 April 2015
Curiga Pada Potongan Rambut
Sebenarnya tidak menjadi suatu masalah tentang bagaimana gaya rambut seseorang khususnya para kaum laki-laki itu dipotong atau disisir, asal terawat dan rapi. Melihat gambar-gambar para pahlawan yang masih menjaga peradaban Nusantara yang terpampang —kebanyakan di museum juga di dinding-dinding bangunan sekolah— kebanyakan memiliki rambut yang panjang dengan ikat kepala khas masing-masing daerah. Ambil













