Minggu, 11 Februari 2018

Kekuatan Bisu




Kekuatan Bisu

Simbah, bapak, rindu, lalu bisu apa lagi
perpustakaan, rak-rak buku 
                      berbaris bertumpuk debu
beban segala kepala datang, sorai bernyanyi
                            menggelitik jemari
laba-laba memetik dawai lamat-lamat berdenting sayu

sendiri tiada teman. Menjaring rahmat alam
di sudut-sudut sunyi peredaran Tuhan. 
Berjaga, malang melintang siang malam
bertahan mendulang kelaparan

perut dan mulut anak cucu. Datang menganga
seperti luka, menyeringai kesakitan.
Memohon kekuatan bisu, segala daya
seperti langit tegakkan kesekehendakan,
kedirian. 

Mayoe
Yogyakarta, Februari 2018

Jumat, 26 Januari 2018

Hiduplah yang Hidup Matilah yang Mati




Hiduplah yang Hidup Matilah yang Mati

Tuhan 
betapa ngeri kulihat fitnah dajal 
berseluet membayang di bawah mata
hari senja keemasan peradaban manusia
hampir-hampir menggapai mimpinya
pada gulita malam yang datang

Saling bertengkar mendaku kebenaran seorang
jalan sempoyongan membentur-bentur 
berlalu mabuk mencari suka
mencari sepihak sepahaman perasaan
keseragaman yang agung untuk menghidupi
kematian-kematian berkobar menyala-nyala 
membakar kehidupan

Kematian hiduplah kau 
tumbuh kembanglah kau penuhi muka bumi ini
Dan kau kehidupan bersiaplah dibakar selimut
kehidupan Ibrahim yang gagah berani
menarik hati kesabaran dan pengorbanan
dambaan

Para semut-semut keluarlah dari goa-goa sepimu
di persembunyian bawalah air di kantung tubuhmu
padamkan api yang membakar ibrahim
itu, seluruh air tubuhmu hamburkan ke dalam api
kematian itu, matikan! 

Hiduplah kau yang hidup lawan! 
Lawan arus itu wahai ikan-ikan lompati  gelombang
gelombang yang menjilat-jilat itu hingga habis
daya hidupmu dan matimu akan hidup 
sehidup-hidupnya kehidupan

Mayoe
Yogyakarta, Januari 2018

Rabu, 24 Januari 2018

Surat Puisi I



Surat Puisi I
Sapardi Djoko Damono

Esai ini terbit di Mingguan Pelopor Yogyakarta menjelang peluncuran Persada Studi Klub, rubrik sastra asuhan Umbu Landu Paranggi. Saya salin dari klipingan dari arsip pribadi seorang sastrawan; Suwarno Pragolopati, yang sekarang disimpan di Perpustakaan Ean Yogyakarta, bersama arsip-arsip lain yang beliau kliping. Sumonggo, menawi manfaat. 

Kenapa orang menulis puisi, tanyamu pada suatu hari. Kenapa orang masih juga menulis puisi, meskipun puisi tak lagi memberi untung baik prestise maupun materiil kepada penyairnya? Mungkinkah orang menulis puisi hanya karena kesombongan yang palsu untuk disebut pujangga, sebab jaman yang lampau dulu kedudukan pujangga sangat tinggi di tengah masyarakat? Apakah puisi itu bukan hanya hasil kerja orang yang tak punya kerja saja? 

Aku takkan marah padamu, walau aku ada dipihak mereka yang mencintai puisi. Mereka yang menolak puisi dan belum pernah sekalipun paham makna puisi, akan memberontak apabila dituduh kurang berpengetahuan. Sedang mereka yang tak punya sangkut paut dengan puisi, tapi bisa memahami puisi, diam-diam akan merasa bangga jauh dalam lubuk hatinya. Kau jangan menolak kebenaran itu! Diam-diam dalam kelasmu kau tentu merasa superior diantara teman-temanmu hanya karena karena kau tahu puisi dan mengerti serba sedikit tentang puisi. 

Tak ada seorangpun yang bisa membantah bahwa penyair adalah anggota masyarakat. Penyair adalah sebagian dari masyarakat yang takkan berguna pada apabila Ia samasekali terpisah darinya. Iapun turut memahami pahit getir dan bahagia masyarakat, dan mampu memahami dan menghayati sebagai seorang yang sedikit banyak. Dan seperti orang lainpun Ia menghadapi pelbagai persoalan dan masalah yang tak habis-habisnya mengancam dari segenap jurusan. Lewat puisinyalah Ia ingin agar orang lain bisa mendengar keluh, tangis, dan tawanya dalam jawabannya terhadap persoalan tersebut. 

Penyair adalah orang yang selalu ingin bicara kepada seorang lain. Yang ingin mengatakan segala-galanya, agar segala orang biasa mengambil bagian dalam masalahnya. Sebuah sajak adalah suatu jeritan dari seorang yang ingin memecahkan sunyi yang melingkupi dirinya, agar orang lain bisa percaya dan memahaminya. Jadi sajak adalah kurang lebih penghubung antara si penyair dan pembaca sajaknya. Sajak adalah alat komunikasi. Seperti juga kau. Kalaubpada suatu saat terjerat pada suatu masalah yang rumit dan menekan, kau selalu ingin mengatakan itu kepada orang lain agar bisa lebih lega terasa. Tapi pada saat itu pula kau tak sadar bahwa kau butuh berhubungan dengan orang lain. Begitu pulalah kira-kira sebuah sajak terlahir. 

Alat seorang penyair adalah kata, kata dan kata. Segala seluk beluk dan penjuru tentang kata itu harus Ia kuasai benar-benar, untuk bisa mengajak kita bercakap tentang apa saja dengan baik. 

Tapi, tanyamu, kenapa pula sajak-sajak itu biasanya sukar ditangkap maknanya? Apa termasuk kesombongan penyairkah untuk menyusun bahasa yang sulit diketahui oleh orang lain? Awas, kita sampai di tikungan yang berbahaya. Sajak yang gagal sebagai alat komunikasi adalah sajak yang gagal. Tapi apabila dalam menghadapi sebuah sajak dan kau tak bisa mengetahui maknanya jangan terburu menuduh: sajak itu gagal! Nanti dulu, nanti dulu. Ada syarat tertentu untuk bisa menerima sajak dengan baik, ini menyinggung intelek dan imajinasi. Yah, tak pernah ada tuntunan terhadap setiap orang untuk bisa menerima sajak dengan baik, sebab tak pernah ada saat kapan setiap orang bisa memahami syarat tersebut. Jangan kau kira bahwa hanya kekuatan intelektual saja yang perlu didikan. Kekuatan imajinasi juga perlu didikan. Sedang engkau tentunya juga bernasib malang sepertiku dulu tidak pernah menerima didikan untuk mengembangkan imajinasial tatkala di sekolah. Tak usah kau kutuk sistem pendidikan kita ... guru-guruku dulu hanya mendidikku dalam mengembangkan daya intelektualku saja. Dan bagi mereka yang tak sempat mengembangkan daya imajinasinya di luar lingkungan tembok-tembok sekolah, tentunya tak bisa dengan mudah menerima puisi, atau juga hasil seni yang lain. 

Sajak adalah alat komunikasi. Dan alat untuk menciptakan sajak itu adalah bahasa. Bahasa yang imajinatif. Aku tahu; buku-buku yang kau hafal tiap hari buat ulangan-ulangan sekolah adalah bahasa yang menggunakan bahasa nonartistik. Itulah pula salah satu sebab kenapa sajak sukar bagimu. Dan sekarang akan kucoba berurusan dengan contoh-contoh. Dalam mata pelajaran ilmu bumi alam kau akan membaca keterangan tentang Mega sekira-kira sebagai berikut:

Mega: uap air yang naik ke langit dan kemudian menjadi air. 

Lihat Mega, lain sama sekali Ia. 

Tapi seorang penyair yang memandang menulis seperti berikut:

Mega putih adalah tampungan segala bencana. 
Mega putih telah lewat. 
Maut menunggang di punggungnya. 
Mega putih adalah musyafir yang kembara. 
Kalut dalam tempuhan angin. 
Binasa dalam kesepian, juga biru. 
Tiada bapa, tiada bunda. 
Tanpa kasih tanpa cinta! 
(Mega Putih, W. S Rendra) 

Itulah beda antara ilmu pengetahuan dan puisi. Dalam ilmu pengetahuan orang harus bersifat analitis, sedang dalam puisi orang selalu melihat hubungan antara benda-benda.  Puisi adalah suatu keseluruhan yang tak bisa dipisahkan. Merasa agak sedih setiap kali kau memintakan buat menerangkan makna sajak sebaris demi seanalisa, sebuah sajak mulai memecahkannya, begitu hancur baris. Begitu Ika muli mengarang sajak itu sebagai sajak. Ia berhenti sebagai sajak di situ. 

Engkau barangkali akan menuduh lain lagi, masalah yang dibawa penyair kalau begitu yang tak wajar. Artinya tak bisa dimengerti orang. Tidak sama sekali tidak. Seorang penyair selalu bercakap tentang segala sesuatu yang berpegang pada pengalaman manusia. Kalau ada seorang penyair yang mencoba memutuskan hubungan sama sekali dengan pengalaman manusia itu atau kebudayaan masyarakat, Ia sudah tak normal lagi. Barangkali juga sikap dan pandangan-pandangan hidup orang yang menulis syair itu lain dengan sikap dan pandanganmu. Tapi tak berarti apa-apa! Orang hanya bisa menerima kenyataan-kenyataan dan kebenaran. Kan bagaimanapun juga belajar membukakan dirimu untuk mengerti adanya kenyataan-kenyataan lain yang kadang-kadang sama sekali lain dengan apa yang selama ini ada dalam pikiranmu. 

Ku harus tidak takut kepada kebenaran yang menghadapi dirimu. Jangan gemetar kau kalau kau baca sajak pendek dari Jepang ini:

Mimpi sayang dengarlah
pimpiku
jangan kau bawa daku
bersama
dengan orang yang kucinta 
sebab apabila aku nanti 
terjaga
akan terasa: betapa sunyinya! 

Itulah kebenaran, bukan? Yah, sudahlah kau tak usah terus menerus menerjang puisi, dan akupun tak perlu pura-pura yakni bahwa setiap orang bisa menyelami puisi. Akupun sudah lama tahu kenyataan ini; puisi memang kadang terlalu sukar "atau agak remang" bagi sebagian besar orang kebanyakan, pada jaman ini; atau pada jaman kapanpun. Seperti juga engkau masih banyak mereka yang mengeluh tentang kesukaran.  ... usaha yang tak gampang. 

Para penyairpun maklum bahwa puisi mereka hanya bisa diterima oleh segolongan tertentu dalam masyarakat saja. Mereka tidak menuntut apa-apa hanya dalam hati kecil mereka secara diam-diam mereka berharap agar bisa bercakap dengan golongan yang lebih luas lagi. Seorang penyairpun seharusnya insyaf bahwa golongan itu masih menyempit, artinya bakal kehilangan tempat di sini. Ini bisa terjadi apabila penyair mulai menggunakan bahasa yang menyerupai kode, lambang atau simbul yang hanya dimengerti oleh segolongan orang saja, beberapa orang saja. Sedang masyarakat luas tak punya kuncinya sama sekali. Di sini pula sajak sebagai alat komunikasi telah gagal. 

Para penyair modern, dalam mencari kepribadiannya sendiri, telah menolak segala sesuatu yang konvensionil dan tradisionil. Beberapa penyair telah begitu hebatnya memberontak, sehingga Ia sampai pada suatu bahaya besar. Kehilangan kontak dengan masyarakat. Me ... untuk memisahkan diri dari masyarakat. 

Tapi tidak! Selama manusia diam-diam masih mempunyai keinginan untuk selalu berhubungan dengan orang lain, selama itu pulalah masih lahir sajak-sajak. Dan selama itu pulalah masih ada orang yang bersedia membukakan diri bagi suara orang lain. Tak perlu dielakan kenyataan bahwa problem sebagai alat komunikasi adalah problem yang abadi bagi puisi. 

Pada akhirnya aku perlu mengingatkanmu bahwa penyair bukanlah filsuf. Renungan yang dalam saja belum cukup, pikiran yang muluk-muluk saja belum cukup buat melahirkan puisi. Dan pada suatu ketika kau akan sadar, bahwa setelah membaca satu atau dua sajak yang agung, kau merasa sedikit tak enak. Itulah salah satu ciri sajak besar. Manusia selalu merasa tak enak dihadapkan pada kenyataan, terus terang, pada kebenaran yang blak-blakan. Tapi kau harus, atau setidaknya berusaha begitu. Jangan takut. Salam. 

Selasa, 16 Januari 2018

Layang-layang Kesayangan

Gambar diambil dari web thinglink.com

Layang-layang Kesayangan

Waktu kecil aku bermain layang-layang
dibuatkan kakek dari buluh pilihan.
Dengan hati-hati kakek meraut, dan menimbang
di beranda masjid, sambil berkisah nabi dan rasul Tuhan. 

Ku terbangkan dengan benang gelasan yang panjang
sambil bersiul menirukan bunyi buluh bergesekan
di dalam rumpun. Melengking memanggil angin datang
untuk meniup layang-layang ku terbang di ketinggian.

Untuk menjumpai Tuhan
benanngnya kisah nabi dan rasul yang panjang
dari masa ke masa, seperti di dalam Alquran. 
Begitu kakek bilang, sambil mengajariku mengulur benang, 
pelan-pelan supaya tidak melukai tangan. 

Layang-layang ku terbang dengan tenang
ke kanan dan ke kiri menjaga keseimbangan.

Saat angin bertiup pelan, ku tarik benang
supaya layang-layang bergerak pada ketinggian. 
Saat angin bertiup kencang, ku ulur benang
supaya semakin jauh layang-layang kuterbangkan. 

"Kek, apa Tuhan bermain layang-layang?"
"Tuhan pemilik semuanya, termasuk layang-layang kesayangan."
"Aku mau jadi layang-layang Tuhan, yang paaaaaaaaaling disayang."
"Jadilah layang-layang yang memiliki dan menjaga keseimbangan. 
Supaya kau dapat terbang dengan tenang, bertemu Tuhan yang maha penyayang"

Mayoe
Yogyakarta, 15 Januari 2018

Senin, 15 Januari 2018

Derik Daun Pintu Menganga

Gambar diambil dari situs web pixabay.com


Derik Daun Pintu Menganga

Betapa ngiri mendengar rintihan 
orang-orang tua mengkhawatirkan
bayang-bayang daun pintu kematian.
Sewaktu-waktu engselnya berderik 
mengejutkan. Membangunkan tidur yang lelap.
Terperanjat, mengangakan mulut. Pintu terbuka, 
didorong ketiadaan. Berhembuslah angin gelisah.

Berputar-putar sebentar, melakukan ritual. 
Lalu menggedor, memanggil dan mendobrak
masuk ke dalam inti hati. Membujuk, merayu, mengajak,
mengancam dan berbagai lain penjemputan; diseret 
atau dipapah bagai batang, ditebang 
dengan cinta atau siksa.

Tua, betapa menjadi tanda untuk memancang
kewaspadaan. Tapi, betapa lemah seketika 
muda tak habis-habis menyesap candu
kejutan, dari doa yang mabuk lamunan.

Apa harus menjadi tua 
untuk sekedar merintih khawatir. Dengan pintu
kematian berderik sepanjang waktu
memberi kejutan yang tak habis, di dada.

Degupku masih belum sembuh
dari candu kejutan-kejutan, yang mendidihkan
darah mudaku. Menguap mengawang, berterus kambuh
mabuk kekaguman.

Mayoe
Yogyakarta, 15 Januari 2018

Jumat, 05 Januari 2018

Gerak Sepi Itu



Gerak Sepi Itu

Lihatlah bunga yang semi ini. Indah bukan? Tapi betapa sepi mereka. Tiada memiliki teman, yang datang dengan membawa kasih. Sesekali saja ada manusia yang lewat lalu mendekat untuk melihat dan pergi lagi, begitu saja. 

Ia tak ubahnya ribuan bunga atau rumput lain di tepi jalan. Tetap saja liar dan tak ada yang mengenalnya. Ia pun tak mengenal siapa-siapa. Kecuali para serangga yabg datang hanya pada saat kelopak-kelopak cantiknya merekah. Dan serangga-serangga itu melakukan hal yang sama kepada bunga-bunga lain. 

Apa daya, Ia bergantung dengan akar yang memakunya. Sekedar menghindar dari serangga adalah kemustahilan dan pengingkaran. Pergi kepada manusia--yang katanya penuh kasih--sama dengan menyerahkan pada kematian. Sedang melepas pakuan akar, ah tak ada bunga seradikal itu.

Tapi Ia begitu tabah, menanti hingga layu dan datang lagi benih baru. Terus begitu, hingga pada suatu hari Ia menangkap suatu gerak yang berbeda, gerak yang tak biasa, gerak yang ganjil dan unik. Gerak itu lembut tapi penuh daya. Terkadang gemetaran seolah ragu dan tak begitu tegaan. 

"Gerak apakah itu?" Bunga bergetar. 

Selasa, 02 Januari 2018

Super Moon Datang



Super Moon Datang

Super moon datang
para lamun menyambut dengan bergelenyut
menari diantara gelombang pasang
menepi, tinggi dan tenggelamkan pikiran kalut

Super moon datang
padang lamun berpesta dansa
berpasang-pasang bunga-bunga malang
menyemai benih-benih cinta lama

Super moon datang
dengan anggun, wajahnya mengadu
hembusan nafas, dalam dada bergendang
menyentak irama, pergulatan cinta yang menggebu

Super moon datang
mengundang rob, meluapkan kenangan
bergeremat melumat bibir merah matang
mendesak pemukiman rasa yang tertinggalkan

Super moon datang
'ku pasrahkan lamun tenggelam
berdiri dibenam wajah tenang 
menarikan harapan kepada malam

Mayoe
Yogyakarta, 2 Januari 2018

Jumat, 29 Desember 2017

Awan Madu, Membiusku



Awan Madu, Membiusku

Awan-awan berarak itu
pada suatu musim yang dulu
datang memberi kabar pilu
merasuk menjadi duri dalam kalbu

dari air, memutih disuntik beku
membius seonggok daging ini
mati rasa, warna dan aroma madu
menjadi batu dibalut lumut sepi

gantungkan senyum pagi, menatap mentari
menyerap, menyengat, menguap bersama kabut
terbang melayang, menggumpalkan awan-awan
diarak sendiri, menanti kabar dengan bersambut

tusukan, dalam dada 
yang semerbak bertabur bunga
renum menebar awan madu
membiusku

Mayoe
Lawu, 29 Desember 2017

Bunga Karang Lawu



Bunga Karang Lawu

Dengan pandang Lawu, dulu aku
pernah patah, bunga di karang
putih awan-awan kapas seperti batu
berarak, aliran sungai hingga pantai panjang

Dan malam-malam beku yang gundah
dipeluk dingin, berselimut kabut
di kaki lembah-lembah yang tabah
menekuri puncak, menciumi lutut

sekuntum bunga, semi kembali di atas batu
karang yang keras dilanda bagai musim
rekah, merah alam di bibir yang bisu
menggodaku, dengan desis dan lengking

menabuh gendang, suara dari balik dada
menggema dipantulkan tebing-tebing curam
dengan sudut gelap menyusun ruang hampa
udara sepi dan tajam datang menikam

Mayoe
Lawu, 29 Desember 2017

Sabtu, 23 Desember 2017

Batu Gunung, Sepiku



Batu Gunung, Sepiku

Duhai kekasih dan hidupku
di sini teronggok berpeluk gelap yang beku
membelit, udara selimut kawat menancap penuh paku
menusuk-nusuk semakin dalam, semakin gerakku
meringkuk menyusut menjadi batu
di puncak gunung sepiku. 

Kabut basah, badai berbagai arah
memukul, menampar dengan tangan dingin
menyemai bibit-bibit air dengan bertengadah wajah
berbintik-bintik mengundang nafas kasih, tiupkan angin

sepoi, menyapu lirih tetesan bulir-bulir perih
dari ujung bulu-bulu lumut yang tumbuh
di tepi kelopak mataku, memutih
udara beku, menggigit rapuh

Mayoe
Sumbing, 19 Desember 2017

Senin, 18 Desember 2017

Tengah Perjalanan 171217



Tengah Perjalanan 171217

Ini puncak telah taklukan 
merbabu, aku padamu 
ini pundak berserah, pelukan 
udara menjadi pakaianmu

Kala hawamu menggerah atau membeku 
ada 'ku tersisa, terperangkap menemani 
menyerap hawa panas dari didihan keringatmu 
atau meniup bekumu dari gigitan mulut pori

Ini diri taklukan sepi 
dalam riuh rendahku bersajak-sajak 
perdu, di jalan setapak puisi 
digilas tapak-tapak kakimu, berjejak-jejak

Ini langkah, jauh menuju rumah 
dari arah punggung sendiri 
seolah berbalik untuk pulang beristirah 
tapi langkah, tetap pada wajah yang berseri-seri

Mayoe 
Yogyakarta, 17 Desember 2017

Sabtu, 16 Desember 2017

Lindu Rinduku



Lindu Rinduku

Dulu waktuku kecil saat ada lindu, setelahnya kucari-cari di pohon dadapwaru. Kukira jejaknya ada di sana. Karena saat lindu terjadi, ia menggoncang-goncang pohon dadapwaru itu. Hingga akarnya turut berguncang dan merambat menggetarkan tanah. Sampailah pada rumahku dan pohon-pohon lain juga berguncangan. 

Dulu sekali waktu aku dilanda rindu, setelahnya kucari-cari dekapan mesramu. Kukira obatnya ada di sana. Karena saat rindu terjadi, ia menggoncang-goncang seluruh tubuhku. Hingga akar rambutku seperti mau lepas, bergetar dan jatuh ke tanah. Sampailah pada kepalaku dan anggota tubuh lain juga meriang. 

Sekarang gempa datang dengan sekala richter tinggi dan berpotensi tsunami. Maunya mungkin lekas bergerak menyelamatkan diri. Tapi karena panik, tak tahu mau berbuat apa. Hanya lari ke sana ke mari, lantas cidera yang terjadi. 

Sekarang hampa datang dengan magnetudo tinggi dan berpotensi hati sunyi. Maunya mungkin lekas beranjak memelukmu sendiri. Tapi karena panik, tak tahu harus berbuat apa. Hanya lari ke sana ke mari, lantas derita yang kujumpai. 

Mayoe
Yogyakarta, Desember 2017

Jumat, 15 Desember 2017

Haji Merbabu



Mungkin pernah terdengar, dari kicau burung atau desir angin, tentang haji Merbabu. Barangkali aneh dan akan mendapat fatwa sesat dari para penyandang daun telinga berpagar tinggi. Dan sesuatu lelucon saja bagi yang mengukur puncak dengan ketinggian daratannya.

Puncak, haji sendiri secara tersurat justru ditunaikan di daratan rendah yang dikepung bukit-bukit pasir. Dan mengapa Merbabu juga berkaitan dengan haji. Adakah mitos yang tak tentu juntrungnya saja? Mungkin perlu pengkaji budaya aliran kepercayaan lokal. Tapi setidaknya aku sendiri sempat bertanya, mengapa bernama Merbabu.

Sepanjang mendaki dan menuruni kucari-cari. Memang saat di Puncak sempat terfikir, bahwa jika aku Merbabu, maka kuserahkan diri menjadi budak. Terserah tuan akan diapakan. Dibelenggunya, dimerdekakannya, atau selamanya menjadi budak, kuserahkan kepada yang kumerbabui.

Babu atau Budak, dan halusnya sebut saja Abdi adalah puncak penaklukan diri terhadap segala cakrawala kebebasan, kemerdekaan, kemandirian dan segala hal pelampauan. Merbabu, Membudak, Mengabdi adalah laku pemuncakan diri atas segala hal yang mampu dikuasainya.

Barangkali banyak sepelenya dari pengertian ini, lupakanlah. Karena Merbabu adalah laku sunyi berintim dengan alam. Tak akan tahu satu sama lain walau pendaki berjuta-juta seperti para penaik haji ke tanah suci. Bergerombol dengan seragam, pakaian kebesaran masing-masing. Mengibarkan bendera berwajah kebanggaan masing-masing.

Untukmu yang terpanggil, Merbabullah bersama badai, hujan, angin, siul-siulan burung, nyanyian serangga, dingginnya malam, tegakknya punggung bukit-bukit, dirikanlah dengan tunduknya embun di ujung daun-daun rerumputan di padang sabananya. Hiruplah dalam-dalam udara pengunci nyawa hidup, sedekah dari hijaunya para maalaikat penjaga.

Sesekali awan fatamorgana akan muncul diantara puncak triangulasi dan Kenteng songo. Berlarilah kecil-kecil, jangan bertanya untuk apa, karena diantaranya ada satu mata air yang tak terjumpai sepanjang pendakian. Ia mengalirkan air kesegaran satu koma lima liter per tiga menitnya.

Jagalah puncak haji, sebagaimana keintimanmu yang polos, jujur dan penuh kerahasiaan.

Mayoe
Merbabu, Desember 2017

Kamis, 14 Desember 2017

Menatap Awanmu



Menatap Awanmu

Dari wajah barat merapi, kumenatap
sepagi itu. Berjajar bukit, membujur
dari kaki sumbing, ke pantai selatan
langkah mataku, melintang ketatkan 
sabuk di pinggang yang menopang 
lengkung, mendukung bongkah cerita
di punggung menciumi bukit, menoreh 
kecupan-kecupan kabut kepada wajah
tanah hingga basah. Menuntut pagut
di puncak badai dingin semalaman. 

Di puncak baru saja reda dari badai
semalaman mengamuk kuasa temu
yang tak sanggup kulayani sendiri
kurobohkan diri di bawah kenangmu. 

Aku tertidur lelap memeluk hangat
kenangmu membawa mimpi baru
tentang bunga-bunga indah terawat
jemari kasih sayang yang mengakar biru. 

Kicau burung memanggil sepoi angin
pagi, menyingkap kabut dari kaki lembah
'ku berdiri mewajah, pada putih selimut dingin 
yang masih membalut kotamu dengan basah

bulir-bulir embun yang menggantung di ujung 
bulu matamu. Menunggu jatuh silaunya mentari
dari balik merapi, merekahkan kelopak terkuntum
beku. Biarkan uap membawanya pada awan tinggi

Mayoe
Yogyakarta, Desember 2017

Rabu, 13 Desember 2017

Wajah Kenangan



Wajah Kenangan

Kenangan di wajah tenang
dan di baliknya bergejolak tak tentu
seperti badai arus air laut yang menggiling
berpusar menyerap berbagai yang terapung
atau tertulis dengan dingin puncak gunung
yang membekukan setiap kulit dan sendi
tapi membakar mengupas lapisan wajah
pedih dan panas merontokan ketombe
bagai abu terbangkan salju
dari puncak rindu

Mayoe
Yogyakarta, Desember 2017

Rabu, 06 Desember 2017

Di Kaki Bukit Kerinduan



Di Kaki Bukit Kerinduan 

Bagaimana akan kupertahankan kerinduan ini. Terlebih lagi mendaki ke puncak. Sementara baru sampai kaki-kaki bukit saja sudah dibuat menggigil dan hampir beku. Itu pun telah kutawar dengan menghisap kehangatan candu yang mengepulkan bayangmu. Barangkali kerinduanku tergantung di awan-awan itu, untuk sementara bertahan dari putih hingga menghitam pada ketinggian puncak takdirnya. Turun bersama kabut atau menjadi hujan dari genggaman malaikatnya. 

Betapapun, aku tetap melangkah. Walau malam, kabut yang rendah, udara yang basah, terperangkap beku menusuk gendang telinga, dengan suara-suara halus di kanan-kiri mengusik. Langkah demi langkah, perlahan nafas demi nafas, berjalan mendaki, punggung yang tegak berdukung, segungung-gunung beku kerinduanku. Melebat, jatuhkan gerai rambutku dengan basah di bahu. 

Dan aku berharap: sepoi angin hangat datang dari lautan Kasihsayangmu, mengirai rinduku yang basah, sehelai demi sehelai, dan menyelusup lalui bahu mencari beku atau sekedar dingin yang menggigil ini.

Mayoe 
Magelang, 6 Desember 2017

Selasa, 28 November 2017

Kuis Hadiah Maulid


Kuis Hadiah Maulid
Siang tadi Yu Kalis Mardiasih kirim pesan lewat WA. Memintaku untuk mengikuti kuisnya di FB. Langsung meluncur ke beranda Fbnya. Setelah terbaca habis, ku iyakan tawarannya. Mulai dari situ aku bingung, “Opo sing meh tak tulis.” Apa lagi tentang guru, ngaji pula. Kalau yang soal guru agama di sekolah, sama sekali tak menjadi hirauan. Sambil membaca berulang status kuis FB Yu Kalis Mardiasih, kok yang tertangkap masih saja ditekankan tetang ‘Guru’. “Gak ono sing lain tah!” Kesel juga dibuatnya berfikir. Belum lagi melihat buntut pertanyaan berikutnya: kesan, nasihat (konyol lagi!), sosok, sowan, pengaruh, hidup, dan sementara. Sedangkan definisi guru yang benar saja, belum dapat ku mengerti apalagi terpahami.
Karena pesan WA yang langsung merujuk ke status FB mu Yu, aku jadi inget simbah―ku kandung―pernah menyampaikan sesuatu. Kata simbahku, “Ko, bocah Setu Wage, wulan Besar, dina kepitu. Bocah lola, yatim ora duwe guru. Ko Santrine, Ko gurune. Ngelmumu seka jero atimu dewek. Arep teka ngendi baen Ko garep meguru, nyantri ora bakal ketemu ngelmu apa-apa. Kejaba Ko dewek sing mbukak ngelmune seka atimu. Banjur nganti teka ning laku uripmu.” Simbah menutup nasihat itu dengan komat-kamit membaca Shalawat Nabi SAW. Aku hanya melongo. Sambil dalam hati “Mugi syafaat saking shalawat sing diwaos simbah, netes teng lambe kulo sing nduwer lan mlongo niki, duh Gusti.
Sekarang aku bertanya, Yu Kalis―tuan atas kuis ini. Masihkah aku masuk kategori untuk mengikuti kuis mu ini? Jika guruku tak terhitung. Terlebih yang hidup dan menghidupkan Maulid, Nuzulul Quran, Isra dan Mi'raj, Hijrah, Satu Muharram, Karbala, Idul Adha de el el itu. Tak terhingga lagi yang menghela dan hembuskan nafas hidupnya dengan Shalawat-shalawat Nabi. Panjang ataupun pendek, mereka gantunggkan di tali syafaat Nabi kekasih Alloh itu. Putus tali itu, putuslah nafasnya. Maka hidup―yang katamu sementara ini―bagi mereka adalah gantung-gemantung penuh kewaspadaan belaka. Bukan waspada pada hal lain, tapi pada nafas mereka sendiri. Kalau-kalau putus dari tali syafaat.
Tali yang kata simbahku, “Sayfaat kue, taline lembut ora karuan. Kaya dene rambut sak ler disigar pitu. Sak sigare kue sing dadi galengan sawah kanggo awake dewek nyabrang marang kersane Gusti.
Jadi Yu; guruku belum sempat kuketahui, selain daripada sampainya takdir yang diutus Gusti Alloh menemani hidup―yang katamu sementara ini. Ia (takdir) menemani hidup dengan penuh rahmatNYA. Dan Ia duduk persis di samping Rosululloh SAW. Hingga dengannya sampailah rahmat bagi alam semesta. Dan terang, cakrawala bagi mata kita yang lebih sering gelap memandang sesuatunya.
Guru yang belum sempat kuketahui itu, tidak sekedar mengerti, paham, mencontohkan, membimbing, menemani, memberi dukungan dan dorongan. Tapi juga menguasai penuh atas diri. Bahkan perlu sekali mengharuskan diri untuk mengabdi. Tak peduli diakui atau tidak, diterima atau tidak. Diri harus gila dan semabuk-mabuknya berupaya mengabdi. Dan tak ada jalan yang lebih baik, selain daripada yang pernah dilakukan seumur hidup oleh seorang yatim sejak dalam kandungan, lalu menjadi piatu saat usianya baru lepas balita. Keyatim-piatuannya itulah salah satu mata pelajaran dari ilmu yang diberi gurunya langsung saat hatinya mulai dibuka dengan kesucian.
Shollu 'alan nabi, Yu.

Mayoe

Yogyakarta, November 2017

Gorengan Bunga-bunga Manis Itu

Gorengan Bunga-bunga Manis Itu

Sepiring, kau suguhi aku; beberapa mendoan, bakwan dan pisang goreng itu. Lantas kau: kok cuma mendoan sama bakwan aja mas. Aku sudah memastikan, pisang itu rasanya tidak berbeda dengan mendoan dan bakwan. Dan kau: beda mas, itu aku sendiri yang goreng. Justru karena itu, kataku. Manisnya seketika layu sejak kau berfikir jamuan untukku. Sambil kulirik sudut matamu: kau rampas semua manis dari sari bunga-bunga hingga cita buah-buahan, juga dengan pisang goreng itu. Mas! Katamu menyipu kemerahan pipi. Dan: sepanjang jalan bunga di taman dan tepi-tepi jalannya, sekarang tumpah di rekah senyummu yang bersipu itu.


Mayoe, November 2017

Biji-biji Sepi

Biji-biji Sepi


Kau tahu, bagaimana kopi merajut sepi? Dirosting dengan bara api kerinduan, menguapkan kandungan cinta yang berlebihan. Kering, dan menghitam serupa arang tanpa pernah membara. Hingga benar-benar renyah ditumbuk, kehalusan bisu menyimpan serbuk kenangan dalam toples-toples memori yang berbaris. Sesendok takar diolah dengan berbagai cara, seduh, didih, uap, suling menjadi cairan hitam kemerahan kaya rasa. Dituang dari hati, menggenang di cangkir. Menguapkan aroma dan rasa yang membangkitkan syaraf-syaraf kenangan dalam ketenangan berfikir. 

Lantas bangkit gairah, membuka mata menembus kehitaman permukaan cangkir yang sedang hangat mengepul. Sesesap hukum bernouli membawa fluida hitam panas melalui padang rasa yang mengecap-kecapkan setiap partikel kenangan. Dan membubung ke angkasa bersama awan-awan koloidal yang memancarkan seberkas mentari diantara sisa hujan yang tak tuntas. Menari, melompat ke sana ke mari, mencari susunan pelangi. Dengan tinta di genggaman penanya, merangkai susunan warna dengan kata yang tak pernah sampai di udara. 

Sore ini, bersama sisa hujan, kurangkai biji-biji sepi yang hitam tanpa pernah membara ke dalam cangkir kenangan. Tak ada suatu harapan, selain dari legam ketenangan dalam dada. Hangatnya mencairkan dingin buah fikir, lalu menguap bersama aroma dan rasa. Menjadikannya warna-warni di langit malam, menguwung rembulan dengan cerah wajahmu. 

Selasa, 21 November 2017

Kramas Rindu

Kramas Rindu

Kau perempuan, tahu bagaimana masalah yang dihadapi memanjangkan rambut. Gatal-gatal, mudah patah, rontok, kusut dan bau. Itu karena, lama tak dikramas dengan sampo dan dirapikan dengan conditioner. Kau biarkan begitu, serupalah kau dengan orang gila.

Juga aku, lelaki seorang ini, tau bagaimana masalah yang dihadapi memanjangkan rindu. Gatal-gatal, mudah patah, rontok, kusut dan bau. Itu karena, lama tak dikramas dengan kabar dan dirapikan dengan pertemuan. Ku biarkan begitu, serupalah aku dengan orang gila.


Mayoe, 2017